News & Research

Reader

HK Infrastruktur Siap IPO Rp 2 Triliun
Saturday, April 17, 2021       10:41 WIB

investor.id - PT Hutama Karya (Persero) menargetkan anak usahanya, PT HK Infrastruktur (HKI) menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham pada akhir tahun ini. Perseroan menargetkan perolehan dana sebesar Rp 2 triliun.
Direktur Utama Hutama Karya Budi Harto mengatakan, setelah IPO HK Infrastruktur, perseroan juga akan mengantarkan dua anak usaha lainnya menjadi perusahaan publik. Pihaknya menargetkan, Hakaaston (HKA) bisa IPO pada 2022 dan PT HK Realtindo melakukan IPO pada 2023.
HK Infrastruktur menjadi yang pertama IPO, semoga bisa dapat Rp 2 triliun, sehingga dananya bisa untuk mengembangkan proyek-proyek infrastruktur untuk lebih maju lagi," kata dia saat webinar, Jumat (16/4). Sebagai informasi, HK Infrastruktur didirikan pada 2015 sebagai salah satu bagian dari agenda transformasi Hutama Karya, setelah Hutama Karya mendapatkan penugasan dari pemerintah untuk mengembangkan Jalan Tol Trans-Sumatera. Selain mengerjakan beberapa proyek di jalan tol Trans-Sumatera, HK Infrastruktur juga menggarap proyek strategis lainnya seperti jalan tol Cinere-Jagorawi dan jalan tol Mojokerto-Kertosono.
Sementara itu, Hakaaston berdiri pada 2010. Anak usaha ini melakukan penetrasi ke pasar yang selama ini tidak dijamah oleh Hutama Karya, yaitu manufaktur. Hakaaston menghasilkan berbagai produk manufaktur seperti aspal beton, aspal emulsi, agregat fondasi kelas A dan B, serta rock burst untuk concrete mix.
Hakaaston tercatat memiliki pabrik yang secara khusus menghasilkan produk-produk beton precast. Salah satu pabrik precast perseroan terletak di Bojonegara, Cilegon yang hingga kini mendukung kebutuhan precast untuk pembangunan Jalan Tol Trans-Sumatera.
Lebih lanjut, HK Realtindo semula merupakan pengembangan dari divisi properti Hutama Karya. Anak usaha ini berdiri pada 2010, dan terus menghasilkan produk unggulan seperti H Tower Rasuna Said, H Residence MT Haryono, dan Kubika Homy BSD.
Selain mengantar tiga anak usahanya IPO, Hutama Karya tetap fokus menjaga neraca keuangan, khususnya berupaya mengurangi beban utang. Hal ini membuat perseroan mencari sumber-sumber pendanaan eksternal yang masih memiliki biaya rendah. Salah satu, sumber pendanaan tersebut adalah obligasi global.
Saat ini, Hutama Karya masih memiliki sisa plafon global bond sekitar US$ 900 juta dari total program global medium term notes ( GMTN ) US$ 1,5 miliar. Tahun lalu, perseroan berhasil menjaring minat investor luar negeri untuk penerbitan global bond perdana senilai US$ 600 juta.
Wakil Direktur Utama Hutama Karya Aloysius Kiik Ro mengatakan, perseroan masih mencermati kondisi pasar pada tahun ini dan tahun depan untuk penerbitan global bond selanjutnya. Pihaknya juga menunggu realisasi tambahan Penyertaan Modal Negara (PMN) dari pemerintah.
"Kami ingin target-target proyek dapat tercapai, dan neraca tetap sehat, jadi kita lihat kondisinya dulu atau tidak buru-buru launching penawaran global bond sekarang," kata dia.
Fitch Ratings
Sementara itu, lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings mengafirmasi peringkat Hutama Karya pada BBB- dengan prospek stabil. Fitch juga menegaskan kembali peringkat global bond Hutama Karya senilai US$ 600 juta pada level BBB. Peringkat tersebut mencerminkan pandangan Fitch Ratings mengenai posisi strategis Hutama Karya bagi program pembangunan infrastruktur pemerintah Indonesia, termasuk jalan tol Sumatera.
Fitch menilai status Hutama Karya sebagai satu-satunya perusahaan konstruksi yang sepenuhnya dimiliki oleh pemerintah, yang mengontrol keputusan investasi, strategi dan operasi serta mengawasi secara ketat dewan direksi dan dewan komisaris perseroan.
"Pemerintah terus memberikan dukungan nyata melalui suntikan ekuitas, sekuritisasi aset, dan dukungan konstruksi untuk mendukung pertumbuhan kontrak dan investasi jalan tol Hutama Karya," tulis Fitch, baru-baru ini.
Pada 2020, Fitch mencatat pemerintah Indonesia menyuntikkan sekitar Rp 11 triliun ke ekuitas Hutama Karya, atau lebih tinggi dari ekspektasi awal Fitch sebesar Rp 3,5 triliun. Dukungan pemerintah pun diperkirakan terus berlanjut.
Fitch optimistis, volume kontrak baru Hutama Karya akan meningkat pada 2021 karena banyak proyek infrastruktur yang ditender dibanding 2020. Kontrak baru Hutama Karya pada 2020 hanya sebesar Rp13 triliun. Realisasi tersebut dibawah ekspektasi Fitch yang sebanyak Rp 18 triliun.
Sumber : Investor Daily

powered by: IPOTNEWS.COM