Krisis Energi Berisiko Memicu Kerusuhan Sosial
Wednesday, October 27, 2021       16:31 WIB

Ipotnews - CEO Blackstone Stephen Schwarzman memperingatkan bahwa harga energi yang tinggi kemungkinan akan memicu kerusuhan sosial di seluruh dunia.
"Kita akan berakhir dengan kekurangan energi yang nyata. Dan ketika Anda mengalami kekurangan, itu akan memakan biaya lebih banyak. Dan mungkin akan memakan biaya lebih banyak lagi," kata miliarder ekuitas itu, seperti dikutip CNN International, Rabu (27/10).
Harga minyak AS naik di atas USD85 per barel untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, pada Senin lalu. Harga gas terus merangkak lebih tinggi, mendekati USD3,40 per galon secara nasional, menurut AAA. Harga gas alam juga meroket, terutama di Eropa dan Asia, menyebabkan penutupan sejumlah pabrik.
"Anda akan mendapatkan orang-orang yang sangat tidak bahagia di seluruh dunia di  emerging market  khususnya, juga di negara maju," kata Schwarzman. "Apa yang terjadi kemudian, adalah Anda benar-benar mengalami keresahan. Ini menantang sistem politik dan itu semua sama sekali tidak perlu," imbuhnya.
Menurut Schwarzman, sebagian dari masalah itu disebabkan oleh semakin sulit bagi perusahaan penghasil bahan bakar fosil untuk meminjam uang guna mendanai kegiatan produksinya yang mahal, terutama di Amerika Serikat. Tanpa adanya produksi baru, pasokan tidak akan mencukupi.
Schwarzman meminta pemerintah untuk menyepakati aturan pelaksanaan sehingga masyarakat dapat berhasil melewati transisi energi.
"Ada kebulatan suara bahwa sesuatu yang harus dilakukan, tetapi bagaimana Anda mencapainya dari tempat kita hari ini ke dunia yang lebih hijau sama sekali tidak terdefinisi," katanya.
'Inflasi lebih dari sekedar sementara'
Krisis energi memperkuat tekanan inflasi seiring pemulihan ekonomi dunia dari Covid. Tidak hanya harga gas yang membebani konsumen, pemerintah sejumlah negara baru-baru ini juga memproyeksikan bahwa biaya pemanas rumah akan meningkat tajam pada musim dingin ini. Aktivitas bisnis juga terpukul oleh harga energi yang lebih tinggi.
CEO BlackRock Larry Fink mengatakan, salah satu masalahnya adalah pembuat kebijakan bergerak lebih agresif untuk mengekang pasokan bahan bakar fosil ketimbang mengendalikan permintaan.
"Kebijakan jangka pendek yang terkait dengan lingkungan, dalam hal membatasi pasokan hidrokarbon, telah menciptakan inflasi energi. Kita akan hidup dengan [permasalahan] itu untuk beberapa waktu," kata Fink.
Krisis energi adalah salah satu alasan bos BlackRock itu untuk tidak menganggap inflasi hanya sebagai masalah jangka pendek, seperti yang telah diperdebatkan oleh Federal Reserve dan Gedung Putih sepanjang tahun ini.
"Inflasi jelas lebih dari sementara," kata Fink. "Kita berada dalam rezim baru." (CNN.com)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM