News & Research

Reader

Mengapa Investor Harus Optimis terhadap Prospek Ekonomi Global?
Tuesday, September 22, 2020       18:17 WIB

Ipotnews - Mungkin diperlukan lompatan keyakinan selama beberapa bulan ke depan, tetapi dunia memiliki peluang yang lebih baik selain berjuang untuk mengalahkan pandemi virus korona dan mendapatkan kembali pemulihan yang berkelanjutan.
Menurut David Brown, kepala eksekutif New View Economics, risiko yang cukup besar tetap ada hingga lebih dari 40 hari lagi sampai pemilihan presiden AS dan dunia menunggu vaksin yang layak untuk didistribusikan. Namun tahapan tersebut tampaknya merupakan awal untuk pemulihan ekonomi besar-besaran.
Serangkaian stimulus moneter dan fiskal baru sedang berproses, peningkatan bisnis global sudah mulai berlangsung dan minat terhadap aset berisiko untuk sementara mulai meningkat kembali. "Mungkin masih datang dan pergi, tetapi jika dunia bisa menghindar dari gelombang kedua penguncian, dan AS dan China dapat dengan cepat menyelesaikan perbedaan mereka dalam perdagangan, ada banyak alasan untuk tetap optimis untuk masa depan," tulis Brown dalam kolomnya di laman South China Morning Post, Senin (21/9).
Para peramal sangat berharap bahwa ekonomi global dapat membaik pada tahun 2021. Dana Moneter Internasional memproyeksikan bahwa pertumbuhan global dapat bangkit kembali cukup tajam sebesar 5,4 persen pada tahun 2021 setelah kemungkinan kontraksi 4,9 persen tahun ini, dengan catatan hanya jika kondisi global tidak banyak berubah.
"Itu berarti kebijakan ekonomi global harus bertahan dalam mode  super-easing  untuk jangka waktu yang sangat lama demi mengatasi dampak dari pandemi. Suku bunga global akan terus menurun dan lebih banyak stimulus fiskal yang diperlukan untuk mengisi kesenjangan permintaan dan mendorong pemulihan investasi sisi penawaran global," imbuuh Brown.
Sementara itu, Federal Reserve AS telah berkomitmen untuk mempertahankan suku bunga mendekati nol hingga 2023 demi mendorong pertumbuhan. Namun The Fed menolak seruan untuk mendorong suku bunga ke wilayah di bawah nol, dengan pertimbangan berisiko menimbulkan kerusakan pada tabungan konsumen dan neraca bank AS. Risiko inflasi yang lebih tinggi masih tetap rendah dengan Indeks Harga Konsumen inti untuk bulan Agustus berada di kisaran 1,3 persen, tetapi The Fed masih memiliki kewajiban untuk berhati-hati menghindari lonjakan harga atau gelembung pasar harga.
Menurut Brown, The Fed masih bisa menunggu kucuran stimulus fiskal dari pemerintah AS ke dalam perekonomian. Pandemi virus korona telah mendorong defisit anggaran federal AS ke rekor USD3 triliun untuk 11 bulan pertama tahun keuangan 2020, hampir tiga kali lebih besar dari defisit USD1,067 triliun untuk periode yang sama tahun lalu.
Brown berpendapat, semua sinyal menunjukkan bahwa stimulus tersebut bekerja. Kondisi ketenagakerjaan AS bangkit kembali dengan tingkat pengangguran turun lebih cepat dari yang diharapkan, menjadi 8,4 persen pada Agustus dari puncak 14,7 persen di April.
Meski "optimisme konsumen merosot, tetapi kepercayaan bisnis membuat kemajuan yang baik setelah indeks manajer pembelian (PMI) Institute for Supply Management naik menjadi 56 pada bulan Agustus, jauh ke wilayah pertumbuhan positif dan nyaman di atas titik terendah 41,5 akibat Covid-19 pada April lalu," ungkap Brown.
Produksi pabrikan AS juga meningkat untuk empat bulan berturut-turut, naik 1 persen pada Agustus setelah naik 3,9 persen pada Juli. "Tetapi dengan output manufaktur yang masih turun 6,7 persen dari puncak sebelum Covid-19 pada Februari lalu, ada pendapat agar lebih banyak dukungan ekonomi," Brown menambahkan.
Selain itu, Brown memandang adanya perluasan dampak stimulus global. Aktivitas bisnis telah melonjak kembali ke wilayah pertumbuhan positif di banyak negara berkembang utama dalam beberapa bulan terakhir. Tidak terkecuali Brasil yang mencatatkan lonjakan PMI versi IHS Markit PMI ke level 64,7 pada bulan Agustus. Anga tersebut jauh di atas garis batas kontraksi-apresiasi di level 50, sekaligus menandai pemulihan yang signifikan dari posisi terendah 36 pada April lalu.
Walapun momentum pemulihan sektor manufaktur China tampak melambat dalam beberapa bulan terakhir, menurut Biro Statistik Nasional, yang ditunjukkan oleh angka PMI resmi yang mendatar di sekitar 51 pada bulan Juli dan Agustus. Tapi, "Ini bukan alasan untuk khawatir tetapi mungkin menjadi seruan untuk membangunkan Beijing agar menyuntikkan percepatan ekstra ke dalam perekonomian dalam beberapa bulan ke depan," papar Brown.
Ia juga menekankan peran kunci pasar saham yang lebih kuat mendorong dalam proses pemulihan. Lonjakan harga ekuitas global sejak mencapai posisi terendah pada Maret lalu telah membantu meningkatkan kepercayaan konsumen karena persepsi kekayaan finansial meningkat.
Brown mengingatkan bahwa minat berinvestasi telah mencapai titik kritis pada Agustus lalu. Survei dana global dari Reuters menunjukkan bahwa bobot kepemilikan portofolio ekuitas relatif di bawah obligasi. "Rotasi hebat dari perdagangan obligasi menjadi saham sudah lama ditunggu, tetapi akan terjadi ketika ketakutan  safe-haven  mereda."
"Stimulus kebijakan global membuat perbedaan, ketegangan perdagangan pada akhirnya akan mereda, dan dunia akan pulih dari pandemi. Jika pembuat kebijakan melakukannya dengan benar, 2021 seharusnya menjadi tahun ketika dunia kembali ke keadaan normal yang lebih baik." ( SCMP ).

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM


Berita Terbaru

Thursday, Oct 22, 2020 - 11:07 WIB
Agenda RUPS LB Emiten Pekan Depan: Dari Reverse Stock Hingga Rights Issue 
Thursday, Oct 22, 2020 - 10:52 WIB
Impack Pratama Industri (IMPC) tebar dividen interim Rp 48,33 miliar, simak jadwalnya
Thursday, Oct 22, 2020 - 10:47 WIB
MGRO Fokus Naikkan Produksi CPO Hingga 8 Persen Tahun Ini
Thursday, Oct 22, 2020 - 10:39 WIB
Target Price BBCA
Thursday, Oct 22, 2020 - 10:39 WIB
Target Price BBNI
Thursday, Oct 22, 2020 - 10:38 WIB
Target Price BBRI
Thursday, Oct 22, 2020 - 10:37 WIB
Target Price BBTN
Thursday, Oct 22, 2020 - 10:37 WIB
Target Price BMRI
Thursday, Oct 22, 2020 - 10:36 WIB
Target Price INCO
Thursday, Oct 22, 2020 - 10:35 WIB
Target Price KLBF