Dua Hal yang Perlu Diketahui dari Setiap Penawaran Investasi
Tuesday, June 14, 2022       15:51 WIB

Pada artikel sebelumnya yang berjudul  Dua Hal yang Wajib Anda Tanyakan Pada Setiap Penawaran Investasi kita telah membahas  (1) Bagaimana atau dengan cara apa investasi ini bisa gagal , dan (2)  Apa  exit strategy  yang tersedia bagi pemodal . Sama seperti calon pembeli apartemen yang ingin tahu di mana letak pintu darurat jika terjadi kebakaran, Anda sebagai calon pemodal tentu ingin tahu bagaimana caranya menyelamatkan modal yang Anda benamkan dalam projek yang ditawarkan.
Perhatian terbesar Anda pertama-tama haruslah pada  return of capital , baru kemudian pada  return on capital.  Urusan  Return of capital  merupakan urusan Anda sebagai calon pemodal, sedangkan urusan  return on capital  lebih merupakan urusan pemilik projek yang menawarkan investasinya kepada Anda.
Bukan berarti saya mengatakan bahwa  return on capital  sama sekali bukan urusan Anda. Mengenai  return on capital , tugas Anda sebagai calon pemodal adalah mengevaluasi fakta-fakta, dan perhitungan-perhitungan yang dibuat oleh pemilik projek untuk mengetahui kelayakan dari projek investasi yang diajukan.
Oleh karena itu, Anda harus mengajukan dua pertanyaan penting mengenai penawaran investasi tersebut:
1. Bagaimana investasi itu akan membantu mencapai tujuan pribadi dan tujuan portofolio saya?
Kita bahas tujuan portofolio lebih dahulu, karena lebih mudah dimengerti. Tujuan portofolio adalah mencapai  imbal hasil (return) setinggi-tingginya dengan resiko serendah mungkin . Jadi, Anda harus menanyakan: berapa imbal hasil ( return ) investasi ini? dan berapa besar resiko yang akan dihadapi calon pemodal?
Kalau investasi ini merupakan tambahan atas investasi lain yang sudah ada dalam portofolio investasi Anda, maka pertanyaan dalam tujuan portofolio berubah sedikit menjadi:  bagaimana investasi ini akan merubah profil resiko portofolio saya ? dan  bagaimana investasi ini akan mengubah tingkat imbal hasil (return) portofolio yang saya harapkan ?
Ingat, Anda hanya boleh menambah suatu investasi baru ke dalam portofolio jika investasi baru tersebut akan menambah imbal hasil ( return ) yang diharapkan, atau investasi baru tersebut akan menurunkan tingkat resiko portofolio yang ada.
Tingkat imbal hasil investasi ( return ) harus dijelaskan oleh pemilik projek yang menjual ide investasi ini kepada Anda. Tugas Anda sebagai calon pemodal adalah mengevaluasi apakah jawabannya masuk akal atau tidak (kita akan membahasnya lebih mendalam pada pertanyaan uji tuntas ke dua), dan mengevalusi resiko-resiko yang mungkin terjadi.
Di sini saya ambil contoh resiko investasi untuk  paper asset  ( intangible asset ) atau aset tak berwujud seperti saham-saham karena portofolio  paper asset  jauh lebih mudah dianalisa dan ukuran aset dapat dibuat tidak terlalu besar sehingga cocok untuk pemodal ritel.
Resiko investasi dapat ditekan menjadi serendah mungkin dengan cara berinvestasi (terdiversifikasi) hanya pada aset-aset yang tidak berkorelasi, misalnya aset obligasi perusahaan  real estat  (instrumen pendapatan tetap) jangan digabung dengan aset properti ( real estat ) dari penerbit obligasi itu, karena kegagalan perusahaan properti itu untuk membayar kewajiban utangnya akan berpengaruh pada kualitas properti yang dijual.
Selanjutnya kita membahas tujuan pribadi, yang juga harus dipenuhi oleh investasi baru tadi. Tujuan pribadi adalah tercapainya  keselarasan  antara tujuan investasi Anda dengan minat, kemampuan, serta sumber daya yang Anda miliki.
Jika tujuan pribadi ini tidak terpenuhi, akan sulit bagi Anda untuk dapat tetap fokus pada investasi Anda pada saat-saat terjadi 'badai' berupa penurunan nilai investasi yang tiba-tiba, atau melawan godaan untuk menjual investasi Anda ketika nilainya sudah naik cukup tinggi. Misalnya, seseorang ditawari berinvestasi pada peternakan ikan lele, padahal ia alergi dengan ikan lele. Tawaran investasi ini harus ditolak karena tidak memenuhi syarat tujuan pribadi dari pemodal.
2. Apakah investasi itu, secara bisnis masuk di akal?
Tujuan investasi (tujuan portofolio) adalah mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan resiko serendah mungkin. Tugas Anda sebagai calon pemodal adalah mengevaluasi kelayakan dari data-data dan fakta-fakta lainnya yang diajukan oleh pemilik projek bahwa investasi yang diajukannya memang berpeluang untuk memberikan imbal hasil seperti yang ia sebutkan.
Ini adalah tindakan uji tuntas ( due diligence ) yang harus diajukan oleh pemilik modal atas setiap penawaran investasi yang masuk.
