News & Research

Reader

Reksadana Konvensional vs Reksadana Bursa (Exchange Traded Fund)
Tuesday, February 15, 2022       14:30 WIB

Pada artikel sebelumnya yang berjudul Mengapa Kinerja Reksadana Konvensional Sulit Sekali Mengalahkan Kinerja Indeks Acuannya(Setelah Memperhitungkan Biaya-Biaya)?, kami telah mengajukan tiga hal yang menjadi penyebab utamanya.
Pertama, biaya-biaya investasi reksadana konvensional yang sangat tinggi, dibandingkan dengan angka indeks yang bebas biaya (indeks acuan bukanlah asset yang dapat diinvestasikan oleh pemodal. Tetapi pemodal dapat berinvestasi pada reksadana indeks atau reksadana ETF pasif yang mengacu pada indeks tersebut untuk mendapatkan kinerja setara dengan kinerja indeks).
Kedua, berinvestasi adalah  zero sum game , artinya keuntungan ( gain ) dari seorang pemodal merupakan kerugian (loss) dari seseorang atau beberapa orang pemodal.
Ketiga, teorema pasar modal yang efisien ( efficient market theory ) berlaku, yang berarti bahwa penulis telah menganggap bahwa pasar modal di Indonesia telah cukup efisien sehingga harga-harga dari efek-efek yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan langsung merefleksikan semua informasi yang terkait dengan efek-efek tersebut.
Dari ketiga hal di atas, dalam menjawab pertanyaan "Mengapa Kinerja Reksadana Konvensional Sulit Sekali Mengalahkan Kinerja Indeks Acuannya (setelah memperhitungkan biaya-biaya)", faktor pertama yaitu biaya-biaya reksadana konvensional yang sangat tinggi, tidak terbantahkan lagi merupakan faktor yang sangat penting dan mudah dimengerti oleh kebanyakan pemodal.
Walaupun demikian, tidak mudah untuk meyakinkan para pemodal untuk mengalihkan investasinya ke reksadana indeks (atau reksadana Bursa) semata-mata karena alasan biaya. "Berinvestasi butuh biaya," sering kita dengar pemodal mengatakan itu. "Kalau ingin mendapatkan investasi (atau nasehat investasi) yang berkualitas, maka harus siap sedia membayar "gaji" manajer investasi, riset analis, dan tenaga administrasinya," adalah ungkapan lain yang sering kita dengar.
Demikian juga dengan faktor ke dua, bahwa berinvestasi merupakan  zero sum game , namun tidak menyurutkan minat pemodal untuk beramai-ramai mempercayakan uang miliknya kepada Manajer Investasi pilihannya. Bahwa investasi merupakan  zero sum game  barangkali merupakan titik sentral dari argumen bahwa Manajer Investasi reksadana konvensional akan sangat sulit untuk mengalahkan indeks acuannya (setelah dipotong biaya-biaya), secara konsiten atau terus menerus.
Pada awal mula perkembangan industri reksadana, terdapat banyak pemodal individu (ritel) yang berinvestasi di pasar tidak secara sistematis, sementara "lawan" mereka di pasar adalah para Manajer Investasi yang didukung oleh tenaga riset analis dan administrasi investasi yang handal. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa para pemodal individu itu tidak memiliki harapan ( no chance ) untuk mengalahkan Manajer Investasi profesional.
Tetapi kondisi industri investasi saat ini telah banyak berubah, di mana nilai AUM ( Aset Under Management ) reksadana telah mencapai puluhan triliun rupiah, dan dana itu berasal dari para pemodal individu (ritel). Saat ini, dana yang berasal dari pemodal individu (ritel) makin sedikit karena pemodal individu banyak yang telah bergabung dengan Manajer Investasi reksadana dengan cara berinvestasi pada unit penyertaan reksadana.
Lalu, bagaimanakah cara seorang Manajer Investasi reksadana aktif dapat menunjukkan kinerja portofolio di atas kinerja indeks? Kinerja Manajer Investasi reksadana dituntut untuk harus berada di atas kinerja indeks acuannya, dan juga berada di atas kinerja Manajer Investasi lainnya. Pada situasi persaingan yang semakin ketat, seorang Manajer Investasi akan "bertarung" menghadapi Manajer Investasi yang lainnya.
Sulit untuk dibayangkan bahwa seorang Manajer Investasi akan terus menerus secara konsisten mendapatkan keuntungan ( gain ). Itu berarti selalu ada satu atau beberapa Manajer Investasi lain yang akan mengalami kerugian ( loss ) dalam transaksi pengelolaan portofolio.
Bahwa investasi merupakan  zero sum game , tidak ditentukan oleh kondisi pasar modal itu sendiri.  Zero sum game  merupakan sifat asli ( nature ) dari setiap tindakan berinvestasi di pasar modal (dan pasar-pasar lainnya).
Pasar modal negara berkembang ( emerging market ), dan pasar untuk saham-saham berkapitalisasi kecil ( small capitalization stock ), sering diasosiasikan dengan pasar yang tidak efisien, dalam arti bahwa informasi-informasi yang masuk ke pasar tidak secara langsung terefleksi ke dalam harga efek-efek yang dijual di pasar itu.
