Kenaikan Kasus Global Covid-19 Masih Membuat Rupiah Tertekan
Monday, July 19, 2021       16:17 WIB

Ipotnews - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah sore ini. Tingginya kenaikan kasus baru Covid-19 secara global membuat dolar AS terus menguat dan rupiah terdepresiasi.
Mengutip data Bloomberg, Senin (19/7) pukul 15.00 WIB, kurs rupiah akhirnya ditutup pada level Rp14.517 per dolar AS. Posisi tersebut menunjukkan pelemahan 20 poin atau 0,14% dibandingkan dengan posisi penutupan pasar spot pada akhir pekan Jumat sore kemarin (16/7) di level Rp14.497 per dolar AS.
Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan dolar AS menguat terhadap mata uang lainnya dan mendekati level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. "Penyebabnya adalah kekhawatiran atas kenaikan inflasi dan peningkatan jumlah kasus Covid-19. Jumlah kasus COVID-19 global mencapai 190.000 pada 19 Juli 2021, menurut data Universitas Johns Hopkins," kata Ibrahim dalam keterangan tertulis, Senin sore.
Negara-negara seperti Australia dan Korea Selatan menerapkan kembali langkah-langkah pembatasan untuk mengekang wabah terbaru mereka. Sementara kasus baru Covid-19 yang pertama dilaporkan di Jepang menjelang dimulainya Olimpiade Tokyo pada 23 Juli 2021. "Rata-rata penambahan kasus baru harian global dalam tujuh hari terakhir mencapai lebih dari setengah juta untuk pertama kalinya sejak Mei 2021," ujar Ibrahim.
Sementara di Inggris, Menteri Kesehatan Sajid Javid dinyatakan positif COVID-19 pada hari Sabtu (17/7). Akibatnya Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dan Kanselir Rishi Sunak saat ini mengisolasi diri setelah melakukan kontak dengannya.
Dari dalam negeri, rupiah juga melemah karena keputusan pemerintah yang akan memperpanjang kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat ( PPKM ) Darurat di Jawa-Bali hingga akhir Juli mendatang. Hal ini dikarenakan varian baru Covid-19 yang terus meningkat. "Bahkan Indonesia menjadi urutan pertama terbanyak covid-19 dibandingkan Brazilia dan India," jelas Ibrahim.
Walau demikian, Ibrahim mengatakan pelaku pasar sebenarnya memahami keputusan pemerintah tersebut yang diharapkan bisa menurunkan lonjakan kasus baru Covid-19 secara lebih signifikan. Meskipun demikian, dampak dari perpanjangan PPKM darurat hingga akhir Juli itu akan mendorong penurunan pertumbuhan PDB tahun 2021 sebesar 0,5% - 0,8% dari proyeksi baseline.
Keputusan pemerintah untuk memperpanjang atau tidak kebijakan PPKM darurat akan sangat tergantung dengan perkembangan kasus harian COVID-19 selama periode 3-20 Juli 2021. "Bahkan, tidak menutup kemungkinan, pemerintah memiliki rencana untuk kembali memperpanjang PPKM darurat untuk periode yang lebih lama lagi setelah akhir Juli 2021, jika penularan kasus COVID-19 terus memburuk dan ini akan berdampak pada perlambatan ekonomi yang lebih signifikan lagi pada tahun 2021 ini," tutup Ibrahim.
(Adhitya)

Sumber : admin

powered by: IPOTNEWS.COM