Salah satu cara untuk mengevaluasi kelayakan projek investasi yang kami anjurkan adalah dengan menggunakan kerangka ' five competitive forces by Michael Porter '. Pada dasarnya, Michael Porter mengatakan bahwa untuk mengevaluasi kelayakan suatu projek investasi, ada lima hal yang perlu diperhatikan:  (1) Kondisi persaingan dalam industri tersebut, (2) Ancaman dari pendatang baru, (3) Ancaman dari produk substitusi, (4) Posisi tawar menawar dari pemasok, dan (5).Posisi tawar manawar dari pembeli .
Sebagai contoh, misalkan Anda mendapatkan penawaran untuk berinvestasi pada peternakan bebek super, dengan imbal hasil sampai 60% per tahun dari jumlah dana yang Anda investasikan. Anda perlu mengevaluasi kelayakan projek investasi ini dengan menganalisa:
 (1) Persaingan dalam industri peternakan bebek 
Misalnya, Anda harus mencari tahu bagaimana penjualan bebek potong maupun bebek petelur di daerah Anda dan sekitarnya, lalu ada berapa banyak peternak bebek yang telah ada di daerah Anda. Juga, tingkat persaingan di antara mereka, apakah ketat sekali (misalnya sering obral diskon), atau masih tergolong 'biasa' saja, atau masih sedikit sekali persaingannya (karena masih tergolong hal yang baru) di daerah Anda.
 (2) Ancaman pendatang baru. 
Orang sering melupakan adanya ancaman pendatang baru sering dilupakan orang pada waktu membicarakan prospek bisnis investasi yang baru. Investasi di bidang yang baru mungkin sangat menguntungkan, dengan tingkat ROI ( return on investment ) yang sangat tinggi.
Tetapi Anda harus berhati-hati di sini, karena tingkat ROI yang tinggi atau sangat tinggi akan menarik masuknya pendatang-pendatang baru, sehingga tingkat ROI yang tinggi itu akan segera turun dengan munculnya persaingan.
Kesalahan umum yang dibuat oleh pemodal tidak berpengalaman adalah mempercayai begitu saja proyeksi penjualan yang dibuat oleh pemilik projek bahwa tingkat penjualan dan tingkat ROI akan bertahan terus dalam waktu yang lama. Kecuali suatu bisnis dilindungi secara hukum oleh hak paten, maka ancaman pendatang baru harus selalu diperhatikan. Apakah rintangan untuk masuk ( barriers to entry ) bisnis ini cukup tinggi, ataukah tidak ada rintangan untuk masuk dan setiap orang boleh masuk untuk berbisnis?
 (3) Ancaman produk substitusi (produk pengganti) 
Produk substitusi untuk telur dan daging bebek yang paling nyata adalah telur dan daging ayam. Jika harga telur dan daging bebek sudah menjadi terlalu mahal, maka dapat terjadi bahwa pembeli akan beralih ke produk substitusinya yaitu telur ayam dan daging ayam. Jadi, kenaikan harga telur dan daging bebek juga harus dianalisa berdasarkan ketersediaan produk substitusinya.
 (4) Posisi tawar menawar pemasok. 
Pemasok adalah semua pihak yang mensuplai kebutuhan peternakan bebek itu, terutama pemasok makanan dan pemasok obat-obatan untuk bebek. Posisi tawar menawar pemasok menjadi semakin kuat apabila peternak hanya bergantung pada sedikit atau satu-satunya pemasok. Semakin kuat posisi tawar menawar pemasok, semakin lemah posisi tawar menawar peternak bebek. Ini yang harus diperhitungkan oleh calon pemodal peternakan bebek itu.
 (5) Posisi tawar menawar pembeli 
Pembeli adalah semua pihak yang akan membeli produk peternakan bebek itu, yaitu telur bebek dan daging bebek. Jika pembeli hanya satu pihak saja, dan jumlah pembeliannya selalu dalam jumlah besar, maka pembeli ini memiliki posisi tawar menawar yang tinggi. Semakin tinggi posisi tawar menawar pihk pembeli, maka akan semakin rendah posisi tawar menawar peternak bebek.
Jika posisi tawar menawar pembeli sangat tinggi, maka pembeli bisa mendikte harga jual produk daging bebek atau telur bebek dari peternak. Ini hal yang harus diperhitungkan oleh calon pemodal peternakan bebek itu.
Pertanyaan terakhir dari calon pemodal, kalau projek ini memang sangat menguntungkan (seperti yang dijelaskan sebelumnya), tanyakan mengapa pemilik projek harus susah-susah menerangkan keuntungannya kepada calon pemodal awam seperti Anda?
Memperoleh modal usaha, dan sebaliknya, menyalurkan modal ke usaha yang baik dan menguntungkan, sama-sama merupakan bisnis yang kompetitif. Di satu pihak pemilik bisnis berusaha untuk mendapatkan modal yang murah untuk usahanya, di lain pihak, bank sebagai pemilik modal juga berusaha mendanai hanya usaha-usaha yang menguntungkan dan beresiko rendah.
Selain bank, masih ada pihak pemodal lain di luar sana, misalnya bursa efek (pasar modal) atau perusahaan modal ventura. Pihak bank, pihak bursa, dan pihak modal ventura semuanya relatif mudah dihubungi pencari modal karena mereka juga mengiklankan dirinya sebagai pemasok modal kerja dan modal investasi.
Oleh karena itu perlu Anda tanyakan kepada pemilik projek, mengapa mereka harus bersusah payah untuk menjelaskan keuntungan projek investasi ini kalau misalnya mereka dapat menghubungi pihak bank hanya dengan mengangkat telepon saja? Ataukah pihak bank mengetahui sesuatu (resiko) yang diceritakan pemilik projek kepada Anda?
 Oleh: Fredy Sumendap, CFA 

Sumber : IPS

powered by: IPOTNEWS.COM