Inflasi Amerika Memanas, Wall Street Catat Kerugian Terbesar Dalam Dua Tahun
Wednesday, September 14, 2022       04:43 WIB

Ipotnews - Aksi jual yang luas mengirim bursa ekuitas Wall Street terguncang, Selasa, setelah laporan inflasi yang lebih panas dari perkiraan menghancurkan harapan bahwa Federal Reserve dapat mengalah dan mengerem laju pengetatan kebijakannya dalam beberapa bulan mendatang.
Ketiga indeks utama Wall Street merosot tajam, menghentikan kenaikan beruntun empat hari dan mencatat persentase penurunan satu hari terbesar sejak Juni 2020 selama pergolakan pandemi Covid-19, demikian laporan  Reuters  dan  CNBC ,  di New York, Selasa (13/9) atau Rabu (14/9) pagi WIB.
Melesatnya sentimen penghindaran risiko menarik setiap sektor utama jauh ke wilayah negatif, dengan teknologi yang sensitif terhadap suku bunga dan  market leader  yang berdekatan dengan teknologi, dipimpin Apple Inc, Microsoft Corp dan Amazon.com Inc paling membebani.
"(Aksi jual) tersebut bukanlah kejutan mengingat reli menjelang rilis data itu," kata Paul Nolte, Manajer Portofolio Kingsview Asset Management di Chicago.
Indeks harga konsumen (IHK) Departemen Tenaga Kerja berada di atas konsensus, mengacaukan tren pendinginan dan memupuskan harapan bahwa Federal Reserve dapat mengalah setelah September dan mengurangi kenaikan suku bunganya.
IHK inti, yang meniadakan harga makanan dan energi yang  volatile , meningkat lebih dari ekspektasi, naik menjadi 6,3% dari 5,9% pada Juli.
Laporan tersebut menunjukkan "inflasi yang sangat persisten dan itu berarti The Fed akan tetap terlibat dan menaikkan suku bunga," papar Nolte. "Dan itu adalah kutukan bagi ekuitas."
Pasar keuangan telah sepenuhnya memperkirakan kenaikan suku bunga setidaknya 75 basis poin pada akhir pertemuan kebijakan FOMC minggu depan, dengan probabilitas 32% untuk kenaikan besar dan persentase poin penuh untuk target Fed funds rate, menurut alat FedWatch CME.
"The Fed telah menaikkan (suku bunga) tiga poin persentase penuh dalam enam bulan terakhir," kata Nolte. "Kita belum merasakan dampak penuh dari semua kenaikan itu. Tapi kita akan merasakannya."
"Kita berada di ambang pintu resesi."
Kekhawatiran tetap menghantui bahwa periode pengetatan kebijakan yang berkepanjangan dari The Fed dapat mengarahkan ekonomi ke ambang resesi.
Inversi imbal hasil pada US Treasury dua dan 10-tahun, dianggap sebagai bendera merah dari resesi yang akan datang, semakin melebar.
Dow Jones Industrial Average ditutup anjlok 1.276,37 poin, atau 3,94%, menjadi 31.104,97, S&P 500 kehilangan 177,72 poin, atau 4,32%, menjadi 3.932,69 dan Nasdaq Composite Index merosot 632,84 poin, atau 5,16%, menjadi 11.633,57.
Semua 11 sektor utama S&P 500 mengakhiri sesi jauh di wilayah merah.
Hanya lima saham di S&P 500 yang berakhir di wilayah positif. Saham teknologi terpukul sangat keras, dengan perusahaan induk Facebook, Meta, tergelincir 9,4% dan raksasa chip Nvidia terperosok 9,5%.
Penurunan tersebut menghapus hampir semua reli baru-baru ini bagi saham Wall Street, menarik S&P 500 kembali ke penutupan 6 September di 3.908 dan menyebabkan beberapa trader melirik kembali pada pertengahan Juni, ketika indeks tersebut jatuh di bawah level 3.700.
"Saya pikir kita bahkan dapat kembali dan menguji ulang posisi terendah Juni," ujar Direktur UBS, Art Cashin.
"Tentu saja 3.900 sangat menggoda, dan kita mundur di bawah rata-rata pergerakan 50 hari (MA50) di sini. Ini sangat banyak tentang teknikalnya. Bukan hanya satu angka yang membuat perekonomian menjadi kacau balau. Itu berarti banyak orang yang membuat spekulasi awal yang menguntungkan terjebak."
Aksi jual tersebut sangat menyakitkan di area pasar dengan pertumbuhan tinggi. Cloudflare turun lebih dari 10%, sementara Unity Software merosot sekitar 13,4%. Saham pengecer mobil Carvana longsor 12,9%.
Volume di bursa Wall Street tercatat 11,58 miliar saham, dibandingkan rata-rata 10,33 miliar selama 20 hari perdagangan terakhir. (ef)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM


Berita Terbaru

Sunday, Nov 27, 2022 - 11:18 WIB
Selama Sepekan, Nilai Transaksi Harian BEI Anjlok 16,2% Jadi Rp10,4 Triliun
Sunday, Nov 27, 2022 - 10:21 WIB
Perlambatan Global Terutama Berdampak pada Ekspor dan Harga Komoditas … Krisis Energi Menguntungkan Indonesia - Ashmore
Sunday, Nov 27, 2022 - 08:59 WIB
Kinerja Keuangan BSSR 3Q 2022
Sunday, Nov 27, 2022 - 08:55 WIB
Kinerja Keuangan HADE 3Q 2022
Sunday, Nov 27, 2022 - 08:51 WIB
Kinerja Keuangan ARII 3Q 2022
Sunday, Nov 27, 2022 - 08:47 WIB
Kinerja Keuangan INPP 3Q 2022
Sunday, Nov 27, 2022 - 08:44 WIB
Kinerja Keuangan RAJA 3Q 2022
Sunday, Nov 27, 2022 - 08:40 WIB
Kinerja Keuangan GSMF 3Q 2022
Sunday, Nov 27, 2022 - 08:39 WIB
Kinerja Keuangan BTEL 3Q 2022
Sunday, Nov 27, 2022 - 08:10 WIB
Perubahan Kepemilikan Saham BBYB