Kebuntuan Perundingan Brexit Terkait Isu Irlandia Utara Dorong Penguatan Rupiah
Thursday, July 22, 2021       16:40 WIB

Ipotnews - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup menguat pada sore ini. Kebuntuan perundingan brexit serta mulai berkurangnya lonjakan kasus baru Covid-19 di Indonesia menjadi sentimen positif.
Mengutip data Bloomberg, Kamis (22/7) pukul 15.00 WIB, kurs rupiah akhirnya ditutup pada level Rp14.482 per dolar AS. Posisi tersebut menunjukkan penguatan 60 poin atau 0,41% dibandingkan dengan posisi penutupan pasar spot pada Rabu sore kemarin (21/7) di level Rp14.542 per dolar AS.
Direktur PT. TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi, mengatakan penguatan rupiah karena indeks dolar AS melemah di hari Kamis. Penyebabnya adalah kebuntuan negosiasi antara Inggris dan Uni Eropa. "Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan pemerintahnya akan menguraikan pendekatannya terkait isu Protokol Irlandia Utara ke parlemen Inggris pada hari Rabu kemarin," kata Ibrahim dalam keterangan resmi, Kamis sore.
Penolakan Uni Eropa untuk merundingkan kembali kesepakatan Brexit yang mengatur Irlandia Utara sehingga perundingan UE dengan Inggris mengalami kebuntuan. Pasalnya, pemerintah Boris Johnson memperingatkan akan menangguhkan bagian dari perjanjian jika UE tidak mengalah.
David Frost, Menteri Inggris untuk urusan UE, meminta UE untuk secara substansial menulis ulang Protokol Irlandia Utara yang kontroversial, bagian dari perjanjian pemisahan Inggris yang mengatur perdagangan dan pasar untuk wilayah tersebut. UE menolak permintaan itu.
"Menghormati kewajiban hukum internasional sangat penting. Kami tidak akan menyetujui negosiasi ulang," kata Wakil Presiden Komisi Eropa Maros Sefcovic dalam sebuah pernyataan, dilansir Bloomberg, Kamis (22/7).
Di bawah ketentuan protokol itu, barang yang melintas dari Inggris ke Irlandia Utara menghadapi pemeriksaan dan prosedur pabean seolah-olah mereka menyeberang ke UE. Politisi di Irlandia Utara dan Inggris telah mengeluh bahwa perbatasan perdagangan yang efektif di Laut Irlandia mengancam integritas teritorial Inggris dan telah menyebabkan pengurangan arus perdagangan ke wilayah tersebut.
Uni Eropa telah lama bersikeras bahwa protokol itu harus dilaksanakan seperti yang dirancang semula, untuk melindungi pasar tunggal dan mencegah Irlandia Utara digunakan sebagai pintu belakang untuk penyelundupan ke dalam blok tersebut.
Pada Maret lalu, UE memulai tindakan hukum terhadap Inggris setelah secara sepihak menunda penegakan sebagian dari perjanjian tersebut.
Faktor kedua yang mendorong pelemahan dolar AS adalah investor sekarang menunggu keputusan kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB) dini hari nanti. Pelaku pasar memperkirakan ECB secara luas diperkirakan akan mempertahankan sikap dovish dan menerapkan perubahan dalam strateginya untuk pertama kalinya.
"ECB secara luas diperkirakan akan tetap bersikap dovish," jelas Ibrahim.
Dari dalam negeri. Rabu kemarin, penambahan kasus Covid-19 dilaporkan sebanyak 33.772 orang, turun dari hari sebelumnya 38.257 orang. Penambahan kasus kemarin juga merupakan yang terendah sejak 6 Juli, dan sudah cukup jauh di bawah rekor penambahan 56.757 yang dicatat pada Kamis pekan lalu. Ini menjadi sentimen positif yang mendorong penguatan kurs rupiah.
"Terus menurunya kasus Covid-19 memperbesar peluang dilonggarkannya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat ( PPKM ) Mikro Darurat atau yang saat ini disebut PPKM Level 3 dan 4, pada 26 Juli mendatang," jelas Ibrahim.
(Adhitya)

Sumber : admin

powered by: IPOTNEWS.COM