MGRO Fokus Naikkan Produksi CPO Hingga 8 Persen Tahun Ini
Thursday, October 22, 2020       10:47 WIB

Ipotnews - Untuk mendongkrak kinerja bisnisnya di sepanjang tahun ini, PT Mahkota Group Tbk () sedang mengejar target produksi CPO sebanyak 230.000 ton.
Menurut Elvi, Sekretaris Perusahaan , jika dibandingkan produksi tahun lalu yang mencapai 213.000 ton, maka terdapat kenaikan sekitar 8% di tahun ini.
Peningkatan produksi diperuntukkan guna memenuhi permintaan pasar lokal dan sebagian CPO juga digunakan sebagai baku untuk produksi Refined, Bleached and Deodorized Palm Oil ( RBDPO), minyak sawit yang telah disuling. "Prospek permintaan di pasar lokal sampai saat ini masih berjalan normal, dimana dari sisi harga CPO sejak Juni 2020 cenderung meningkat," jelasnya seperti dikutip  KONTAN , Rabu (21/10).
Tapi manajemen enggan menerangkan lebih rinci soal harga yang diperolehnya saat ini. berharap tren tersebut dapat berlangsung sampai akhir tahun ini. Adapun sampai dengan akhir September, produksi CPO perseroan telah mencapai 173.749 ribu ton atau 75% dari target.
Selain fokus pada pencapaian target produksi, perseroan juga berharap lini produk refinery alias RBDPO tumbuh sehingga dapat memberikan kontribusi laba yang besar.
Apalagi potensi pasar RBDPO sangat besar, sebab produk turunan sawit tersebut dibutuhkan sebagai bahan baku dasar dalam pembuatan produk-produk akhir seperti margarin, minyak goreng, serta kebutuhan-kebutuhan dasar lainnya. Untuk itu perusahaan mematok produksi RBDPO tahun ini mencapai 110.000 ton. Produk turunan CPO itu baru mulai diproduksi di pertengahan tahun ini pasca berdirinya pabrik refinery anyar perseroan di Riau yang mulai dibangun akhir tahun 2018 dan beroperasi pada semester satu tahun ini.
Perseroan tampaknya masih menghitung volume produksi turunan minyak sawit tersebut, tapi sampai Juli 2020 kemarin, total volume produksi RBDPO telah mencapai 6.143 ton. Di mana, dari total produksi tersebut 60% dijual untuk pasar ekspor dan 40% lokal.
Pembeli lokal RBPDO terdiri atas perusahaan oleochemical yang menjadikan RBDPO sebagai bahan baku untuk diolah menjadi produk akhir seperti margarin, minyak goreng, dan lain-lain. Sementara itu, mayoritas pembeli RBDPO di pasar ekspor merupakan perusahaan perdagangan atau trader.
Elvi belum dapat merinci soal proyeksi pendapatan sampai akhir tahun, namun manajemen mengaku pasar masih penuh dengan tantangan. Untuk itu perseroan juga cukup berhati-hati dalam melihat peluang bisnis di tahun depan.
Sebagai informasi sampai Juni tahun 2020 pendapatan bersih melonjak 57,28% secara tahunan menjadi Rp 1,28 triliun. Hanya saja beban pokok penjualan perseroan terungkit lebih tinggi 65,7% dibandingkan semester pertama tahun lalu menjadi Rp 1,23 triliun di periode yang sama tahun ini.
Sehingga laba kotor perseroan tercatat hanya Rp 55,17 miliar atau anjlok 26,02% secara tahunan yang mana di paruh pertama tahun lalu tercatat Rp 74,58 miliar. Belum lagi beban penjualan dan administrasi membengkak, alhasil perseroan memperoleh rugi bersih Rp 33,32 miliar di semester satu tahun ini, lebih dalam ketimbang rugi bersih di semester pertama tahun 2019 yang sebesar Rp 3,07 miliar. (winardi)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM

775
0.6 %
5 %

831

BidLot

2,562

OffLot