Manajer Investasi, di pasar yang tidak efisien, seringkali dapat memanfaatkan situasi ini untuk memperoleh keuntungan. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa prinsip  zero sum game  tidak berlaku.
Faktor ketiga yang berusaha menjawab mengapa kinerja Manajer Investasi reksadana konvensional sulit sekali mengalahkan kinerja indeks acuannya (setelah memperhitungkan biaya-biaya), adalah bahwa kondisi pasar modal kita saat ini yang sudah memenuhi teori pasar modal yang efisien ( efficient market theory ).
Perlu dicatat di sini bahwa indeks adalah suatu angka yang dihitung oleh penyelenggara pasar (atau pihak lainnya), berdasarkan harga terakhir saham-saham yang menjadi konstituen indeks tersebut. Jika suatu saham, yang merupakan konstituen indeks, membagikan dividen kepada para pemegang saham, maka angka indeks secara teoritis akan berkurang sebesar dividen yang dibayarkan (rata-rata tertimbang dividen yang dibayarkan).
Sebaliknya, bagi Manajer Investasi reksadana yang mengelola portofolio saham-saham yang mengacu ke indeks tersebut, pembagian dividen dari saham-saham konstituen akan diterima oleh portofolio dan menambah AUM (Asset Under Management). Oleh karena itu, jika dividen yang dibagi cukup besar, maka seharusnya Manajer Investasi reksadana diuntungkan (unggul) karena kinerja reksadana terlihat lebih baik dibanding kinerja indeks.
Teori pasar modal yang efisien ( efficient market hypothesis ) merupakan salah satu teori dalam ilmu finance (Efficient Market Theory pertama kali diajukan oleh Eugene Fama pada tahun 1970) yang banyak pengikutnya ( proponent ) maupun penentangnya ( opponent ) dan berkaitan erat dengan perdebatan Teknik Pengelolaan Dana: Aktif Strategi vs Pasif Strategi.
Pendukung teori pasar modal efisien sering mengajukan teori dan bukti-bukti empiris bahwa pasar modal telah efisien, sementara penentang teori ini juga mengajukan bukti-bukti bahwa pasar modal tidaklah efisien. Salah satu bukti yang sering diajukan oleh penentang ( opponent ) teori pasar modal yang efisien adalah adanya pemodal seperti Warren Buffet yang terbukti secara konsisten dapat mengalahkan indeks harga saham.
Walaupun keberadaan pemodal sekaliber Warren Buffet adalah kenyataan yang tidak dapat dibantah, menurut penulis, kita harus menerima teori dan argumen bahwa pasar modal kita telah cukup efisien - kecuali reksadana kita dikelola oleh Warren Buffet.
Adalah kenyataan yang tidak dapat dibantah bahwa mengalahkan pasar ( beating the market ), yaitu IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) atau LQ45 (45 saham paling likuid) secara konsisten atau terus menerus sangatlah sulit, kecuali kita mengambil resiko yang lebih besar daripada resiko pasar (misalnya tidak melakukan diversifikasi).
Tetapi demikianlah sifat manusia, tidak mudah menyerah sebelum membuktikan sendiri. Tidak ada orang yang akan menyangkal bahwa melakukan operasi bedah otak sangatlah rumit, dan orang tidak akan sembarangan mempercayakan dokternya untuk melakukan operasi bedah otak.
Namun dalam kasus investasi, seorang pemodal atau seorang Manajer Investasi, tetap percaya bahwa saham-saham pilihannya akan mengalahkan indeks acuannya (setelah memperhitungkan biaya-biaya), sampai ia membuktikan sebaliknya bahwa ia telah gagal.
Untuk membuktikan bahwa para pemodal lebih memilih reksadana indeks atau ETF dibanding reksadana konvensional yang dikelola secara aktif, kita dapat mengambil contoh kondisi di AS. Jumlah dana kelolaan baru ( new fund ) yang masuk ( inflow ) ke dalam ETF saham (92% ETF di AS bersifat pasif) di AS saat ini, telah lebih besar daripada dana kelolaan baru ( new fund ) yang masuk ke dalam reksadana konvensional yang dikelola secara aktif.
Memang, besarnya dana yang dikelola oleh reksadana konvensional masih jauh lebih besar (dua berbanding satu) dibanding jumlah dana yang dikelola reksadana bursa (ETF). Namun perlu diingat bahwa ETF di AS baru diperkenalkan tahun 1993, sementara reksadana konvensional sudah ada di AS selama hampir 100 tahun (Massachuset's Investors Trust tahun 1924).
 Oleh: Fredy Sumendap, CFA 

Sumber : IPS

powered by: IPOTNEWS.COM


Berita Terbaru

Wednesday, Nov 30, 2022 - 19:31 WIB
Financial Statements 3Q 2022 of MEDC
Wednesday, Nov 30, 2022 - 19:26 WIB
Financial Statements 3Q 2022 of ICBP
Wednesday, Nov 30, 2022 - 19:23 WIB
Financial Statements 3Q 2022 of INDF
Wednesday, Nov 30, 2022 - 18:48 WIB
Perubahan Kepemilikan Saham PEHA
Wednesday, Nov 30, 2022 - 18:46 WIB
Perubahan Kepemilikan Saham SRTG
Wednesday, Nov 30, 2022 - 18:44 WIB
Kinerja Keuangan BOSS 3Q 2022
Wednesday, Nov 30, 2022 - 18:42 WIB
Kinerja Keuangan UFOE 3Q 2022
Wednesday, Nov 30, 2022 - 18:38 WIB
Perubahan Kepemilikan Saham BBYB
Wednesday, Nov 30, 2022 - 18:36 WIB
Kinerja Keuangan DMND 3Q 2022
Wednesday, Nov 30, 2022 - 18:34 WIB
Kinerja Keuangan ERTX 3Q 2022