News & Research

Reader

Pengetatan Pasokan Kembali Jadi Fokus Pasar, Minyak Berjangka Menguat
Monday, October 02, 2023       14:36 WIB

Ipotnews - Harga minyak menguat, Senin, memulihkan sebagian kerugian yang diderita pada akhir pekan lalu, karena investor fokus pada prospek pasokan global yang ketat, sementara kesepakatan di menit-menit terakhir yang menghindari government shutdown Amerika memulihkan selera risiko.
Minyak mentah berjangka Brent untuk kontrak pengiriman Desember, patokan internasional, naik 32 sen, atau 0,35%, menjadi USD92,52 per barel pada pukul 14.16 WIB setelah merosot 90 sen pada penutupan Jumat, demikian laporan  Reuters,  di Tokyo, Senin (2/10).
Minyak mentah Brent untuk pengiriman November melemah 7 sen menjadi USD95,31 per barel pada berakhirnya kontrak tersebut, Jumat.
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate, bertambah 38 sen, atau 0,42%, menjadi USD91,17 per barel, setelah menyusut 92 sen pada sesi Jumat.
Kedua patokan minyak tersebut meroket hampir 30% pada kuartal ketiga di tengah perkiraan defisit pasokan minyak mentah yang besar sepanjang Oktober-Desember setelah Arab Saudi dan Rusia memperpanjang pemotongan output tambahan hingga akhir tahun.
Organisasi Negara Eksportir Minyak ( OPEC ) bersama Rusia dan sekutu lainnya, atau OPEC +, kemungkinan tidak akan mengubah kebijakan produksi minyak saat ini ketika panel yang mengadakan pertemuan Joint Ministerial Monitoring Committee, Rabu, ungkap narasumber OPEC + kepada  Reuters,  karena semakin ketatnya pasokan dan meningkatnya permintaan mendorong reli harga minyak.
"Harga minyak memulai minggu ini dengan catatan yang kuat di tengah kekhawatiran pasokan dan ekspektasi tidak adanya perubahan kebijakan OPEC +, sementara penghindaran government shutdown Amerika, akhir pekan lalu, memberikan sedikit kelegaan," kata Hiroyuki Kikukawa, Presiden NS Trading.
"Tetap saja, naik atau tidaknya pasar akan bergantung pada tren permintaan di masa depan."
Meski OPEC + diperkirakan tidak akan mengubah kebijakan produksinya mengingat penguatan pasar baru-baru ini, Arab Saudi dapat mulai mengurangi tambahan pengurangan pasokan sukarela sebesar 1 juta barel per hari, kata analis ING, Senin.
"Saudi mengatakan masih ada kekhawatiran terhadap permintaan China. Namun, data PMI yang dirilis akhir pekan lalu akan memberikan keyakinan dengan PMI manufaktur China yang kembali ke wilayah ekspansi pada September untuk pertama kalinya sejak Maret."
Data resmi yang dirilis Sabtu menunjukkan aktivitas pabrik China meningkat untuk pertama kalinya dalam enam bulan pada September, menambah serangkaian indikator yang menunjukkan perekonomian terbesar kedua di dunia tersebut mulai stabil.
Namun, survei sektor swasta yang diumumkan Minggu kurang menggembirakan, menunjukkan aktivitas pabrik di negara tersebut berkembang lebih lambat sepanjang bulan lalu.
Memang benar, pemulihan ekonomi China terhambat oleh kejatuhan sektor properti, penurunan ekspor, dan tingginya pengangguran kaum muda, sehingga meningkatkan kekhawatiran akan melemahnya permintaan bahan bakar.
Di tempat lain, keputusan di menit-menit terakhir oleh Ketua DPR dari Partai Republik, Kevin McCarthy, yang meminta Partai Demokrat untuk meloloskan rancangan undang-undang pendanaan jangka pendek mendorong risiko penutupan hingga pertengahan November, yang berarti lebih dari 4 juta pekerja di pemerintah federal Amerika bisa mengandalkan gaji yang berkelanjutan untuk saat ini.
Memperkuat kekhawatiran pasokan, jumlah rig minyak dan gas Amerika, yang merupakan indikator awal produksi di masa depan, turun tujuh menjadi 623 dalam minggu yang berakhir hingga 29 September, terendah sejak Februari 2022, tutur perusahaan jasa energi Baker Hughes, Jumat.
Brent diperkirakan rata-rata USD89,85 per barel pada kuartal keempat dan USD86,45 pada 2024, menurut survei terhadap 42 ekonom yang dikumpulkan  Reuters , Jumat. (ef)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM