Investasi Saat Volatilitas Tinggi ... Ini Pilihannya
Wednesday, November 06, 2019       13:49 WIB

Dalam rentang waktu 3 bulan terakhir, Bank Indonesia (BI) secara bertahap melakukan penurunan suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI7 DRRR ) sebesar 50 basis poin (bps) dari 6% menjadi 5,50%.
Kebijakan tersebut konsisten dengan rendahnya prakiraan inflasi yang berada di bawah titik tengah sasaran, tetap menariknya imbal hasil investasi aset keuangan domestik sehingga mendukung stabilitas eksternal, serta sebagai langkah  pre-emptive  untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi ke depan dari dampak perlambatan ekonomi global (Sumber: Siaran Pers BI, 22 Agustus 2019).
Kebijakan penurunan suku bunga yang dilakukan oleh BI juga diikuti oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang menurunkan suku bunga penjaminan simpanan Rupiah pada bank umum sebesar 0,25% menjadi 6,75%. Pada akhirnya, kondisi tersebut tentunya akan berdampak terhadap imbal hasil yang diterima oleh nasabah.
Di sisi lain, pasar obligasi tentunya mendapat "berkah" tersendiri dengan tren penurunan suku bunga yang terjadi saat ini, khususnya Obligasi Pemerintah. Berdasarkan Infovesta.com per tanggal 19 September 2019, dalam kurun waktu 3 bulan,  infovesta government bond index  mencatatkan kenaikan sebesar 3,05% mengalahkan kinerja dari Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) yang dalam periode yang sama hanya memberikan keuntungan sebesar 0,31% .
Diprediksi sampai dengan akhir tahun 2019, pasar masih akan dipenuhi oleh volatilitas yang tinggi karena isu perang dagang yang belum mereda, serta kebijakan suku bunga rendah dari Bank Sentral yang masih akan terus berlanjut guna menetralkan efek negatif dari perang dagang.
Konsensus memperkirakan mayoritas bank sentral, seperti Bank Sentral Amerika, Bank Sentral Eropa dan juga negara lain akan kembali melakukan 1 kali penurunan suku bunga acuan di sisa tahun 2019. Sementara Bank Indonesia diperkirakan juga akan melakukan langkah serupa mengingat nilai tukar mata uang IDR yang stabil.
Dengan melihat kondisi sebagaimana tersebut di atas maka investasi pada Reksa Dana Pendapatan Tetap merupakan instrumen investasi yang tepat. PT Danareksa Investment Management memiliki 2 (dua) Reksa Dana Pendapatan Tetap unggulan yang dapat menjadi pilihan bagi investor untuk melakukan investasi, salah satunya Danareksa Melati Pendapatan Utama.
Danareksa Melati Pendapatan Utama merupakan Reksa Dana Pendapatan Tetap berdenominasi IDR yang memiliki strategi berinvestasi pada obligasi pemerintah dan/atau obligasi korporasi dengan rating minimal A. Dengan pengelolaan aktif yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi ekonomi maupun kondisi pasar obligasi, Danareksa Melati Pendapatan Utama mampu secara konsisten memberikan imbal hasil optimal bagi investor.
Berdasarkan data infovesta per tanggal 31 Agustus 2019, Danareksa Melati Pendapatan Utama memberikan imbal hasil 1 tahun sebesar 16,38 %  outperform  terhadap rata-rata  infovesta fixed income fund index  yang memberikan imbal hasil sebesar 7,89 %. Jadi tunggu apalagi. Tetaplah Berinvestasi. (*)

Sumber : PT Danareksa Investment Management

powered by: IPOTNEWS.COM


Berita Terbaru

Tuesday, Jan 28, 2020 - 11:18 WIB
BPS Rombak Metodologi Pengukuran Inflasi Dan NTP
Tuesday, Jan 28, 2020 - 11:16 WIB
Target Price LPKR
Tuesday, Jan 28, 2020 - 11:16 WIB
Target Price PWON
Tuesday, Jan 28, 2020 - 11:15 WIB
Target Price RALS
Tuesday, Jan 28, 2020 - 11:14 WIB
Target Price SMGR
Tuesday, Jan 28, 2020 - 11:07 WIB
Nilai Investasi KRAS di Proyek HSM#2 Mencapai USD515,6 Juta
Tuesday, Jan 28, 2020 - 11:04 WIB
PRDA Siapkan Capex Rp350 Miliar untuk Danai Ekspansi
Tuesday, Jan 28, 2020 - 10:53 WIB
Refinancing, Garuda akan Terbitkan Sukuk Global Rp 6,8 T
Tuesday, Jan 28, 2020 - 10:51 WIB
Kena Tsunami Baja Impor, Krakatau Steel Pangkas 3.500 Pekerja
Tuesday, Jan 28, 2020 - 10:20 WIB
IHSG Tertekan Entry Point ke ETF, Berikut Sejumlah Pilihannya...