Harapan Kenaikan Suku Bunga The Fed Memudar, Dolar Langsung Tertekan
Saturday, July 04, 2026       06:58 WIB
  • Dolar AS menuju pelemahan mingguan terbesar sejak April setelah data ketenagakerjaan Juni yang lebih lemah mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September.
  • Pelemahan dolar mendorong penguatan euro, poundsterling, dan yen Jepang, meski pasar tetap mewaspadai potensi intervensi pemerintah Jepang di pasar valuta asing.
  • Peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September kini turun menjadi sekitar 45%, sementara analis memperkirakan pelemahan dolar masih berpotensi berlanjut jika data ekonomi AS terus melambat.

Ipotnews - Dolar Amerika Serikat berada di jalur penurunan mingguan terbesar dalam 12 pekan pada Jumat (3/7) akhir pekan ini setelah laporan ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan pada Kamis meredakan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat, sekaligus memberikan ruang penguatan bagi yen Jepang.
Pelemahan dolar secara luas mendorong euro naik ke level US$1,1440 setelah sehari sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam hampir dua pekan. Sepanjang pekan, euro menguat 0,5%. Poundsterling juga menguat ke US$1,3352 dan mencatat kenaikan mingguan sebesar 1,1%, yang merupakan kinerja terbaiknya dalam hampir tiga bulan.
Pelemahan dolar juga memberikan kelegaan bagi yen Jepang yang menguat hingga di bawah level 161 per dolar. Meski demikian, pasar masih mewaspadai potensi intervensi pemerintah Jepang setelah lonjakan tajam pada Kamis mengangkat mata uang tersebut dari level terlemahnya dalam 40 tahun di posisi 162,84. Yen terakhir diperdagangkan di level 161,25 per dolar.
Lapangan Kerja AS
Dolar melemah setelah pertumbuhan lapangan kerja Amerika Serikat melambat tajam pada Juni dan data penambahan tenaga kerja untuk dua bulan sebelumnya direvisi lebih rendah. Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat.
Berdasarkan FedWatch Tool milik CME, pasar kini memperkirakan peluang sekitar 45% untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan September. Pasar obligasi pemerintah Amerika Serikat tutup pada Jumat karena libur Hari Kemerdekaan.
"Kami memang tidak memperkirakan adanya kenaikan suku bunga, sehingga hasil ini sesuai dengan pandangan kami bahwa pada akhirnya dolar akan berbalik melemah," kata Karl Steiner, Kepala Analisis SEB. "Saya tidak akan terkejut jika pelemahannya masih berlanjut."
Indeks dolar, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sekeranjang mata uang termasuk yen dan euro, turun sekitar 0,2% menjadi 100,83 setelah sebelumnya melemah 0,5% pada Kamis. Sepanjang pekan, indeks dolar turun 0,5%, menjadi penurunan mingguan terbesar sejak awal April.
Intervensi Yen
Meskipun yen telah pulih dari level terendah dalam 40 tahun, investor tetap waspada terhadap kemungkinan intervensi pemerintah Jepang di tengah tipisnya volume perdagangan akibat libur Hari Kemerdekaan Amerika Serikat.
"Risiko itu tetap harus diperhatikan," kata Steiner dari SEB mengenai kemungkinan intervensi. "Secara historis, Jepang lebih memilih melakukan intervensi ketika likuiditas pasar sedang rendah."
Pemerintah Jepang kembali mengeluarkan peringatan kepada pasar valuta asing pada Jumat setelah Menteri Keuangan Satsuki Katayama menyatakan bahwa Tokyo terus berkomunikasi secara rutin dengan Washington mengenai isu nilai tukar dan tetap siap mengambil langkah untuk mendukung yen.
Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara juga mengatakan bahwa pemerintah memantau pergerakan pasar dengan rasa urgensi yang tinggi.
Pelaku pasar menilai pemerintah Jepang mulai meninggalkan kebiasaan memberikan sinyal jauh-jauh hari mengenai kemungkinan intervensi. Sebaliknya, pemerintah kini dinilai menerapkan pendekatan yang lebih terarah untuk menekan aksi spekulasi dan meningkatkan biaya bagi pihak yang bertaruh terhadap pelemahan yen.
"Pertanyaan yang lebih besar adalah apa yang akan terjadi selanjutnya," kata analis IG, Tony Sycamore, yang menilai level tertinggi dolar terhadap yen dalam 40 tahun terakhir kemungkinan telah menjadi puncak jangka pendek.
"Apakah level tersebut juga akan menjadi puncak dalam jangka menengah pada akhirnya akan sangat bergantung pada data ekonomi Amerika Serikat berikutnya dan, sampai batas tertentu, perkembangan di pasar obligasi pemerintah Jepang."
(reuters)

Sumber : admin

powered by: IPOTNEWS.COM