Efektivitas Kebijakan Moneter AS Menurun, Aliran Modal akan Kembali ke Emeging Market: Ashmore
Sunday, September 20, 2020       13:04 WIB

Ipotnews - Bursa saham Indonesia mengakhiri sesi perdagangan sepekan, Jumat (18/9) dengan membukukan kenaikan 0,41% di posisi 5.059, setelah terkoreksi tajam akibat penerapan kembali PSBB di Jakarta pekan lalu. Investor asing masih melakukan aksi jual ekuitas dengan aliran keluar dana neto sebesar USD260 juta, sementara aliran masuk dana obligasi masih relatif tangguh.
Menurut PT Ashmore Asset Management Indonesia, beberapa peristiwa penting yang mempengaruhi pergerakan modal dalam dan luar negeri sepanjang pekan ini, antara lain;
  • Update virus korona: Lebih dari 30 juta orang di seluruh dunia telah didiagnosis mengidap virus corona dan lebih dari 944.000 telah meninggal, namun sekitar 20,4 juta orang telah pulih. Presiden AS Donald Trump mengangkat harapan - dan kekhawatiran - dengan mengatakan vaksin bisa siap dalam empat minggu.
  • Fluktuasi saham teknologi AS memicu kekhawatiran tentang gelembung yang dapat meledakkan reli pasar. Valuasi NASDAQ saat ini telah mencapai 61,6x P/E, para pengelola dana merotasi dananya ke saham bernilai lebih murah, perusahaan dan industri kecil, serta melakukan rotasi regional.
  • Neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus USD2,3 miliar pada Agustus 2020. Ekspor mengalami kontraksi 8,4% dan impor kembali turun tajam (-32,6%). Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunganya tidak berubah untuk menjaga stabilitas pasar keuangan

Beberapa hal yang perlu diperhatikan menurut Ashmore dalam  Weekly Commentary , (Jumat,18/9), antara lain sebagai berikut
Kejutan baru bukanlah kejutan
Menurut Ashmore, saat gubernur Federal Reserve bertempur dengan pasar, mereka meminjam taktik Perang Dunia I. Ketika itu, jenderal Inggris memberi pengarahan kepada para perwiranya tentang "rencana taktis baru yang brilian" - untuk keluar dari parit mereka dan berjalan sangat lambat ke arah musuh. Keberatan bahwa Inggris telah mencoba melakukan ini sebanyak 18 kali, ditanggapi bahwa taktik ini akan secara brilian memungkinkan untuk membuat Jerman lengah.    "Melakukan persis apa yang telah kita lakukan 18 kali sebelumnya adalah hal terakhir yang ekspektasikan akan kita lakukan kali ini," tulis Ashmore mengutip Sang Jenderal.
Pejabat Federal Reserve menahan suku bunga mendekati nol dan mengisyaratkan mereka akan mempertahankannya setidaknya selama tiga tahun, dan menjanjikan untuk menunda pengetatan moneter sampai AS kembali mencapai lapangan kerja maksimum dan inflasi rata-rata 2%. "The Fed melakukan apa yang diharapkan semua orang, tetapi pada gilirannya telah mendorong banyak orang untuk bertaruh bahwa ini akan menciptakan kondisi sempurna untuk 'kejutan dovish' ketika mereka mencoba melakukan lebih banyak lagi," ungkap Ashmore.
Pengadopsian target inflasi baru oleh The Fed mencerminkan sebuah harapan, inflasi yang lebih tinggi entah bagaimanacaranya dapat membuat orang Amerika percaya bahwa perekonomiannya akan membaik. "Sayangnya, ini tidak akan terjadi," sebut Ashmore.
Pertama, menurut Ashmore, inflasi yang rendah bukanlah masalah utama yang dihadapi perekonomian AS saat ini. Di luar hambatan pertumbuhan akibat guncangan virus korona dan kesalahan kebijakan pemerintah AS dalam menanggapi pandemi, "alasan sebenarnya yang mendasari pertumbuhan yang buruk adalah bahwa kebijakan moneter telah mengalami penurunan efektivitas ( disminsihing returns ) sejak berabad-abad yang lalu, pundi-pundi fiskal mengering, beban hutang sudah di luar batas, siklus bisnis menjadi lebih panjang, tidak ada upaya untuk mengatasi masalah struktural, dan nilai tukar Dolar sudah terlalu tinggi ( overvalue )," papar Ashmore.
Ashmore berpendapat, kondisi tersebut persis seperti yang ditunjukkan oleh reaksi pasar terhadap pengumuman Powell. Imbal hasil naik lebih tinggi, karena pasar obligasi jelas menuntut kompensasi jika inflasi akan naik. Sayangnya, imbal hasiltinggi akan merugikan ekonomi AS.
"Jika pasar obligasi sekarang mulai menaikkan imbal hasil, tidak dapat dihindari, dalam pandangan kami, bahwa Fed akan segera dipaksa untuk melakukan intervensi melalui kontrol kurva imbal hasil untuk kembali menurunkan imbal hasil."
"Fakta bahwa Dolar pada awalnya menguat sebagai tanggapan terhadap pengumuman Fed, situasi ini hanya memberi tahu kita bahwa investor tidak percaya bahwa Fed belum siap untuk mengadopsi kontrol kurva imbal hasil, tetapi tentunya ini sekarang hanya masalah waktu," lanjut Ashmore.
Ashmore berpendapat nilai Dolar sudah terlalu tinggi. Evaluasi berlebihan terjadi sebagai akibat dari arus masuk modal besar-besaran, yang terjadi selama dekade terakhir.
"Oleh karena itu, kemungkinan besar sekitar 10 triliun dolar AS, yang mengalir ke AS dari luar negeri selama puncak QE, akan berangsur-angsur pergi, menekan Dolar dan mengalir kembali ke aset EM." (Ashmore).

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM