Harga Emas di Jalur Kenaikan Tahunan Ketiga, Tahun Depan Bisa Berlanjut
Tuesday, December 10, 2019       15:46 WIB

Ipotnews - Laju harga emas yang mengesankan pada tahun 2019 - dibantu oleh gesekan perang perdagangan, kebijakan moneter yang lebih longgar oleh bank-bank sentral terkemuka dunia, dan pembelian oleh bank sentral - berpeluang berlanjut memasuki dekade baru.
Menjelang tahun 2020, BlackRock Inc. menyatakan tetap mendukukung emas sebagai aset lindung nilai. Sedangkan Goldman Sachs Group Inc. dan UBS Group AG memperkirakan harga emas bisa mencapai USD1.600 per ounce - level tertinggi yang sejak 2013.
Harga emas bullion mengarah pada laju kenaikan tahunan terbesar sejak 2010, mengungguli Bloomberg Commodity Spot Index. Namun, dengan gerak bursa ekuitas global yang tetap menguat, dan pasar tenaga kerja AS terbukti tangguh, prospek harga emas menjadi tidak begitu jelas karena adanya ketidakpastian tentang apa yang akan dilakukan bank sentral pada tahun 2020.
"Pertumbuhan ekonomi dan inflasi tetap moderat dan bank sentral terus cenderung akomodatif," kata Russ Koesterich, manajer portofolio BlackRock Global Allocation Fund. "Dalam kondisi seperti ini, setiap guncangan terhadap ekuitas cenderung berasal dari kekhawatiran terhadap pertumbuhan dan, atau gejolak geopolitik. Untuk kedua skenario itu, emas cenderung membuktikan sebagai lindung nilai yang efektif," imbuhnya seperti dikutip Bloomberg, Selasa (10/12).
Harga emas di pasar spot - terakhir diperdagangkan pada sekitar USD1.460 per ounce - naik 14% tahun ini, berada di jalur kenaikan tahunan ketiga dalam empat tahun terakhir. Satu-satunya penurunan adalah sebesar 1,6% pada tahun 2018. Pada September lalu, harga logam mulia ini mencapai USD1.557,11, tertinggi sejak 2013. Meskipun kepemilikan ETF emas telah berkurang, meskipun tetap mendekati rekor.
Bloomberg memprakirakan, risiko geopolitik dan ekonomi kemungkinan akan tetap bermunculan pada tahun 2020, seperti yang terjadi sepanjang tahun ini, sehingga tetap mendukung emas. Perjanjian perdagangan fase satu AS-China kemungkinan akan tercapai pada tahun depan, meskipun AS mengancam akan mengenakan tarif tambahan pada lebih banyak impor barang China, jika kesepakatan tidak tercapai 15 Desember.
Pemilihan presiden AS yang akan digelar pada November tahun depan, dan sebelum itu ada kemungkinan akan terjadi  impeachment  pada dari petahana. Siapa yang tahu apa yang dilakukan presiden AS selanjutnya. Dia telah mengejutkan kita berkali-kali," kata Giovanni Staunovo, analis komoditas di UBS Wealth Management.
Meskipun harga emas banyak didukung oleh perang perdagangan yang sedang berlangsung, aset berisiko seperti ekuitas AS juga mendapat dukungan dari optimisme tentang kemungkinan adanya terobosan dalam perundingan perang dagang AS-China.
Lalu aset mana yang akan menang dan mana yang merosot? Kristina Hooper dari Invesco Ltd. berpendapat, prospek untuk kenaikan emas antara 5% hingga 8% tahun depan, berpikir bahwa saham akan lebih baik daripada emas.
Emas akan "memiliki periode kinerja terbaik, ketika kita mengambil risiko," kata Hooper, kepala strategi pasar global di manajer aset. Namun, "ketika kita melihat ke tahun 2020, emas tidak akan menjadi salah satu aset berkinerja terkuat. Ekuitas akan berkinerja lebih baik, real estat akan berkinerja lebih baik dan logam industri akan berkinerja lebih baik."
Tetapi jika ada pelemahan ekonomi pada tahun 2020, saham akan menurun dan The Fed kemungkinan akan melanjutkan penurunan suku bunga. Menurut Chris Mancini, analis di Gabelli Gold Fund, pada saat itulah bullion yang tidak menghasilkan bunga akan meningkat.
BNP Paribas SA memperkirakan, The Fed akan melakukan pemotongan suku bunga dua kali lagi, pada semester pertama tahun depan. Imbal hasil rendah, bersama dengan antisipasi pelemahan dolar dan kemungkinan kebijakan reflasi, akan terus mendukung harga emas.
Pembelian emas oleh bank sentral kini muncul sebagai pilar permintaan yang penting, termasuk pembelian oleh Cina. Menurut Goldman Sachs, bank-bank sentral mengkonsumsi seperlima dari pasokan global, menandakan pergeseran dari dolar dan mendorong investor untuk ikut membeli emas.
"Saya akan menyukai emas lebih baik daripada obligasi karena obligasi tidak akan mencerminkan de-dolarisasi," kata Jeff Currie, kepala penelitian komoditas global di Goldman.
Citigroup Inc., menyerankan, jika harga aset berisiko terus reli investor harus membeli penurunan emas dan menargetkan tertinggi baru. "Emas tidak dapat sepenuhnya menggantikan obligasi pemerintah dalam portofolio, tetapi untuk kasus realokasi sebagian dari eksposur obligasi, maka normal jika emas tetap sekuat sebelumnya," tulis analis Goldman dalam catatannya kepada klien.
"Kami masih melihat kenaikan pada emas, sebagai siklus akhir kekhawatiran, dan meningkatnya ketidakpastian politik kemungkinan akan mendukung permintaan investasi" untuk emas sebagai aset defensif. (Bloomberg)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM