Gerak Bursa Saham Wall Street Melandai Terkait Government Shutdown
Saturday, January 12, 2019       06:31 WIB

Ipotnews - Bursa saham Wall Street menorehkan penguatan mingguan secara solid tetapi penghentian aktivitas pemerintah federal USA (government shutdown) dan ketakutan terhadap perlambatan ekonomi China mendorong pelemahan tipis pada akhir trading pekan ini.
Secara mingguan Indeks Dow Jones dan Indeks S&P 500 menguat lebih dari 2 persen pada pekan ini. Sedangkan Indeks Nasdaq naik 3,45 persen secara mingguan. Saham Amazon dan Facebook menguat 4 persen pada pekan ini. Saham Netflix naik 13,45 persen karena para pemodal menempatkan dana mereka pada saham-saham unggulan yang telah melemah dari bulan Desember.
Pada perdagangan Jumat akhir pekan ini, Indeks Dow Jones turun 5,97 poin ke level 23.995. Indeks S&P 500 melemah tipis dan berakhir ke level 2.596 dan Indeks NAsdaq drop 0,2 persen ke posisi 6.971. Pada pekan ini merupakan koreksi pertama indeks utama Wall Street dalam 6 sesi terakhir.
Government Shutdown sebagian masih terjadi pada Jumat yang telah berlangsung selama 21 hari secara langsung. Hal ini memicu kekhawatiran sentimen ini berpotensi negatif dalam jangka panjang. Presiden Donald Trump pada Kamis pekan ini menyatakan akan mengabaikan agenda World Economic Forum di Davos pada akhir bulan ini karena faktor government shutdown.
Trump juga mengatakan dia kemungkinan akan mendeklarasikan darurat nasional jika Gedung Putih dan Kongres gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri government shutdown.
"Kesepakatan (government shutdown) akan tercapai tetapi hanya setelah ekonomi, finansial dan politik tertekan," kata Joseph Song, Analis pada Bank of America Merrill Lynch. Menurutnya setiap 2 pekan government shutdown memangkas 0,1 persen pertumbuhan, kemungkinan menjadi hambatan tambahan karena investasi dan belanja menjadi tertunda.
Kekhawatiran atas kemungkinan perlambatan di China juga membebani pasar saham pada perdagangan hari Jumat.
Analis Goldman Sachs, Karen Holthouse menilai Starbuck akan menjadi perusahaan berikutnya yang memperingatkan perlambatan di China setelah Apple baru-baru ini memangkas target pendapatannya.
"Apple baru-baru ini mengumumkan seraya mengutip ketakutan akan perang dagang dan McDonald mengakui trend melambat di China mulai akhir November," katanya. Karen memangkas rekomendasi saham Starbuck dari Buy menjadi Neutral.
Emiten unggulan di USA, Apple menurunkan target pendapatan triwulan pertama tahun ini, sambil menyertakan perlambatan di China sebagai hal tak terduga. Pada Kamis pekan ini, Chairman the Fed Jerome Powell mengatakan bahwa peringatan menunjukkan ekonomi China melambat. Ini menunjukkan banyaknya belanja konsumen di China. Kata dia pelemahan belanja ritel terlihat oleh tiap orang kabar tentang Apple.
(cnbc/mk)

Sumber : admin

powered by: IPOTNEWS.COM