Dolar AS Melemah Karena Data Ketenagakerjaan, Semua Mata Uang EM Asia Menguat
Friday, September 18, 2020       16:43 WIB

Ipotnews - Semua Mata uang emerging market Asia menguat setelah dolar AS melemah karena data ketenagakerjaan AS tak sesuai harapan. Ditambah janji The Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga acuan sangat rendah telah membebani dolar AS.
Rupiah menguat 0,66%, won 1,22%, dolar Taiwan 1,01%, yuan 0,12%, rupee 0,33%, ringgit 0,29%, peso 0,08%, dolar Singapura 0,06%, dan baht 0,22%. Semua mata uang EM Asia menguat, demikian laporan dari Reuters, Jumat sore.
Nilai tukar rupiah menguat mencapai level tertinggi dalam dua minggu terakhir pada hari Jumat (18/9), sehari setelah Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan tidak berubah 4% dan didukung oleh jaminan BI bahwa kebijakan moneter tidak akan terpengaruh oleh intervensi politik. Bersama won dan dolar Taiwan, rupiah memimpin penguatan mata uang EM Asia.
Penguatan rupiah dan IHSG mmenempatkan keduanya di jalur penguatan mingguan setelah dua minggu mengalami volatilitas yang kuat, karena didorong oleh kekhawatiran tentang perekonomian Indonesia dan usulan untuk mengubah UU BI agar memberikan peran lebih banyak kepada pemerintah dalam pembuatan kebijakan moneter.
Terkait pembahasan revisi UU BI di DPR, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan pada hari Kamis (17/9) bahwa Presiden Joko Widodo dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati telah menjanjikan agar mempertahankan kebijakan moneter BI tetap independen.
"Nampaknya Bank Indonesia ingin mengirimkan pesan tentang kemandirian mereka dengan mempertahankan kurs tidak berubah," kata Ekonom Societe Generale, Kunal Kundu.
"Pertanyaannya tetap apakah perekonomian yang melemah dan potensi pertumbuhan yang lebih rendah dapat diabaikan ke depan?" tandasnya.
Joseph Incalcaterra, Kepala Riset Global HSBC ASEAN mengatakan bahwa peluang untuk memangkas suku bunga mungkin terbuka pada akhir tahun ini, kemungkinan setelah pemilihan presiden AS.
Mayoritas indeks saham EM Asia juga menguat. Indeks saham China menguat 2,07%, India 0,38%, Indonesia 0,31%, Malaysia 0,39%, Korea Selatan 0,26% dan Taiwan 0,02%.
Indeks saham yang melemah adalah Fillipina -0,58%, Singapura -0,12%, dan Thailand -0,04%.
Sebagian besar pasar saham EM Asia mengalami penguatan setelah sehari sebelumnya sejumlah bank sentral global telah memberikan dukungan kebijakan moneter yang memadai.
Indeks saham Singapura melemah setekah kasus virus corona terus muncul di asrama pekerja migran, naik hanya 0,3% pada minggu ini.
Indeks saham Thailand ditutup melemah untuk yang pertama kali dalam minggu ini, sementara sementara baht tetap di jalur penguatan selama dua minggu berturut-turut, menjelang pertemuan Bank of Thailand (BOT) minggu depan. Perekonomian Thailand yang bergantung pada pariwisata dan ekspor selama ini telah mengalami guncangan akibat dari permintaan yang melemah di tengah pandemi virus corona.
"Dalam pandangan saya, kita telah melihat arus keluar modal yang terburuk dari Thailand," kata Nader Naeimi, analis di AMP Capital.
"Katalis paling signifikan untuk arus masuk asing ke Thailand adalah keberhasilan uji coba vaksin Covid-19 Tahap III," katanya.
(Adhitya)

Sumber : admin

powered by: IPOTNEWS.COM


Berita Terbaru

Thursday, Oct 22, 2020 - 11:07 WIB
Agenda RUPS LB Emiten Pekan Depan: Dari Reverse Stock Hingga Rights Issue 
Thursday, Oct 22, 2020 - 10:52 WIB
Impack Pratama Industri (IMPC) tebar dividen interim Rp 48,33 miliar, simak jadwalnya
Thursday, Oct 22, 2020 - 10:47 WIB
MGRO Fokus Naikkan Produksi CPO Hingga 8 Persen Tahun Ini
Thursday, Oct 22, 2020 - 10:39 WIB
Target Price BBCA
Thursday, Oct 22, 2020 - 10:39 WIB
Target Price BBNI
Thursday, Oct 22, 2020 - 10:38 WIB
Target Price BBRI
Thursday, Oct 22, 2020 - 10:37 WIB
Target Price BBTN
Thursday, Oct 22, 2020 - 10:37 WIB
Target Price BMRI
Thursday, Oct 22, 2020 - 10:36 WIB
Target Price INCO
Thursday, Oct 22, 2020 - 10:35 WIB
Target Price KLBF