AI News - UBS memperkirakan harga emas global dapat menembus US$5.400 per ons troi pada September 2027, meski menghadapi koreksi jangka pendek akibat kenaikan suku bunga riil AS dan penguatan dolar. Permintaan bank sentral serta aliran dana ke ETF tetap menjadi pendorong utama.
Poin Penting
- Harga emas spot pada 12 Oktober 2026 tercatat US$4.198 per ons troi.
- Target UBS untuk September 2027 sebesar US$5.400 per ons troi.
- Permintaan bank sentral diproyeksikan mencapai 750-1.000 metrik ton per tahun.
- Kepemilikan ETF emas fisik meningkat 67 ton pada September 2026.
- China membeli 23 metrik ton emas pada awal September 2026.
Mengapa Kenaikan Suku Bunga Riil AS Menekan Harga Emas?
Naiknya suku bunga riil di Amerika Serikat menekan harga emas karena meningkatkan biaya peluang memegang aset yang tidak menghasilkan imbal hasil. Menurut Kontan, analis UBS Giovanni Staunovo menjelaskan bahwa lingkungan suku bunga saat ini menambah biaya kepemilikan emas, yang tidak memberi bunga. Sementara itu, Bisnis Indonesia menambahkan bahwa imbal hasil obligasi AS yang meningkat bersama penguatan dolar menciptakan alternatif investasi yang lebih menarik bagi investor. Kondisi ini membuat permintaan spekulatif menurun, terutama dari pelaku yang mengurangi posisi beli bersih pada kontrak berjangka dan opsi. Akibatnya, meskipun pasar jangka panjang tetap mendukung, tekanan jangka pendek dapat membatasi laju kenaikan harga emas.
Bagaimana Permintaan Bank Sentral dan ETF Menopang Proyeksi Harga Emas?
Permintaan kuat dari bank sentral dan aliran dana stabil ke ETF menjadi landasan fundamental bagi proyeksi kenaikan harga emas. UBS menilai bahwa diversifikasi cadangan devisa oleh bank sentral, khususnya pembelian oleh China sebanyak 23 metrik ton serta Uzbekistan sebesar 7 metrik ton, membantu menyeimbangkan tekanan dari kenaikan suku bunga. Data World Gold Council yang dikutip oleh Bisnis Indonesia menunjukkan kepemilikan ETF berbasis emas fisik meningkat 67 ton pada September 2026, menandakan minat investor institusional tetap tinggi. Selain itu, musiman di India selama periode festival dapat menambah permintaan tambahan ketika harga emas turun. Kombinasi dukungan institusional ini memberi fondasi yang cukup kokoh bagi ekspektasi harga tinggi di masa mendatang.
Apa Risiko Penguatan Dolar AS Terhadap Kelanjutan Kenaikan Harga Emas?
Penguatan dolar Amerika Serikat dan naiknya imbal hasil obligasi dapat menjadi penghambat utama bagi lanjutan kenaikan harga emas dalam jangka pendek. Kontan mencatat bahwa dolar yang lebih kuat menurunkan nilai relatif emas bagi pembeli luar negeri, sementara imbal hasil obligasi yang lebih tinggi meningkatkan daya tarik aset berbunga dibandingkan logam mulia. Bisnis Indonesia menekankan bahwa faktor-faktor makro ini berpotensi memicu pengujian ulang level US$4.000 per ons troi sebelum pasar kembali stabil. Jika dolar tetap menguat, aliran likuiditas ke pasar emas dapat terhambat, memperlambat pemulihan yang diharapkan. Oleh karena itu, pelaku pasar perlu memantau kebijakan moneter Fed serta pergerakan nilai tukar untuk menilai risiko jangka pendek terhadap prospek harga emas.
Sumber : AI News
powered by: IPOTNEWS.COM