Ketakutan Momentum Pemulihan Picu Aksi Jual, Bursa Wall Street Tumbang
Friday, July 09, 2021       05:07 WIB

Ipotnews - Indeks utama Wall Street berguguran, Kamis, dengan S&P 500 dan Nasdaq mundur dari rekor penutupan tertinggi dalam aksi jual yang luas didorong ketidakpastian seputar laju pemulihan ekonomi Amerika Serikat.
Indeks berbasis luas S&P 500 kehilangan 0,86% atau 37,31 poin menjadi ditutup pada posisi 4.320,82, demikian laporan  Reuters  dan   CNBC ,  Kamis (8/7) atau Jumat (9/7) pagi WIB. Semua 11 sektor utama S&P 500 berakhir merah, dengan sektor keuangan menderita persentase kerugian terbesar.
Nasdaq Composite Index turun 0,72% atau 105,86 poin menjadi 14.559,78. S&P 500 dan Nasdaq Composite mencatat rekor penutupan pada sesi sebelumnya karena keuntungan dari saham teknologi.
Sementara itu, Dow Jones Industrial Average melemah 259,86 poin, atau 0,75%, menjadi 34.421,93. Pada satu titik, Dow anjlok sebanyaknya 536 poin.
Ketika pasar obligasi menguat dalam pelarian ke tempat yang aman, ketiga indeks saham utama AS jatuh. Transportasi yang sensitif secara ekonomi dalam komponen Dow merosot 3,3%, penurunan harian terbesar sejak Oktober.
Namun, analis mencatat pasar tetap dekat dengan level tertinggi secara historis.
"Kita masih secara efektif di level tertinggi sepanjang masa, jadi saya tidak akan membaca banyak tentang pergerakan pasar hari ini (Kamis)," kata Oliver Pursche, Senior Vice President Wealthspire Advisors, di New York.
"Pasar obligasi mencerminkan bahwa probabilitas inflasi material dalam jangka waktu yang lama sangat tidak mungkin, dan itulah ketakutan yang mendorong imbal hasil lebih tinggi" sebelum reli baru-baru ini, Pursche menambahkan.
"Kita berada dalam skenario  goldilocks,  dengan pertumbuhan yang cukup untuk mendukung ekonomi tetapi tidak terlalu banyak, sehingga The Fed mengubah kebijakan di luar apa yang telah mereka umumkan," kata Pursche.
Rabu, Federal Reserve merilis risalah dari pertemuan kebijakan moneter terbarunya, yang menunjukkan bank sentral belum percaya ekonomi telah sepenuhnya pulih, namun perdebatan tentang kebijakan pengetatan sudah dimulai.
Merasakan kekhawatiran dalam pemulihan ekonomi Amerika, pedagang menutup  short position  di pasar obligasi. Imbal hasil US Treasury 10-tahun turun untuk sesi kedelapan berturut-turut.
Jumlah warga Amerika yang mengajukan aplikasi pertama kali untuk tunjangan pengangguran secara tak terduga meningkat hingga 373.000, pekan lalu, sebuah tanda bahwa pemulihan pasar tenaga kerja Amerika tetap berombak.
Sementara itu, tindakan keras Beijing terhadap perusahaan China yang melantai di bursa Wall Street memicu investor untuk menghindari risiko.
Sejak salvo pembukaan China selama akhir pekan lalu terhadap aplikasi  ride-hailing  Didi Global Inc, Beijing memperluas pengawasannya terhadap perusahaan-perusahaan China yang terdaftar di Amerika di luar sektor teknologi.
Saham Didi anjlok 5,9%, sementara Alibaba Group dan Bidu Inc masing-masing merosot 3,9% dan 3,7%.
Bank of America, Wells Fargo, Goldman Sachs dan saham keuangan lainnya masing-masing menyusut lebih dari 2%, Kamis, karena prospek profitabilitasnya meredup dengan tingkat yang lebih rendah. JPMorgan Chase dan PNC Financial juga melemah. Bank-bank kakap akan memulai pelaporan kuartal kedua minggu depan.
Saham  chip  juga jatuh di tengah kekhawatiran tentang laju pemulihan global. Micron, Qualcomm, Intel dan Applied Materials turun lebih dari 1% dan Nvidia melorot 2,3%. Saham teknologi juga tumbang dengan Microsoft, Apple, Facebook dan induk usaha Google, Alphabet, semuanya ditutup di zona merah. Namun, Amazon melawan tren tersebut dan naik 0,9%.
Indeks Volatilitas Cboe, atau 'VIX,' melonjak di atas level kunci 20, Kamis pagi, dan kemudian mundur ke sekitar level 19 pada penutupan. (ef)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM