Ketegangan AS-China Bayangi Pasar, Dolar Terkurung dalam Kisaran Sempit
Tuesday, July 14, 2020       08:25 WIB

Ipotnews - Dolar terkurung dalam kisaran sempit terhadap sebagian besar mata uang, Selasa pagi, karena kekhawatiran terbaru tentang ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan China, serta meningkatnya kasus virus korona memberikan tekanan pada selera risiko.
Euro mempertahankan penguatan terhadap  greenback  dan poundsterling ketika investor menunggu data tentang sentimen investor Jerman untuk membantu mengukur laju pemulihan Eropa dari krisis kesehatan tersebut.
Perdagangan mata uang menipis karena lonjakan infeksi virus korona baru-baru ini menyebabkan beberapa daerah menempatkan pembatasan pada aktivitas bisnis, demikian laporan  Reuters,  di Tokyo, Selasa (14/7).
Kini, pasar menghadapi ancaman tambahan dari perseteruan antara Washington dan Beijing atas akses ke pasar keuangan Amerika, kebebasan sipil di Hong Kong, dan klaim teritorial di Laut China Selatan.
"Fokus bergeser pada apakah putaran berikutnya penguncian virus korona akan cukup besar untuk merusak pertumbuhan ekonomi," kata Junichi Ishikawa, analis IG Securities.
"Masalah Hong Kong berpotensi menyebabkan gesekan perdagangan baru. Perkembangan negatif di kedua sisi dapat menyebabkan saham untuk bergerak lebih rendah, dan mendorong beberapa arus  safe-haven  ke dolar dan yen."
Dolar berada di posisi 107,35 yen, Selasa pagi di pasar Asia, menyusul kenaikan 0,4% di sesi sebelumnya.
Dolar diperdagangkan 0,9419 franc Swiss setelah mencatat kenaikan tipis tiga sesi berturut-turut.
Euro berada di posisi USD1,1346, bertahan di bawah level tertinggi satu bulan yang dicapai pada sesi Senin. Mata uang bersama itu diperdagangkan 90,36 pence, mempertahankan penguatan 0,9% dari sesi sebelumnya.
Amerika Serikat dan China melakukan pertempuran diplomatik di beberapa bidang yang berpotensi mengganggu pasar keuangan.
Pemerintahan Presiden Donald Trump berencana untuk segera membatalkan perjanjian 2013 antara otoritas audit AS dan China, ungkap pejabat senior Departemen Luar Negeri kepada  Reuters. 
Langkah ini dapat menandakan tindakan keras yang lebih luas terhadap perusahaan China yang melantai di bursa Wall Street karena menghindari aturan  disclosure  Amerika.
Selain itu, Amerika Serikat mempertegas sikapnya terhadap klaim China di Laut China Selatan, dan mengambil sejumlah langkah untuk mengakhiri status hukum khusus Hong Kong sebagai protes terhadap UU keamanan Beijing bagi bekas jajahan Inggris itu.
Pembukaan perdagangan yuan di pasar  onshore  akan dicermati, Selasa, untuk melihat apakah mata uang China itu dapat melanjutkan reli baru-baru ini.
Namun, pedagang cenderung menghindari posisi besar sebelum rilis data makro dari China pekan ini, antara lain produk domestik bruto, penjualan ritel, output industri, dan ekspor.
Permintaan untuk aset berisiko cenderung terpukul setelah California, negara bagian terpadat AS, menempatkan pembatasan baru pada bisnis karena kasus virus korona dan rawat inap mengalami lonjakan.
Di tempat lain, dolar Australia sedikit berubah menjadi USD0,6935. Sentimen untuk Aussie terpukul karena beberapa negara bagian di Australia juga memberlakukan kembali pembatasan virus korona. Dolar Selandia Baru turun sedikit ke posisi USD0,6530.
Mata uang Antipodean itu dianggap sebagai barometer risiko karena kedekatannya dengan komoditas dan ekonomi China. (ef)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM