Wall Street Ditutup Menguat, Amazon Redakan Kekhawatiran Belanja AI
Saturday, August 01, 2026       08:02 WIB
  • Wall Street ditutup menguat setelah Amazon melonjak lebih dari 15%, meredakan kekhawatiran investor terhadap besarnya belanja AI.
  • Apple anjlok 7,4% setelah memperingatkan kendala pasokan akan menghambat pertumbuhan, sehingga menekan sektor teknologi.
  • Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September sebesar 65%, sementara laba emiten S&P 500 diproyeksikan melonjak 48% pada kuartal II.

Ipotnews - Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Jumat (31/7), dipimpin oleh lonjakan saham Amazon setelah perusahaan tersebut membukukan laporan keuangan kuartalan yang kuat. Kinerja itu kembali meningkatkan kepercayaan investor terhadap saham-saham yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI). Sementara saham Apple justru melemah setelah hasil kinerjanya mengecewakan pasar.
Saham Amazon melonjak lebih dari 15% setelah mencatat pertumbuhan pendapatan kuartalan terbesar dalam lebih dari empat tahun. Bersama laporan keuangan Microsoft yang dirilis pada Rabu, hasil tersebut berhasil meredakan kekhawatiran investor mengenai besarnya belanja pembangunan pusat data AI.
Sepanjang bulan ini, pasar global sempat diguncang kekhawatiran bahwa investasi besar dalam infrastruktur AI membutuhkan waktu terlalu lama untuk menghasilkan keuntungan. Kondisi tersebut memicu keraguan terhadap saham-saham teknologi yang selama beberapa tahun terakhir menjadi motor penggerak reli Wall Street.
Chief Executive Officer Longbow Asset Management, Jake Dollarhide, mengatakan investor sebelumnya khawatir belanja Amazon untuk AI hanya merupakan pengeluaran besar tanpa arah yang jelas. Namun, menurutnya, penjelasan CEO Amazon Andy Jassy berhasil menghilangkan kekhawatiran tersebut.
Indeks saham semikonduktor naik tipis 0,07%, namun masih turun lebih dari 20% dibandingkan rekor penutupan tertingginya pada 22 Juni.
Di sisi lain, saham Apple anjlok 7,4% setelah memperingatkan bahwa kendala pasokan akan menghambat pertumbuhan. Pernyataan tersebut menambah kekhawatiran bahwa kenaikan harga iPhone belakangan ini dapat melemahkan permintaan konsumen.
Pelemahan Apple membuat sektor teknologi di S&P 500 turun 0,54%, meskipun saham-saham teknologi lainnya bergerak menguat. Saham Microsoft naik 3%, melanjutkan reli lebih dari 15% pada Kamis yang menjadi kenaikan harian terbesar sejak 2008 setelah perusahaan memproyeksikan pertumbuhan bisnis cloud yang melampaui ekspektasi.
Sementara itu, saham Monolithic Power Systems melonjak lebih dari 8% setelah memproyeksikan pendapatan kuartal III di atas perkiraan analis.
Pada penutupan perdagangan, indeks S&P 500 naik 0,70% menjadi 7.489. Meski demikian, jumlah saham yang turun masih lebih banyak dibandingkan saham yang naik dengan rasio 1,3 banding 1. Indeks Nasdaq menguat 1% menjadi 25.373. Sedangkan Dow Jones Industrial Average naik 0,53% ke level 52.485,03.
Volume perdagangan di bursa Amerika Serikat mencapai 20,6 miliar saham, jauh di atas rata-rata 17,1 miliar saham dalam 20 sesi terakhir. Secara mingguan, S&P 500 naik 1,05%, sedangkan Nasdaq menguat 1,59%. Sepanjang Juli, S&P 500 bergerak relatif datar dibandingkan Juni, sementara Nasdaq turun 3,2%. Meski demikian, kedua indeks masih membukukan kenaikan sekitar 9% sepanjang 2026.
Berdasarkan data LSEG , analis memperkirakan laba agregat emiten S&P 500 pada kuartal II akan melonjak 48% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan sebagian besar pertumbuhan berasal dari perusahaan yang terkait dengan AI.
Kuatnya proyeksi laba dan koreksi harga saham dalam beberapa waktu terakhir membuat valuasi S&P 500 kini diperdagangkan pada sekitar 20 kali estimasi laba, sedikit di atas rata-rata 10 tahun sebesar 19 kali.
Sementara itu, indeks S&P 500 Equal Weight mencatat kenaikan bulanan untuk bulan keempat berturut-turut karena memiliki paparan yang lebih kecil terhadap saham-saham AI berkapitalisasi besar yang justru berkinerja kurang baik dalam beberapa waktu terakhir.
Di sisi kebijakan moneter, tiga pejabat Federal Reserve yang berbeda pendapat pada rapat pekan ini kembali menyerukan kenaikan suku bunga secepatnya guna membawa inflasi kembali ke target 2%. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor dua tahun naik 5,4 basis poin menjadi 4,28%, meskipun secara mingguan masih sedikit lebih rendah.
Berdasarkan CME FedWatch, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September sebesar 65%, turun dari 82% sepekan sebelumnya, namun sedikit lebih tinggi dibandingkan 63% pada Kamis.
Di antara saham lainnya, GoDaddy anjlok hampir 17% setelah memangkas proyeksi pertumbuhan pendapatan tahunan.
Pada perdagangan Jumat, S&P 500 mencatat empat saham yang menyentuh level tertinggi baru dan empat saham yang mencetak level terendah baru dalam 52 pekan. Sementara itu, Nasdaq membukukan 52 saham di level tertinggi baru dan 131 saham di level terendah baru.
(reuters)

Sumber : admin

powered by: IPOTNEWS.COM