Membandingkan Reksadana Bursa (ETF) vs Reksadana Konvensional
Thursday, April 29, 2021       18:14 WIB

Bagi pemodal pemula yang baru mulai berinvestasi di pasar modal, kami selalu menganjurkan untuk mulai dari investasi pada reksadana. Mengapa?
Karena dengan reksadana, jumlah uang yang sedikit pun sudah dapat membeli bermacam jenis saham (melakukan diversifikasi), sudah dapat "menggaji" manajer investasi profesional (saham-saham hanya dibeli setelah manajer investasi melakukan analisis dan riset yang mendalam, bukan hanya berdasarkan ' feeling ').
Selain itu, pemodal memiliki likuiditas yang 'tinggi' karena pemodal yang ingin keluar dari reksadana ( redeem ) dapat melakukannya setiap saat dan manajer investasi reksadana harus bersedia (berdasarkan peraturan yang berlaku) membayar penjualan kembali ( redemption ) investasi pemodal dalam waktu paling lambat tujuh hari kerja.
Bahkan, apabila pemodal ingin berinvestasi pada instrumen pendapatan tetap, maka reksadana sudah menjadi keharusan bagi pemodal perorangan. Itu karena satu macam instrumen obligasi minimum sudah berharga 1 miliar sehingga menutup peluang akses bagi pemodal ritel untuk berinvestasi secara langsung.
Tetapi perkembangan reksadana sangatlah pesat, baik secara global maupun nasional. Saat ini bahkan sudah tersedia satu jenis reksadana yang mampu menggabungkan manfaat reksadana yang disebut tadi (diversifikasi, pengelolaan dana yang profesional, dan likuiditasyang tinggi) dengan likuiditas seperti saham yang diperdagangkan di Bursa.
Untuk memudahkan pemahaman kita, baiklah kita sebut reksadana yang sudah ada lebih dahulu itu sebagai reksadana konvensional, untuk membedakannya dari reksadana Bursa atau ETF yang muncul kemudian.
Kalau pada reksadana konvensional likuiditasnya disebut tinggi karena pemodal dapat melakukan penjualan kembali ( redemption ) setiap hari, maka pada ETF likuiditasnya lebih tinggi lagi, karena pemodal dapat menjual investasinya setiap saat selama jam bursa.
Jadi, berbeda dengan reksadana konvensional dimana pemodal hanya dapat melakukan penjualan kembali ( redemption ) satu kali sehari pada penutupan perdagangan, dengan ETF pemodal dapat menjual investasinya setiap saat selama jam perdagangan bursa. Jenis reksadana ini disebut reksadana Bursa atau Exchange Traded Fund (ETF).
Dari namanya, ETF adalah reksadana yang ' exchange traded ', yaitu reksadana yang unit penyertaannya diperdagangkan di Bursa Efek, sama seperti saham-saham biasa. Berbeda dengan reksadana konvensional, di mana pemodal yang melakukan penjualan kembali unit penyertaan kepada manajer investasi belum mengetahui harga jual unit miliknya, pada ETF pemodal yang menjual unit penyertaan ETF di bursa telah mengetahui persis harga jualnya; bahkan sebelum menjual unit penyertaan tersebut, pemodal telah mengetahui harga yang akan diperolehnya jika ia menjual unit tersebut.
Bagi pemodal pemula, munculnya reksadana Bursa atau ETF tentu membingungkan. Mana yang lebih cocok buat mereka? Bagaimana cara kerja ETF? Bagaimana caranya berinvestasi di ETF?
Kita akan melihat satu per satu keunggulan ETF (dan juga kekurangannya, kalau ada) dibanding reksadana konvensional. Pada artikel selanjutnya kita akan membahas cara berinvestasi di ETF.
Untuk memudahkan pemahaman, sebaiknya kita menyamakan pemahaman kita terlebih dahulu. Pada reksadana konvensional, mula-mula semua reksadana dikelola secara aktif. Kemudian muncul beberapa jenis reksadana 'terstruktur', salah satunya adalah reksadana indeks ( index fund ) yang pasif mengikuti pergerakan indeks, baik indeks saham maupun indeks obligasi.
Sebaliknya dengan ETF, mula-mula semua ETF dibuat mengikuti indeks secara pasif, baik indeks saham maupun indeks obligasi. Tetapi manajer investasi tidak puas hanya mengikuti indeks secara pasif (dan menerima  management fee  pasif yang relatif rendah). Maka sekarang telah ada pula ETF yang dikelola secara aktif.
