Buyback Saham Sarana Menara Nusantara (TOWR) Habiskan Rp569 Miliar
Monday, February 24, 2020       20:27 WIB

JAKARTA - PT Sarana Menara Nusantara Tbk. sudah melaporkan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek indonesia (BEI) mengenai eksekusi buyback atau pembelian kembali saham yang berakhir pada 10 Februari 2020. Berdasarkan laporan hasil pelaksanaan pembelian kembali saham perseroan hingga 10 Februari 2020, dana yang digelontorkan perseroan untuk aksi tersebut adalah Rp569,74 miliar. Buyback dilakukan beberapa kali sejak Agustus 2018. Tahun ini, tercatat dua kali melakukan buyback , yakni pada 7 Februari dan 10 Februari. Jumlah saham yang dibeli kembali adalah 50 juta saham pada 7 Februari dengan harga rata-rata Rp880 per saham, dan 225 juta lembar saham pada 10 Februari pada harga rata-rata Rp870. Total saham yang dibeli kembali sejak 10 Agustus 2018 mencapai 809.296.100 lembar, atau 10,78 persen dari yang diizinkan dalam RUPSLB. Sisa dana yang dialokasikan untuk buyback adalah Rp1,47 triliun.
Program pembelian kembali saham yang disetujui melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) adalah maksimum 5 persen dari saham perseroan. Wakil Direktur Utama Sarana Menara Nusantara, Adam Ghifari menjelaskan bukan keharusan bagi perseroan untuk mengeksekusi pembelian kembali saham mencapai 5 persen. "Perkiraan waktu itu adalah 5 persen ini ekuivalen dengan Rp2 triliun. Jadi sekali lagi bukan keharusan perusahaan melakukan buyback saham senilai Rp2 triliun," ujar Adam kepada Bisnis pada Senin (24/2/2020). Perseroan menilai kondisi industri telekomunikasi, atau secara khusus internet menggunakan layanan nirkabel atau wireless device masih mengalami pertumbuhan yang sangat baik. Pada 2018, mengajukan permohonan persetujuan buyback dalam RUPSLB untuk menggunakan kemampuan neraca perusahaan dengan gearing ( net debt to EBITDA) yang sehat untuk melakukan buyback saham perseroan
Momentum Buyback Saham
Sejumlah analis menyebut bahwa saat kondisi pasar tengah lesu seperti sekarang bisa jadi momentum yang tepat bagi emiten untuk melakukan aksi pembelian kembali atau buyback saham. Analis FAC Sekuritas, Wisnu Prambudi Wibowo menilai momentum pembelian kembali saham cukup tepat, mengingat sudah banyak harga saham yang under value. Padahal, secara kinerja perseroan masih terbilang baik. "Manfaatnya; untuk mencegah penurunan harga yang terlalu dalam, menaikkan rasio keuangan semisal earning per share (EPS) dan menyiapkan cadangan modal, karena saham yang di-buyback menjadi saham treasury," ujar Wisnu. Senada dengan Wisnu, analis Sucor Sekuritas, Hendriko Gani menjelaskan emiten yang sedang dalam proses buyback, penurunan harga sahamnya lebih terbatas karena pembelian dilakukan dalam jumlah besar sehingga secara tidak langsung akan menjaga stabilitas harga. Hendriko pun menilai kondisi pasar saat ini tidak seburuk tahun 2015, sehingga baik OJK atau BEI tidak perlu menetapkan aturan buyback tanpa RUPS . "Kalau lebih baik menurut saya tetap melalui RUPS , karena keperluan buyback saham tentu akan mempengaruhi floating share di pasar dan otomatis kepemilikan saham pemegang saham juga," ungkap Hendriko.

Sumber : BISNIS.COM

powered by: IPOTNEWS.COM

665
1.5 %
10 %

34,579

BidLot

153,137

OffLot