Di Negara `Covid Zero` Lebih Sulit untuk Membuka Kembali Perekonomiannya daripada Menjinakkan Virus
Friday, May 14, 2021       18:36 WIB

Ipotnews - Beberapa negara, terutama di kawasan Asia Pasifik, telah berhasil memenangkan pertempuran melawan Covid-19, dengan secara efektif memusnahkan kasus infeksi virus korona di dalam batas negaranya. Sekarang mereka menghadapi ujian baru: bergabung kembali dengan seluruh dunia, yang masih dipenuhi patogen.
Namun dalam beberapa hal, kesuksesan negara-negara "Covid Zero" itu justru menjadi penghalang. Ketika kota-kota seperti New York dan London kembali membuat kesepakatan secara langsung dan bisnis seperti biasa - dengan mentolerir ratusan kasus harian saat vaksinasi meningkat pesat - negara-negara seperti Singapura dan Hongkong berisiko tertinggal dalam membuka kembali perekonomiannya. Mereka mempertahankan pembatasan di perbatasan negaranya dengan ketat dan mencoba untuk melakukannya dengan mencegah terjadinya lonjakan kasus Covid-19, satu digit pun.
Setelah 18 bulan yang brutal yang merenggut 3,3 juta nyawa di seluruh dunia, negara-negara seperti China, Singapura, Australia dan Selandia Baru secara keseluruhan mencatatkan lebih sedikit kematian selama pandemi dibanding negara lain. Bahkan ke negara-negara yang sudah banyak melakukan vaksinasi pun, terus mencatat tambahan kasus dalam hitungan hari.
Pencapaian itu telah memungkinkan warga negara itu untuk memiliki kehidupan yang sebagian besar normal hampir sepanjang tahun lalu. Beberapa bahkan tidak harus memakai masker. Tetapi mempertahankan status kebanggaan ini juga memerlukan siklus penguncian buka-tutup, larangan juga mencakup perjalanan internasional, dan kebijakan karantina yang ketat. Beberapa pelancong yang diizinkan masuk harus menghabiskan berminggu-minggu dengan isolasi total, tidak boleh meninggalkan kamar hotel.
Sekarang setelah dorongan inokulasi massal memungkinkan bagian lain dunia untuk normal dan terbuka untuk perjalanan internasional, para ahli dan penduduk mulai mempertanyakan apakah menutup diri dari Covid sepadan dengan pertukarannya, jika diterapkan dalam jangka panjang.
"Seluruh dunia tidak akan menjadi Covid Zero," kata Rupali Limaye, direktur ilmu perilaku dan implementasi di International Vaccine Access Center, Johns Hopkins School of Public Health. "Itu bukan pilihan," ujarnya, seperti diktuip Bloomberg, Jumat (14/3).
Reaksi agresif terhadap sedikit kasus mungkin tampak berlebihan bagi pengamat di negara-negara yang menghadapi ribuan infeksi sehari-hari. Akan tetapi tujuannya adalah untuk memadamkan virus korona sebelum diperlukan pembatasan yang lebih mengganggu, seperti penguncian selama berbulan-bulan - dan sebagian besar strateginya telah berhasil. Namun kecepatan vaksinasi yang lebih lambat di negara-negara ini, dan ancaman varian baru, membuat tindakan pembatasan perbatasan menjadi semakin berat.
New York saat ini mencatat 95 kasus harian baru per satu juta orang, dan AS baru saja mencabut kewajiban menggunakan maskernya bagi mereka yang sudah divaksinasi. Singapura hanya menemukan 4,2 kasus baru per juta orang pada Kamis kemarin, meningkatkan kasus penularan lokal ke tingkat tertinggi sejak Juli tahun lalu, dan kembali melakukan pembatasan yang terakhir diberlakukan setahun yang lalu. Negara kota itu, melarang makan di dalam restoran dan membatasi pertemuan untuk dua orang. Kebangkitan kasus juga membuat gelembung perjalanan yang sangat dinanti-nantikan dengan Hongkong kembali diragukan.
Sementara itu, Taiwan mencatat 16 kasus lokal pada Rabu lalu - rekor harian tertinggi - dan segera membatasi akses ke  gym  dan tempat umum lainnya. Di Hongkong, siapa pun yang tinggal di gedung yang sama dengan orang yang terinfeksi varian baru Covid diharuskan menghabiskan sebanyak tiga minggu dalam isolasi pemerintah sampai kebijakan diubah minggu lalu. Australia mengatakan bahwa kemungkinan tidak akan membuka perbatasan internasionalnya sampai paruh kedua tahun 2022.
"Karena kami telah begitu sukses, kami bahkan lebih menghindari risiko daripada sebelumnya," kata Peter Collignon, profesor penyakit menular di Australian National University Medical School, Canberra.
"Kami sangat tidak toleran membiarkan setiap Covid masuk ke negara ini," katanya. "Ketakutan itu hampir tidak sebanding dengan risikonya," Collignon menegaskan.
Isolasi berkelanjutan adalah harga yang harus dibayar di negara-negara itu, untuk mempertahankan pendekatan pembatasan dalam jangka panjang, ketika bagian lain dunia belajar untuk mentolerir beberapa infeksi selama sistem medis tidak kewalahan.
Banyak ahli setuju bahwa virus tidak mungkin hilang sepenuhnya. Sebaliknya, Covid-19 diperkirakan menjadi endemik, yang berarti akan beredar pada tingkat tertentu tanpa memicu wabah mematikan yang terlihat sejak akhir 2019.
Untuk mempertahankan tingkat infeksi nol, negara-negara itu harus menerapkan langkah-langkah yang lebih keras dan lebih ketat, kata Donald Low, profesor Institute of Public Policy, Hong Kong University of Science and Technology.
"Ini tidak bijaksana dan tidak bisa dipertahankan lebih lama lagi," Low menambahkan. "Semua ini menempatkan kawasan-kawasan yang sejauh ini telah berhasil dengan baik untuk menekan Covid-19 pada kerugian serius. Itu karena masyarakat mereka - yang tidak terpapar kemungkinan Covid-19 menjadi endemik - tidak bersedia menerima langkah pelonggaran apa pun yang justru dapat membahayakan kesehatan mereka."
Sementara itu, banyak negara - terutama negara Barat yang kebanjiran vaksin - mulai membuka kembali perekonomiannya.
Wisatawan dari Inggris dan Skotlandia akan diizinkan mengunjungi belasan negara tanpa karantina mulai 17 Mei. Di AS, di mana sekitar 35.000 orang didiagnosis masih mengidap virus pada 12 Mei lalu, tidak pernah ada aturan karantina ketat yang mencegah impor patogen ke negara-negara Covid Zero. Sebagian besar negara bagian mulai mencabut pembatasan pandemi mereka dan 25 telah menghapusnya sepenuhnya.
Untuk Hongkong dan Singapura, kelemahan dari mempertahankan strategi eliminasi, karena pusat keuangan seperti London dan New York City telah dibuka kembali, mungkin lebih signifikan. Sebagai pusat penerbangan dan pusat keuangan, ekonomi kedua kota sangat bergantung pada perjalanan, dibandingkan dengan ekonomi yang didorong ekspor seperti China dan Australia yang bisa tutup lebih lama.
Pada tahun 2019, Hongkong adalah kota paling populer di dunia dengan pengunjung internasional - bahkan setelah berbulan-bulan kerusuhan politik - sementara Singapura berada di urutan keempat. London berada di No 5 dan New York di No 11.
Hambatan utama untuk membuka kembali adalah lambatnya peluncuran vaksin di negaraini, karena kombinasi dari keterbatasan pasokan dan kurangnya urgensi warga untuk mendapatkan suntikan vaksin.
China telah memberikan vaksinasi yang cukup untuk sekitar 12% dari populasinya. Di Australia, angkanya 5% dan di Selandia Baru, hanya 3%. Sementara itu, lebih dari sepertiga AS - dan lebih dari seperempat Inggris - sepenuhnya telah terlindungi vaksin, karena kegagalan negara-negara tersebut untuk mengurangi penyebaran Covid sehingga memprioritaskan vaksinasi.
Di negara-negara dengan sangat sedikit infeksi, masyarakat belum mengembangkan ketakutan yang besar terhadap virus yang muncul di AS, Eropa, India dan Brasil, di mana banyak keluarga terputus dengan orang-orang terkasih yang sekarat atau tidak dapat mengunjungi kerabat lansia dalam fasilitas perawatan.
Faktanya, banyak warga yang lebih takut pada vaksin daripada virusnya. Laporan efek samping termasuk demam dan nyeri di tempat suntikan, serta komplikasi yang sangat jarang dan berpotensi mematikan seperti pembekuan darah, telah membuat orang enggan. Tidak adanya ancaman langsung dari Covid membuat beberapa orang lebih memilih menunggu teknologi vaksin yang lebih maju.
Tapi tidak semua orang setuju bahwa eliminasi tidak dapat dilakukan dalam jangka panjang. Bagi Michael Baker, profesor kesehatan masyarakat di Universitas Otago di Wellington, Selandia Baru, manfaat pendekatan ini terbukti dalam bagaimana kematian di negara itu - dari sebab apa pun - benar-benar turun pada tahun 2020.
"Buktinya sangat banyak untuk nol Covid jika Anda bisa mencapainya," katanya. "Jika memang ada komitmen untuk menjadikan eliminasi sebagai opsi pertama, kami mungkin bisa menghilangkannya sepenuhnya dan menghindari bencana global ini," papar Baker.
Ia masih berharap strategi tersebut dapat diadopsi secara lebih luas dengan bantuan vaksinasi, sehingga virus korona akan mengikuti model penularan campak, yang bukan endemik.
"Dengan pendekatan seperti campak, sebagian besar Anda dapat menghentikan wabah di setiap negara yang memiliki cakupan tinggi," katanya.
Meskipun demikian, negara-negara 'Covid Havens' jugamenghadapi dilema yang semakin meningkat. Jika kecepatan program vaksinasi tidak meningkat, mereka berisiko terjebak dalam siklus yang terus-menerus, tidak dapat melewati pandemi.
"Jika tingkat vaksinasi rendah, kondisi itu semakin membahayakan kemampuan mereka untuk membuka perbatasannya," kata Low. "Jika demikian, 'kemenangan' sebelumnya dari tempat-tempat ini atas Covid-19 akan menjadi salah satu yang mengerikan." (Bloomberg)


Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM