Investasi di Masa Resesi, Yes or No?
Thursday, September 03, 2020       17:25 WIB

Boom...! Tidak ada yang menduga. Tahun 2020 penuh kejutan. Kita berhadapan dengan wabah pandemi yang berawal dari 1 kota di China, yaitu Wuhan dan menyebar ke seluruh dunia. Ekspektasi tahun 2020 adalah adanya perbaikan ekonomi menuju arah yang lebih baik, setelah perlambatan ekonomi negara akibat perang dagang AS-China di 2019.
Sampai artikel ditulis wabah pandemi ini masih menyebar dan kasusnya terus bertambah setiap hari. Pandemi ini tentu mengubah semua cara kita berkegiatan sehari-hari, dari penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB ) yang membuat pegawai-pegawai yang biasa bekerja dikantor berubah menjadi bekerja dari rumah (berlaku juga untuk kegiatan sekolah dan kuliah), kewajiban penggunaan masker di area publik, mencuci tangan, penggunaan  hand sanitizer  dan lain-lain.
Perubahan-perubahan yang terjadi ini mengakibatkan kondisi yang lebih banyak negatifnya dibanding positifnya. Mulai dari korban jiwa dan  suspect  positif yang tiap hari bertambah dan banyaknya perusahaan yang melakukan efisiensi, baik penutupan cabang, menunda ekspansi bisnis, sampai efisiensi pegawai atau pemutusan hubungan kerja(PHK), baik dengan pesangon maupun tidak. Tentu ini berpengaruh ke data-data ekonomi kita, seperti data PDB kuartal II-2020 yang menjadi -5,32% YoY, dan -4,19% QoQ akibat pemberlakuan PSBB .
Pertanyaannya adalah apakah Indonesia akan menuju resesi? Mungkin saja. Banyak negara sudah mengalami resesi. Sampai artikel ini ditulis sudah 43 negara masuk ke dalam resesi seperti Inggris, Jerman, Singapura, Thailand, dan lain-lain. Pengertian resesi sendiri adalah kondisi ketika produk domestik bruto menurun atau ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun.
Lalu apa yang harus dilakukan? Berkaca dari Indeks Harga Saham Gabungan di tahun 2008 yang mengalami koreksi cukup dalam ke  bottom -nya sebesar -57,93%, dan 1 tahun kemudian naik 126% dari  bottom -nya di 2009, lalu naik 452% dalam 10 tahun kemudian, ,emjadikan investasi saham sebagai salah satu instrumen yang sangat menarik. Sedangkan investasi di mata uang/ currency  seperti dollar dengan periode pengukuran yang sama mengalami kenaikan 19,66%.
Dapat kita katakan investasi di saham adalah investasi yang menghasilkan  return  tertinggi dan juga  risk  yang tinggi. Bagaimana me- manage risk tersebut? Tentu dengan diversifikasi portofolio saham yang kita miliki, cara mudahnya adalah dengan membeli reksadana.
Reksadana adalah instrumen investasi yang menghimpun dana dari masyarakat untuk ditempatkan dalam portofolio efek oleh Manajer Investasi. Dengan pengelolaan secara profesional dan terdiversifikasi dengan baik, instrumen ini sangat disarankan bagi mereka yang baru memulai investasi atau tidak punya waktu dalam mengelola portofolionya sendiri.
Selanjutnya, bagaimana kita memulai berinvestasi?
Pertama, penuhi dulu dana darurat.  Rule of thumb -nya jika kita  single /lajang setidaknya harus memiliki dana darurat sebesar 6 kali jumlah pengeluaran bulanan. Jika menikah tapi tidak memiliki anak, sebesar 9 kali jumlah pengeluaran bulanan, dan terakhir jika menikah memiliki anak adalah 12 kali jumlah pengeluaran bulanan rumah tangga.
Ada baiknya rekening untuk dana darurat ini dipisahkan dari rekening lain supaya dana ini tidak terpakai tanpa sengaja. Dana darurat ini sangatlah penting ketika dimasa resesi, karena dana ini bisa digunakan untuk mencukupi kebutuhan pokok atau mendadak sehingga keperluan kita ataupun keluarga tercukupi.