Di sini, kita akan membandingkan reksadana konvensional dengan ETF berdasarkan strukturnya saja (reksadana konvensional yang tidak diperdagangkan di bursa, dibandingkan dengan ETF yang diperdagangkan di bursa), yaitu reksadana indeks dibandingkan dengan ETF pasif.
Kemudian kita akan membandingkan reksadana konvensional yang dikelola aktif dengan ETF aktif. Akan tetapi kita tidak akan membandingkan kemampuan manajer investasi mengelola reksadana konvensional secara aktif dengan kemampuan manajer investasi mengelola ETF secara aktif.
Untuk perbandingan antara ETF pasif dengan reksadana konvensional yang dikelola secara aktif, pembaca dapat melihat artikel sebelumnya yang berjudul " Mengapa Teknik Pengelolaan Dana Secara Pasif Berhasil ?".
Sesungguhnya, keuntungan berinvestasi pada ETF aktif yang paling kentara bagi pemodal di luar negeri (misalnya di Amerika Serikat), di samping kenyataan bahwa ETF diperdagangkan di bursa, adalah pada efisiensi biaya dan efisiensi pajak. Bagi pemodal di sana, ETF dalam bentuk apa pun, baik ETF pasif maupun ETF aktif, memberikan keuntungan (efisiensi) biaya dan efisiensi pajak bagi pemodal.
Mengapa? Karena pembelian Unit Penyertaan ETF (dalam satuan Unit Kreasi) kepada Manajer Investasi selalu dilakukan secara  in-kind , artinya pemodal (melalui Dealer Partisipan) menyerahkan sekeranjang saham-saham yang diminta manajer investasi, dan sebaliknya menerima satu Unit Kreasi ETF dari Manajer Investasi.
Di sini, biaya-biaya untuk mendapatkan sekeranjang saham-saham tersebut ditanggung hanya oleh pemodal yang melakukan pembelian itu ( subscription ). Bandingkan misalnya dengan reksadana konvensional, dimana biaya-biaya pembelian saham-saham oleh seorang pemodal yang melakukan  subscription  harus ditanggung oleh semua pemegang unit yang lain yang telah ada lebih dahulu.
Efisiensi ETF yang lain adalah efisiensi pajak. Bagi pemodal yang melakukan penjualan kembali ( redemption ) di pasar primer melalui Dealer Partisipan, maka pemodal menyerahkan unit penyertaan ETF senilai kelipatan dari satu Unit Kreasi melalui Dealer Partisipan kepada Manajer Investasi ETF. Selanjutnya, Manajer Investasi akan menyerahkan sekeranjang saham-saham yang bernilai sama dengan Unit Penyertaan yang diserahkan pemodal itu.
Di Amerika Serikat, saham-saham yang diserahkan oleh Manajer Investasi ETF dipilih saham-saham lama yang basis pajaknya rendah, sehingga pajak yang harus dibayar di level ETF menjadi kecil sekali atau bahkan nihil. Maka ETF di Amerika Serikat dikatakan efisien dari segi pajak.
Tanpa adanya ETF, di Amerika Serikat, pemodal yang tidak melakukan penjualan kembali pun harus menanggung biaya pajak ketika manajer investasi melakukan penjualan suatu saham (misalnya untuk membayar  redemption  yang dilakukan pemodal lain).
Di Indonesia, efisiensi yang diberikan ETF hanyalah efisiensi biaya karena pembelian ( subscription ) dilakukan secara  in-kind  dan semua biaya untuk membeli saham (dari tunai) ditanggung oleh pemodal yang melakukan pembelian ( subscriber ). Biaya pembelian saham ini biasanya sebesar 0,25% dari harga beli saham. Semua pemodal yang telah ada sebelumnya tidak menanggung biaya apa pun atas pembelian saham-saham ini.
Adapun mengenai efisiensi pajak, system perpajakan Negara kita berbeda dengan Amerika Serikat. Pajak atas saham-saham dikenakan sebesar 0,10% dari nilai saham apabila saham-saham tersebut dijual, bukan dihitung dari selisih harga jual dan basis pajaknya sebagaimana di Amerika Serikat.
Keuntungan Investasi pada ETF Pasif vs Reksadana Indeks (konvensional)
Investasi pada reksadana indeks dan investasi pada ETF pasif, dengan asumsi bahwa keduanya menggunakan indeks yang sama, pada dasarnya adalah sama. Baik manajer investasi reksadana indeks maupun manajer investasi ETF tidak berusaha memperoleh imbal hasil yang setinggi-tingginya tetapi hanya imbal hasil yang setara dengan indeks acuannya. Saham-saham yang dibeli oleh kedua manajer investasi pun sama persis, karena manajer investasi tidak boleh membeli saham-saham yang tidak ada dalam indeks.
