- Goldman menilai emas kurang efektif sebagai diversifikasi portofolio jangka panjang.
- Volatilitas emas lebih tinggi dan risiko penurunan nilainya jauh lebih dalam dibanding saham AS.
- Goldman tetap overweight saham AS, meski minat investor terhadap emas melonjak.
Ipotnews - Di tengah melonjaknya harga emas ke rekor tertinggi baru pada 2026, minat investor terhadap logam mulia sebagai aset lindung nilai justru dinilai berisiko keliru. Goldman Sachs memperingatkan bahwa ketertarikan besar terhadap emas untuk alasan keamanan portofolio dapat menjadi kesalahan strategi investasi.
Dalam laporan outlook 2026, tim strategi investasi unit wealth management Goldman Sachs menyoroti bahwa emas memiliki riwayat penurunan nilai (drawdown) yang dalam dan berkepanjangan, bahkan pernah mencapai 70%. Hal ini kontras dengan obligasi pemerintah AS yang secara tradisional dipandang sebagai bantalan portofolio saat pasar bergejolak.
Secara historis, emas dinilai memiliki volatilitas lebih tinggi dibanding saham AS, dengan potensi penurunan yang jauh lebih besar. Selain itu, emas hanya terbukti efektif melindungi nilai terhadap inflasi--dalam artian menghasilkan imbal hasil riil--sekitar setengah dari periode bergulir 20 tahunan, kata Brett Nelson, Kepala Tactical Asset Allocation Goldman Sachs, dalam paparan media.
Sebaliknya, Nelson menekankan bahwa saham AS secara konsisten mengungguli inflasi dalam periode 20 tahun, sehingga dinilai lebih andal sebagai pendorong pertumbuhan nilai portofolio jangka panjang.
Peringatan Goldman muncul di tengah derasnya arus dana ke emas. Pada Senin, investor menggelontorkan sekitar US$950 juta ke SPDR Gold Shares (GLD), salah satu ETF emas terbesar di dunia, menurut data FactSet. Arus masuk tersebut membalikkan arus keluar sebelumnya, sehingga sepanjang 2026 dana bersih yang masuk ke ETF ini mencapai US$118 juta.
Kinerja GLD juga masih kuat. Setelah melonjak hampir 64% sepanjang 2025--kenaikan tahunan terbesar sejak peluncurannya pada 2004--ETF ini telah menguat lebih dari 6% sepanjang 2026, melampaui kinerja pasar saham AS sejauh ini. Harga emas sendiri sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada Senin, sebelum terkoreksi tipis pada perdagangan Selasa.
Pandangan Goldman berbeda dengan sebagian pelaku pasar. Wells Fargo Investment Institute memperkirakan emas masih memiliki ruang kenaikan pada 2026, didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik, pembelian agresif oleh bank sentral global, serta ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dan stabilitas dolar AS--meski dengan laju yang lebih lambat dibanding 2025.
Sementara itu, pasar saham AS juga mencetak rekor baru pada Senin, dengan Dow Jones Industrial Average dan S&P 500 menembus level tertinggi sepanjang masa, meski diwarnai kekhawatiran atas independensi The Fed terkait penyelidikan Departemen Kehakiman terhadap Ketua The Fed Jerome Powell.
Dalam outlook-nya, Goldman menegaskan tetap overweight saham AS. "Sangat sulit untuk underweight saham AS kecuali ada keyakinan kuat akan resesi dalam waktu dekat," ujar Nelson. Menurutnya, fundamental ekonomi masih mendukung pertumbuhan laba, dan dalam jangka panjang pergerakan S&P 500 akan mengikuti arah kinerja laba perusahaan.(Market Watch)
Sumber : admin
powered by: IPOTNEWS.COM