Kedua, cukupi kebutuhan, tunda semua gengsi. Maksudnya adalah, apakah kita karyawan yang masih menerima upah atau pengusaha yang menerima pendapatan dari kegiatan bisnis, tentu kita tidak tahu bagaimana kondisi ekonomi ke depan. Sementara itu, pandemi berdampak terhadap baik gaji atau  profit  kita. Tentu pemenuhan kebutuhan pokok menjadi hal yang utama dibanding kebutuhan gengsi sementara.
Ketiga, asuransi swasta/BPJS Kesehatan. Asuransi dan BPJS Kesehatan sangat berguna untuk proteksi. Jika terjadi sesuatu pada kondisi kesehatan, kita bisa mengkovernya dengan asuransi yang kita miliki. Jadi, kita bisa mencegah pengeluaran mendadak yang cukup besar.
Keempat, ketahui profil risiko dulu sebelum berinvestasi. Hal ini penting untuk mengetahui seberapa banyak risiko yang bisa ditolerir oleh individu ke depannya. Jangan sampai kita berinvestasi pada instrumen yang agresif, tetapi ternyata profil resiko kita ternyata konservatif. Tentu ini akan menimbulkan kekecewaan.
Kelima, tentukan tujuan dan jangka waktu, baik jangka waktu pendek, menengah maupun panjang. Tentu masing-masing jangka waktu tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan. Hal yang perlu diketahui adalah semakin panjang waktu investasi, semakin baik hasilnya.
Setelah kita tahu mana instrumen terbaik, bagaimana kita akan berinvestasi?
Kita tentu juga perlu tahu dimana kita bisa membeli produk-produk investasi tersebut (di sini kita hanya membahas produk saham dan reksadana). Untuk bertransaksi saham, kita dapat melakukan transaksi di broker saham/sekuritas.
Sekarang ini cukup mudah untuk berinvestasi di sekuritas, yakni dengan mengunjungi https://www.idx.co.id/investor/buka-rekening-online/ dan memilih untuk buka rekening.
Rekomendasi kami adalah Indo Premier Sekuritas karena segalanya menjadi mudah saat kita sudah memiliki rekening saham di Indo Premier Sekuritas. Kita juga bisa membeli reksadana di IPOTFUND.
IPOTFUND adalah platform investasi reksadana online dari Indo Premier dengan produk-produk reksadana yang diseleksi cukup ketat, seperti Danakita Investasi Fleksibel (BF) dan Danakita Stabil Pasar Uang(MM) dari PT Danakita Investama.
So, investasi dimasa resesi adalah kesempatan terbaik untuk berinvestasi dan ini adalah periode yang terjadi 10 tahunan/jarang sekali terjadi. Ketika produk-produk saham menyentuh  all time low -nya, tentu ada beberapa sektor yang menarik. Akan tetapi, penting untuk tetap mendiversifikasi atau mudahnya membeli produk reksadana yang telah terdiversifikasi dengan baik dan dikelola oleh profesional.
Kemudian, penuhi juga dana darurat terlebih dahulu sebelum berinvestasi, karena ada banyak risiko dalam kehidupan baik itu mengenai pekerjaan yang kita jalani atau usaha yang kita buat tentu berpengaruh baik atau buruk pada kehidupan kita, serta kita harus memproteksi juga dengan penggunaan asuransi.
Ada kutipan yang sangat menarik dari orang yang gaya hidup serta filosofi investasinya bisa kita tiru, yaitu pak Lo Kheng Hong, "Harta karun kekayaan terbesar yang ada di dunia adanya di pasar modal, bukan dibawah laut. Niatnya nyata dan transparan. Sangat disayangkan bila ada orang yang tidak mengenal pasar modal".
Oleh: Christian. ME, Fund Manager PT Danakita Investama

Sumber : PT Danakita Investama

powered by: IPOTNEWS.COM