News & Research

Reader

Tingkat Keuntungan Perusahaan Asia di Posisi Terendah 12 Tahun versus Perusahaan Dunia
Tuesday, October 26, 2021       15:09 WIB

Ipotnews - Analis memperkirakan tingkat keuntungan perusahaan Asia telah turun ke level terendah lebih dari satu dekade dibandingkan perusahaan sejenis secara global. Penurunan lebih lanjut bisa terjadi karena pertumbuhan ekonomi China melambat dan kendala pasokan global trus menganggu.
Setelah melonjak melewati level pra-pandemi, dan terbukanya kembali optimisme berkat dukungan vaksin, perkiraan laba per saham untuk 12 bulan ke depan untuk saham-saham anggota MSCI Asia Pacific Index mulai turun pada pertengahan September. Menurut data yang dikumpulkan oleh Bloomberg, penurunan harga saham dipimpin oleh perusahaan-perusahaan Australia, Korea Selatan dan beberapa negara Asia Tenggara, seprti seperti Malaysia.
Bisnis dan harga saham di kawasan itu telah menderita karena perekonomian ditutup lebih lama dibandingkan di negara Barat. China bahkan mempertahankan kebijakan Nol Covid dan juga membatasi pertumbuhan sejumlah perusahaan swasta.
Kemacetan rantai pasokan menambah kekhawatiran tentang pengetatan kebijakan moneter dan inflasi, yang dipicu kekurangan energi. Para pedagang melihat proyeksi laba mendapat pukulan lebih lanjut sebelum naik kembali tahun depan.
"Beberapa indikator menunjukkan kemunculan siklus penurunan laba," tulis ahli strategi Goldman Sachs Group Inc. dalam laporannya yang dikutip Bloomberg, Selasa (26/10).
Goldman memangkas proyeksi pertumbuhan laba per saham MSCI Asia Pasifik, tidak termasuk anggota Indeks Jepang, menjadi 32% untuk tahun ini, dan 9% untuk tahun berikutnya. Angka tersebut turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 34% dan 11%. China daratan, Hongkong dan Filipina diperkirakan berada di bawah konsensus.
"Ada tekanan ke penurunan " untuk laba di China, termasuk tantangan untuk sektor properti, kata Tim Moe, kepala strategi ekuitas Asia Pasifik Goldman di Bloomberg Television, Senin kemarin. Komentarnya muncul ketika Beijing berencana untuk memperkenalkan uji coba reformasi pajak properti di beberapa daerah.
Faktor China
Kekhawatiran utama bagi investor Asia adalah bahwa pembatasan peraturan China dan pembatasan sektor propertinya belum sepenuhnya dimasukkan ke dalam revisi pendapatan. Pembatasan perjalanan mungkin tetap berlaku untuk memastikan Olimpiade Beijing 2022 berjalan sukses.
"China akan cukup tertutup terutama secara provinsial sampai Olimpiade dan itu bisa meredam pertumbuhan," Sean Taylor, kepala pejabat investasi Asia Pasifik di DWS , mengatakan kepada Bloomberg Television pekan lalu.
Indeks MSCI Asia Pasifik sedikit berubah pada tahun ini, lebih rendah dibanding dengan kenaikan indeks MSCI AS dan Eropa yang setidaknya naik 18%. Indeks CSI 300 China turun sekitar 5%.
Sementara itu, Korea Selatan diperkirakan sedang berjuang karena pertumbuhan laba produsen chips kelas berat seperti SK Hynix Inc. dan Samsung Electronics Co. diperkirakan akan melambat karena harga chip memori telah mencapai puncaknya. Juga, pembukaan kembali ekonomi kawasan yang dimulai lebih awal daripada banyak kawasan lain, yang berarti bahwa angka laba sebelumnya dimulai dari basis yang lebih tinggi.
Namun, karena ekuitas regional tertinggal, penurunan valuasi yang menyertainya memikat beberapa investor. Mereka terutama tertarik untuk masuk ke pasar Asia Tenggara yang sebelumnya babak belur dan kini terlihat mendapatkan kesempatan hidup baru dari pelonggaran pembatasan pergerakan baru-baru ini.
DWS mendukung saham Jepang setelah berakhirnya keadaan darurat dan potensi stimulus fiskal yang besar. Sedangkan pasar Taiwan yang sarat teknologi merupakan salah satu pilihan teratas di Goldman Sachs, Invesco Ltd. dan Pictet Asset Management.
Tetapi agar prospek laba Asia secara keseluruhan membaik, banyak hal perlu menjadi lebih baik di pasar China sebagai kawasan terbesar di kawasan itu, China.
Kombinasi inflasi bahan mentah dan belanja konsumen yang lemah telah menjadikan kuartal ketiga tahun ini sebagai periode brutal bagi perusahaan-perusahaan terbesar China. Sektor properti, pertanian, dan pembangkit listrik akan menunjukkan penurunan laba terburuk.
Meskipun perkiraan laba terlihat pesimistis dapat menyebabkan kejutan positif untuk Asia, "Kita mungkin belum melewati gelombang panas inflasi, terutama karena tekanan rantai pasokan, misal; kemacetan produksi dan hambatan pengiriman, menunjukkan sedikit tanda-tanda mereda," kata Marcella Chow, ahli strategi pasar global di JPMorgan Asset Management. (Bloomberg)


Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM


Berita Terbaru