Sesungguhnya, reksadana indeks dibentuk karena pada saat itu belum ditemukan reksadana Bursa atau ETF. Di Amerika Serikat, setelah ETF keluar, banyak reksadana indeks yang dikonversikan menjadi ETF karena berbagai kelebihan ETF terutama masalah diperdagangkan di Bursa vs tidak diperdagangkan di Bursa.
Kerugian Investasi pada ETF Pasif vs Reksadana Indeks (konvensional)
Kerugian investasi pada ETF pasif dibandingkan investasi pada reksadana indeks hanya mungkin terjadi apabila ada perusahaan pialang saham (broker) yang masih membebankan biaya komisi atas pembelian dan penjualan unit penyertaan ETF.
Adanya komisi (sejumlah nilai yang tetap besarnya setiap kali perintah beli atau jual unit penyertaan ETF diberikan) akan menyebabkan pemodal yang memberikan perintah berulang-ulang (misalnya untuk  average down  harga Unit Penyertaan ETF yang dibeli di pasar sekunder) akan menanggung biaya komisi yang lebih besar dibanding pemodal yang membeli unit penyertaan secara sekaligus.
Potensi Keuntungan Investasi pada ETF aktif Vs Reksadana Konvensional Aktif
- Potensi mendapatkan imbal hasil yang lebih tinggi. ETF aktif, sama seperti reksadana konvensional yang dikelola aktif bertujuan untuk mendapatkan imbal hasil yang setinggi-tingginya, kalau mungkin di atas indeks yang menjadi tolok ukurnya. Tetapi, sekali lagi, ini hanyalah  potensi  yang mungkin diraih.
Mungkin juga yang terjadi adalah sebaliknya, dalam arti imbal hasil ( return ) yang diperoleh berada di bawah indeks yang menjadi tolok ukurnya. Sama seperti reksadana konvensional yang dikelola aktif, tidak ada jaminan bahwa imbal hasil yang diperoleh dari ETF aktif akan lebih tinggi dari indeks yang menjadi tolok ukurnya.
- Biaya-biaya investasi yang lebih rendah daripada reksadana konvensional yang dikelola secara aktif. Biaya-biaya investasi pada ETF aktif pada umumnya sedikit lebih rendah daripada biaya-biaya investasi pada reksadana konvensional yang dikelola secara aktif. Pada umumnya, manajer investasi ETF aktif tidaklah seaktif manajer investasi reksadana yang dikelola secara aktif, sehingga biaya-biaya investasi ETF aktif cenderung lebih rendah daripada reksadana konvensional yang dikelola secara aktif.
- Fleksibilitas. Karena ETF aktif diperdagangkan di bursa, unit penyertaannya dapat dibeli atau dijual sepanjang jam pedagangan bursa. Hal ini berbeda dengan reksadana konvensional aktif, yang hanya dapat dijual atau dibeli satu kali sehari (pukul 13.00 WIB) melalui manajer investasi.
Harga beli dan harga jual unit penyertaan ETF di Bursa pun telah diketahui, berbeda dengan unit penyertaan reksadana konvensional yang belum diketahui pada waktu pemodal mengajukan permintaan beli atau permohonan penjualan kembali kepada manajer investasi.
Potensi Kerugian Investasi pada ETF aktif Vs Reksadana Indeks (sepenuhnya pasif)
 -  Aturan keterbukaan portofolio. ETF aktif, sama seperti reksadana konvensional yang dikelola secara aktif, tentu tidak mau portofolionya diketahui orang lain, karena kekhawatiran adanya pihak yang 'mendahului' ( front runner ) membeli atau menjual saham sebelum manajer investasi mengeksekusi strateginya. Tetapi, aturan keterbukaan portofolio membuat manajer investasi ETF aktif tidak punya pilihan lain kecuali 'membuka' isi portofolionya seperti halnya reksadana indeks yang sepenuhnya pasif.
- Biaya-biaya investasi yang lebih tinggi. Biaya-biaya investasi (manajemen  fee  dan Bank Kustodian  fee ) untuk ETF aktif memang 'cenderung' lebih rendah daripada reksadana konvensional yang dikelola secara aktif, tetapi biaya-biaya investasi ETF aktif ini tetap lebih tinggi dibanding biaya-biaya investasi pada reksadana indeks yang sepenuhnya pasif.
 Oleh: Fredy Sumnedap, CFA 

Sumber : IPS

powered by: IPOTNEWS.COM