News & Research

Reader

Wall Street Berakhir Variatif, Langkah Dow Terbebani Kejatuhan Home Depot
Wednesday, November 20, 2019       04:43 WIB

Ipotnews - Bursa Wall Street berakhir variatif, Selasa, dengan Dow Jones Industrial Average turun dari rekor tertinggi di tengah kejatuhan saham Home Depot dan Boeing.
Dow merosot 102,2 poin, atau 0,3% menjadi 27.934,02, demikian laporan   CNBC   dan  AFP , di New York, Selasa (19/11) atau Rabu (20/11) pagi WIB.
Indeks berbasis luas S&P 500, sementara itu, ditutup sedikit lebih rendah -0,06% atau 1,85 poin menjadi 3.120,18, sedangkan Nasdaq Composite Index naik 0,22% atau 20,72 poin,menjadi 8.570,66, membukukan penutupan tertinggi baru sepanjang masa. Tiga indeks tersebut mencatat level  intraday  tertinggi sepanjang masa selama sesi itu.
Saham Home Depot turun 5,4% setelah penjualan  same-store  yang mengecewakan, metrik kunci untuk pengecer, membayangi laporan laba yang lebih baik dari perkiraan.
"Namun, kami percaya latar belakang tersebut menjadi lebih mendukung untuk akselerasi ulang sehubungan dengan peningkatan komoditas," kata analis Piper Jaffray, Peter Keith dalam sebuah catatan.
Indeks AS mencatat rekor penutupan, Senin, karena optimisme atas musim belanja liburan mendatang mengimbangi keraguan tentang perundingan perdagangan AS-China.
Tetapi saham ritel berakhir variatif pada sesi Selasa. Selain Home Depot, Kohl merosot 19,5 persen, sementara rantai diskon TJX naik 2,7 persen.
Beberapa emiten ritel akan melaporkan kinerjanya dalam beberapa hari mendatang, termasuk Target, Lowe's, Nordstrom, dan Gap.
Dilaporkan   CNBC  , mengutip sumber pemerintah, China pesimis tentang kesepakatan perdagangan dengan AS. Ini dipicu karena perbedaan pandangan tentang pembatalan tarif. Mantan kepala penasihat ekonomi Gedung Putih, Gary Cohn, Senin, mengatakan bahwa dia yakin Presiden Donald Trump akan meneruskan tarif pada 15 Desember jika AS dan China belum menyetujui kesepakatan perdagangan saat itu. Selasa, Trump kemudian mengatakan akan mengenakan tarif, bahkan lebih tinggi terhadap China, jika kesepakatan tidak tercapai.
China dan AS terlibat dalam perang dagang selama lebih dari setahun, mengurangi ekspektasi pertumbuhan untuk ekonomi global dan keuntungan perusahaan. Namun, optimisme sekitar kesepakatan perdagangan AS-China meningkat bulan lalu setelah Trump mengatakan kesepakatan fase pertama akan ditandatangani November.
"Saya pikir China, lebih dari AS, membutuhkan kesepakatan ini," kata Kim Forrest, pendiri Bokeh Capital. "Saya tidak berpikir itu akan menjadi akhir dari segalanya, tetapi semacam kesepakatan akan dilakukan menjelang akhir tahun atau tahun depan. Itulah reaksi pasar ini."
Boeing menyerahkan kembali kenaikan 1,5% setelah Dewan Keselamatan Transportasi Nasional merekomendasikan pabrikan pesawat itu mendesain ulang penutup mesin pada ribuan jet 737. Awalnya saham emiten itu naik setelah Boeing mendapatkan 50 pesanan untuk jet 737 Max di Dubai Air Show. Satu pesanan untuk 20 pesawat datang dari pembeli yang dirahasiakan, sementara maskapai yang berbasis di Kazakhstan memesan 30 pesawat. Saham Boeing berakhir turun 0,7%. (ef)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM


Berita Terbaru

Tuesday, Jan 28, 2020 - 11:18 WIB
BPS Rombak Metodologi Pengukuran Inflasi Dan NTP
Tuesday, Jan 28, 2020 - 11:16 WIB
Target Price LPKR
Tuesday, Jan 28, 2020 - 11:16 WIB
Target Price PWON
Tuesday, Jan 28, 2020 - 11:15 WIB
Target Price RALS
Tuesday, Jan 28, 2020 - 11:14 WIB
Target Price SMGR
Tuesday, Jan 28, 2020 - 11:07 WIB
Nilai Investasi KRAS di Proyek HSM#2 Mencapai USD515,6 Juta
Tuesday, Jan 28, 2020 - 11:04 WIB
PRDA Siapkan Capex Rp350 Miliar untuk Danai Ekspansi
Tuesday, Jan 28, 2020 - 10:53 WIB
Refinancing, Garuda akan Terbitkan Sukuk Global Rp 6,8 T
Tuesday, Jan 28, 2020 - 10:51 WIB
Kena Tsunami Baja Impor, Krakatau Steel Pangkas 3.500 Pekerja
Tuesday, Jan 28, 2020 - 10:20 WIB
IHSG Tertekan Entry Point ke ETF, Berikut Sejumlah Pilihannya...