News & Research

Reader

Suku Bunga Rendah Akan Tahan Pemulihan Mata Uang EM, Sentimen Pasar Berisiko Berbalik
Friday, August 14, 2020       16:38 WIB

Ipotnews - Pemotongan suku bunga secara drastis oleh bank sentral di  emerging market  (EM) akan menahan laju penguatan mata uang di negara-negara itu karena sentimen pasar risiko berbalik kembali ke perekonomian global.
Suku bunga di negara-negara Indonesia hingga Brasil - beberapa diantaranya sudah mencapai atau mendekati rekor terendah selama mengalami krisis - didorong lebih rendah lagi karena pembuat kebijakan moneter di EM harus bertindak cepat untuk mengurangi pukulan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Langkah tersebut telah mengurangi perbedaan tingkat bunga yang secara historis paling lebar dengan di pasar negara maju.
Akibatnya, batas antara kelas aset menjadi kabur. " Emerging market  sudah menjadi semakin mirip dengan pasar negara maju," kata Wim Vandenhoeck, manajer portofolio senior di perusahaan pengelolaan aset Invesco.
Francesca Fornasari, kepala solusi mata uang di Insight Investment Investor mengatakan, saat ini investor terpaksa menerima kompensasi yang lebih sedikit dari sebelumnya, untuk risiko yang lebih tinggi dan pola perdagangan mata uang EM yang lebih tidak stabil. "Ini akan membatasi keuntungan mata uang EMi dari melemahnya dolar," ujarnya, seperti dikutip The Financial Times, Jumat (14/8).
"Meskipun dolar akan menderita ketika pertumbuhan global  rebound  ... keuntungan bagi EM dari kenaikan global kemungkinan akan lebih lemah dibandingkan siklus sebelumnya," Fornasari menambahkan.
Di masa lalu, banyak bank sentral EM yang mempertahankan suku bunga tinggi untuk membantu mendanai defisit neraca berjalan mereka. Suku bunga acuan yang lebih tinggi membuat mata uang mereka lebih menarik bagi investor, menopang nilai tukar dan membantu menjaga inflasi tetap terkendali.
Namun pandemi memaksa pembuat kebijakan untuk mengatur kembali prioritasnya, ketika dunia melakukan penguncian dan perdagangan global terganggu. Krisis ekonomi memaksa para gubernur bank sentral untuk fokus menggenjot permintaan domestik dengan menurunkan suku bunga.
Banyak bank sentral EM juga meluncurkan program pembelian obligasi untuk mendukung pasar obligasi negara - langkah yang dipuji oleh para ahli strategi sebagai penanda perubahan mendasar dalam kebijakan moneter.
Sejauh ini, investor tampaknya menyetujui pergeseran tersebut, kata Athanasios Vamvakidis, analis mata uang di Bank of America. Ia mencatat bahwa ekspektasi inflasi tetap stabil atau menurun setelah awal guncangan pandemi.
Tapi kemungkinan akan ada biaya jangka panjang. "Masalah yang membayangi banyak mata uang EM adalah apakah tindakan bank sentral mereka yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan memangkas suku bunga, menyuntikkan likuiditas dan memperluas neraca, pada akhirnya akan mengarah pada devaluasi valuta asing," kata Vamvakidis.
Kamakshya Trivedi, analis mata uang di Goldman Sachs, berpendapat, "respon kebijakan moneter  dovish  yang terus berlanjut ... berarti bahwa respon mata uang EM terhadap latar belakang makro 'yang ramah EM' dapat merusak apa yang telah umum terjadi dalam beberapa tahun terakhir."
Mata uang EM jatuh bersamaan dengan aksi jual brutal pasar ekuitas global Maret lalu, karena investor memburu uang tunai atau utang pemerintah yang aman. Sejak itu, indeks ekuitas acuan telah mendapatkan kembali posisinya untuk mencapai atau mendekati rekor tertinggi, sementara itu dolar melemah karena investor kembali bertaruh di aset yang lebih berisiko.
Pada 2020  greenback  turun 3,3 persen terhadap sekeranjang mata uang negara maju lainnya. Tetapi mata uang EM - yang diukur oleh indeks acuan MSCI - tahun ini juga turun sebesar 3,2 persen, meskipun mengalami  rebound  yang cukup kuat sejak krisis. Real Brasil dan peso Meksiko masih jauh di bawah nilai awal tahun 2020, dan tidak jauh dari posisi terendah bersejarah.
Suku bunga bukan satu-satunya alasan yang diberikan para ahli strategi tentang mengapa mata uang EM tidak menguat lebih tinggi dari jatuhnya dolar. Analis Barclays mengatakan, mereka mempertahankan  outlook  hati-hati, terutama karena perekonomian berjuang di tengah kenaikan tingkat infeksi virus korona sementara risiko politik dalam beberapa kasus tetap tinggi.
Satu kekhawatiran besar adalah utang. Angka Institute of International Finance menunjukkan, proporsi gabungan pinjaman pemerintah di seluruh perekonomian EM terhadap outputnya adalah sekitar 53 persen sebelum krisis Covid. Angka ini terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. IMF memperingatkan, gelombang kedua infeksi massal dapat menjerumuskan ekonomi EM ke dalam krisis utang.
"Sangat mungkin bahwa selama beberapa tahun ke depan kita akan menyaksikan penurunan peringkat yang berkelanjutan karena lembaga pemeringkat akan menyerap kemerosotan lebih lanjut ke dalam dinamika utang yang mungkin terjadi," ujar Fornasari. (The Financial Times)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM