Dolar Loyo, Euro Pertahankan Keperkasaan Setelah ECB Tingkatkan Stimulus
Friday, June 05, 2020       10:20 WIB

Ipotnews - Euro mempertahankan keperkasaan, Jumat pagi, setelah Bank Sentral Eropa memperluas stimulusnya lebih dari estimasi untuk menopang ekonomi yang menghadapi resesi terburuk sejak Perang Dunia Kedua.
Penguatan euro mendukung selera untuk mata uang berisiko di Asia dan membantu mendorong dolar AS mendekati posisi terendah tiga bulan terhadap sekeranjang mata uang, demikian laporan  Reuters,  di Tokyo, Jumat (5/6).
ECB meningkatkan skema pembelian obligasi darurat sebesar 600 miliar euro menjadi 1,35 triliun euro, dan memperpanjang skema tersebut hingga pertengahan 2021. Pasar memperkirakan peningkatan 500 miliar euro.
Euro berada di posisi USD1,1338, setelah melesat setingginya USD1,1362 pada sesi Kamis, level tertinggi dalam hampir tiga bulan.
Sepanjang pekan ini, mata uang tunggal itu melonjak 2,1% dan di jalur untuk meraih kenaikan minggu ketiga berturut-turut.
Kepercayaan investor pada mata uang itu juga meningkat setelah Jerman, bulan lalu, merilis gagasan dana pemulihan Uni Eropa, melepaskan diri dari tradisi yang telah lama dipegangnya untuk menolak langkah menuju integrasi fiskal dalam blok mata uang tersebut.
"Langkah baru-baru ini oleh Komisi Uni Eropa, serta ECB telah mengurangi  tail risk  sekitar prospek ekonomi kawasan euro," kata Zach Pandl, analis Goldman Sachs di New York.
"Tantangan utama Eropa adalah arsitektur kebijakan fiskalnya yang tidak lengkap. Namun, lembaga-lembaga Eropa membuat perubahan penting untuk memperbaiki kelemahan itu. Dan itu termasuk pembelian obligasi ECB serta proposal dana pemulihan UE, yang kami pikir akan sangat membantu meningkatkan koordinasi kebijakan fiskal di kawasan euro."
Terhadap yen, mata uang bersama itu bergerak jadi 123,620, setelah melejit ke level tertinggi 13-bulan semalam, dan versus franc Swiss, mata uang  safe-haven  lain, euro mencapai tingkat tertinggi lima bulan, Kamis, dan terakhir di posisi 1,0830.
Indeks Dolar AS (DXY), ukuran  greenback  terhadap sekeranjang enam mata uang utama, berada di jalur untuk pekan ketiga berturut-turut mencatatkan pelemahan, di posisi 96,808, tetap dekat dengan level terendah dalam hampir tiga bulan.
Terhadap yen, dolar diperdagangkan pada 109,11, dan sempat menyentuh tingkat tertinggi dua bulan, yakni 109,235.
Tekanan pada mata uang  safe-haven  mencerminkan optimisme yang luas di pasar keuangan karena pelonggaran pembatasan jarak sosial mendukung harapan pemulihan ekonomi.
Laporan klaim pengangguran mingguan Amerika menunjukkan jumlah warga AS yang mengajukan tunjangan turun di bawah 2 juta, pekan lalu, untuk pertama kalinya sejak pertengahan Maret, namun angka itu masih tiga kali lebih besar dari puncaknya selama krisis keuangan global.
Data ketenagakerjaan resmi AS yang akan dirilis Jumat diperkirakan menunjukkan penggajian non-pertanian turun 8 juta pada Mei setelah rekor kejatuhan 20,537 juta pada bulan sebelumnya.
Tingkat pengangguran diperkirakan meningkat menjadi 19,8%, rekor tertinggi pasca Perang Dunia II, dari 14,7% pada April.
"Pasar dalam pola  risk-on  meski tingkat pengangguran sangat tinggi. Tetapi semua orang masih waspada bahwa  mood  tersebut bisa berubah, dan memberikan perintah  stop-loss  yang ketat. Tidak ada keyakinan yang kuat," kata Bart Wakayabashi, Manajer State Street Bank di Tokyo.
Dolar Australia, sering dilihat sebagai  proxy  risiko di pasar mata uang, berada di posisi USD0,6947, setelah mencapai level tertinggi lima bulan, yakni USD0,6987, pada sesi Kamis.
Dolar Hong Kong melonjak terhadap  greenback  menjadi 7,7500, di ujung kisaran perdagangannya 7,75-7,85 per dolar, untuk kali pertama sejak 21 Mei, mendorong Otoritas Moneter Hong Kong untuk melakukan intervensi pasar. (ef)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM