Kekhawatiran Penularan Krisis Evergrande Mereda, Mata Uang Berisiko Reli
Monday, September 27, 2021       16:39 WIB

Ipotnews - Dolar Australia yang sensitif terhadap risiko menguat dan  safe-haven  yen merosot ke level terendah hampir tiga bulan, Senin, karena kekhawatiran penularan pasar yang meluas dari China Evergrande Group mereda.
Melonjaknya harga komoditas juga membantu Aussie dan crown Norwegia, sementara yen tertekan karena imbal hasil US Treasury yang lebih tinggi menarik dana investor Jepang, demikian laporan  Reuters,  di London, Senin (27/9).
Euro diperdagangkan sedikit berubah di USD1,17205, sebagian besar mengabaikan perkembangan dalam pemilu Jerman, akhir pekan lalu, dengan Demokrat Sosial diproyeksikan mengalahkan blok konservatif CDU/CSU.
Indeks Dolar (Indeks DXY), yang mengukur  greenback  terhadap sekeranjang enam mata uang utama, berada di tengah kisaran minggu lalu, diperdagangkan sedikit lebih tinggi di 93,40.
"Tampaknya ini adalah kelanjutan dari minggu lalu, beta tinggi berkinerja baik,  safe-haven  tertinggal, dengan pasar FX benar-benar hanya mengikuti peningkatan sentimen yang kita lihat secara lebih luas - saham menghentikan kejatuhan dua pekan, dan imbal hasil melesat," kata Michael Brown, analis Caxton FX.
Imbal hasil US Treasury melambung ke level tertinggi sejak awal Juli untuk mengantisipasi kebijakan moneter Amerika Serikat yang lebih ketat setelah Federal Reserve, pekan lalu, mengumumkan bahwa mereka mungkin mulai mengurangi stimulus secepatnya setelah November dan kenaikan suku bunga mungkin mengikuti lebih cepat dari ekspektasi.
"Dolar AS kemungkinan akan tetap terjebak dalam  cross-current  FOMC yang lebih  hawkish  dan memudarnya kekhawatiran seputar potensi gagal bayar Evergrande," tulis analis Commonwealth Bank of Australia.
"Namun demikian, risikonya condong ke USD yang lebih kuat," dengan kekhawatiran Evergrande tidak mungkin memicu tingkat volatilitas pasar minggu lalu, kata mereka.
Kekhawatiran bahwa pengembang terbesar kedua di China, Evergrande, dapat gagal membayar utangnya senilai USD305 miliar menghantui pasar dalam beberapa pekan terakhir, tetapi beberapa dari ketakutan akan penularan tersebut mulai surut.
Bank Sentral China menyuntikkan 100 miliar yuan (USD15,5 miliar) ke dalam sistem keuangan, Senin, menambah kucuran 320 miliar yuan minggu lalu, terbesar sejak Januari.
Yen melemah sejauhnya 110,81 per dolar, menyamai level terendah pada 7 Juli, sebelum diperdagangkan sedikit lebih kuat dari akhir pekan lalu di 110,645.
Itu mengikuti pergerakan imbal hasil US Treasury 10-tahun, yang menyentuh 1,4660% untuk hari kedua pada sesi Senin, level tertinggi sejak 2 Juli, sebelum turun kembali ke posisi 1,4527%.
"Korelasi antara imbal hasil obligasi AS dan USDJPY meningkat," kata Chris Weston, Kepala Riset Pepperstone di Melbourne.
"USDJPY terlihat sedikit melebar, jadi saya akan berhati-hati untuk mengejar di sini, tetapi saya akan mencari pengujian ulang di 110,50 sebagai zona support potensial dalam apa yang merupakan tren  bullish  progresif."
Aussie naik 0,37% menjadi USD0,72835, bangkit dari USD0,72205 seminggu lalu, tingkat terendah sejak 24 Agustus.
Crown Norwegia menguat sekitar 0,4% dan menyentuh 8,5493 per dolar untuk pertama kalinya sejak 6 Juli.
Dolar Kanada bertambah sekitar 0,3% menjadi 1,2622 per  greenback. 
Penguatan itu terjadi karena minyak mentah Brent melesat untuk hari kelima, ditutup pada posisi USD80 per barel, sementara bijih besi, tembaga dan logam industri lainnya meningkat.
Petinggi bank sentral akan menjadi fokus minggu ini, dengan Chairman The Fed Jerome Powell bergabung dengan Menteri Keuangan Janet Yellen untuk berbicara di hadapan Kongres, Selasa.
Bank Sentral Eropa menjadi tuan rumah forum tahunan pada Selasa dan Rabu, dengan tidak hanya Presiden ECB Christine Lagarde berbicara untuk membuka acara tersebut pada hari pertama, tetapi juga bergabung dengan diskusi panel pada hari kedua dengan Powell, Gubernur Bank of Japan Haruhiko Kuroda dan Gubernur Bank of England Andrew Bailey. (ef)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM