Hingga Akhir Tahun, BI Diprediksi Paling Banter Naikkan Suku Bunga Total 50 Bps
Friday, June 24, 2022       10:29 WIB

Ipotnews - Sampai akhir tahun ini, BI diprediksi akan menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar maksimal 50 basis poin, menyusul Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22-23 Juni 2022 yang memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan sebesar 3,50%.
Pengamat ekonomi, Ryan Kiryanto mengatakan keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan kemarin sudah tepat. BI menurutnya memang tidak perlu terlalu terburu-buru menaikkan suku bunga acuan. "Hanya karena bank sentral utama Federal Reserve agresif menaikkan suku bunga acuan, bukan berarti bank sentral di seluruh dunia harus mengekor," kata Ryan saat dihubungi Ipotnews, Jumat (24/6).
Ryan menilai kebutuhan BI menaikkan BI7DRR bergantung perkembangan data inflasi Indonesia ke depan. Apabila inflasi bulan Juli 2022 ternyata masih di bawah 4%, masih ada kemungkinan BI akan tetap mempertahankan suku bunga acuan. "Perkiraan saya sepanjang Semester II 2022, kalaupun menaikkan, BI hanya akan menaikkan sebesar 50 basis poin. Artinya BI7DRR pada akhir tahun ini hanya akan naik sampai 4%," ujar Ryan.
Ryan menegaskan BI tidak hanya akan mempertimbangkan faktor inflasi dan stabilitas kurs rupiah terhadap dolar AS. Walau bagaimanapun BI juga melihat Indonesia masih membutuhkan mesin pertumbuhan ekonomi yang tinggi melalui suku bunga kredit perbankan yang rendah. "'Karena tidak ada gunanya kalau inflasi kita rendah dan kurs rupiah kita stabil, tetapi ekonomi Indonesia tidak tumbuh tinggi," tutup Ryan.
Sejalan menahan suku bunga acuan, BI kemarin menetapkan suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25%. "Untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) tetap 3,50 persen," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan Bulan Juni 2022 hari ini, Kamis (23/6).
Perry mengatakan keputusan ini sejalan dengan perlunya pengendalian inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar, serta tetap mendukung pertumbuhan ekonomi, di tengah naiknya tekanan eksternal terkait dengan meningkatnya risiko stagflasi di berbagai negara.
Meski demikian, Gubernur BI Perry Warjiyo juga menegaskan masuknya aliran net inflow USD1,5 miliar turut menjadi pertimbangan. BI memperkirakan pada akhir tahun neraca pembayaran juga masih terjaga dengan defisit 0,5% - 1,3% dari PDB. Neraca pembayaran sendiri ditopang harga komoditas yang tinggi.
Perry mengakui nilai tukar rupiah mengalami tekanan. Hal yang sama juga dialami negara lainnya. "Seiring ketidakpastian global," tutup Perry.(Adhitya)

Sumber : admin

powered by: IPOTNEWS.COM