Memilih antara Reksadana dan Efek-Efek Individual
Friday, April 22, 2022       18:11 WIB

Untuk sebagian besar pemodal, judl di atas mungkinterlihat sederhana. Tentu saja mereka akan memilih berinvestasi pada reksadana dibanding berinvestasi pada efek-efek individual karena reksadana memberikan keuntungan diversifikasi dan manajemen investasi yang profesional.
Tetapi bagi sebagian pemodal yang lainnya - yang mungkin belum terlalu memahami investasi tidak langsung seperti reksadana, atau yang tidak biasa mendelegasikan urusan keuangannya - pertanyaan tentang memilih antara investasi melalui reksadana atau efek-efek individual masih relevan untuk diajukan.
 Reksadana atau Efek-Efek Individual: mengapa perlu mengetahui perbedaannya? 
Membeli efek-efek individual misalnya saham tertentu, jika pilihan kita tepat, maka imbal hasilnya akan besar sekali. Tetapi, pemodal juga perlu tahu bahwa jika pilihan kita 'salah', maka sebagian atau seluruh modal kita akan lenyap. Hal ini terjadi karena tidak ada diversifikasi dalam investasi kita.
Diversifikasi artinya adalah tidak berinvestasi hanya dalam satu macam instrumen saja. Keunggulan reksadana, baik reksadana konvensional maupun reksadana bursa (ETF), adalah diversifikasi investasi ini.
Kita tidak tahu saham mana yang akan naik harganya, kita juga tidak tahu saham mana yang akan turun harganya. Demikian juga dengan para 'Manajer Investasi' reksadana. Tetapi para 'Manajer Investasi' reksadana setidaknya telah lulus ujian kecakapan tertentu (Wakil Manajer Investasi) yang membuatnya cakap atas syarat-syarat minimal pengelolaan investasi.
Perusahaan pengelola reksadana juga mempekerjakan tenaga analis riset untuk memperkirakan pergerakan harga efek-efek akibat dari perubahan harga pasar saham, perubahan tingkat inflasi, suku bunga, dan situasi politik dalam dan luar negeri termasuk perang dan bencana alam.
Jadi, perbedaan utama antara membeli reksadana dengan membeli efek-efek individual adalah adanya diversikasi portofolio dan Manajer Investasi yang profesional untuk reksadana.
Perbedaan lainnya, dan ini sangat penting bagi pemodal individual yang modalnya terbatas, adalah bahwa dengan membeli unit penyertaan reksadana, seorang pemodal otomatis menjadi pemilik (secara proporsional) dari seluruh asset reksadana itu. Jadi, seorang pemodal akan otomatis menjadi pemilik dari semua harta reksadana, walaupun jumlah modal yang diinvestasikannya terbatas (secara teoritis hanya dengan memiliki satu unit penyertaan saja).
 Apa perbedaan antara reksadana konvensional dan reksadana Bursa (ETF)? 
Sekarang pemodal individual telah tahu bahwa membeli unit penyertaan reksadana lebih menguntungkan baginya dibandingkan membeli efek-efek individual. Tetapi dengan perkembangan instrumen keuangan yang ada, sekarang telah ada reksadana bursa atau reksadana yang unit penyertaannya diperdagangkan di bursa (Exchange Traded Fund), sehingga reksadana yang dulu kita sebut saja sebagai reksadana konvensional.
 Apa perbedaan antara reksadana konvensional dengan reksadana bursa?  
Berdasarkan peraturan OJK yang masih berlaku, reksadana konvensional mula-mula ada empat macam, berdasarkan jenis aset yang dikelolanya. Reksadana ekuitas adalah reksadana yang minimal 80% portofolionya ditempatkan dalam instrumen saham, reksadana pendapatan tetap adalah reksadana yang minimal 80% portofolionya ditempatkan dalam instrumen pendapatan tetap (obligasi), reksadana campuran ( balanced fund ) adalah reksadana yang bobot aset dalam portofolionya (saham atau obligasi) berada di bawah 80%. Terakhir adalah reksadana pasar uang, yaitu reksadana yang berinvestasi pada instrumen pasar uang (deposito, SBI, dan obligasi yang  term to maturity  nya kurang dari satu tahun.
Kemudian muncul reksadana indeks, yaitu reksadana konvensional yang dikelola secara pasif berdasarkan indeks saja. Pada reksadana indeks Manajer Investasi tidak melakukan jual beli efek-efek dalam portofolionya berdasarkan pertimbangannya sendiri, kecuali telah terjadi perubahan pada komposisi indeks.
Terakhir, peraturan OJK mengijinkan diterbitkannya reksadana bursa (ETF), yaitu reksadana yang unit penyertaannya diperdagangkan di bursa. Reksadana bursa (ETF) yang pertama diterbitkan di Canada pada tahun 1993, dan sekarang telah berkembang ke seluruh dunia.
Di Indonesia, reksadana bursa yang pertama diluncurkan pada bulan Desember tahun 2007 yaitu(saham) dan(obligasi). Reksadana bursa (ETF) mula-mula pada dasarnya sama seperti reksadana indeks (reksadana konvensional) dalam hal pengelolaan dananya yang pasif berdasarkan indeks. Perbedaan utamanya adalah bahwa reksadana bursa (ETF) diperdagangkan di bursa, sementara reksadana indeks (konvensional) tidak diperdagangkan di bursa.
Karena diperdagangkan di bursa, unit penyertaan reksadana bursa (ETF) dapat diperjual-belikan setiap saat selama jam perdagangan bursa, sementara reksadana indeks (konvensional) hanya dapat dibeli dari Manajer Investasi dan dijual kembali ( redeem ) kepada Manajer Investasi satu kali dalam sehari.
Sekarang walaupun telah muncul reksadana bursa (ETF) yang dikelola secara aktif tetapi reksadana bursa ini tidak terlalu diminati pemodal di Indonesia. Di Amerika Serikat,  mutual fund  yang dikelola secara aktif ada sekitar 8% dari seluruh ETF yang ada, terutama karena ada keunggulan dari segi perpajakan, sesuatu yang tidak ada untuk reksadana bursa (ETF) yang dikelola secara aktif di Indonesia.
 Memilih reksadana bursa (ETF) atau reksadana indeks (konvensional) yang cocok bagi pemodal 
Dalam memilih reksadana yang cocok, apakah itu reksadana konvensional atau reksadana bursa (ETF), ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan oleh pemodal. Pertama, adalah reksadana ini sebaiknya dikelola secara pasif. Artinya, Manajer Investasi tidak memiliki diskresi untuk melakukan pembelian atau penjualan saham-saham kecuali saham itu ada dalam indeks.
Tujuan membatasi pengelolaan reksadana secara pasif adalah menghindarkan terjadinya kerugian (penurunan NAB atau Nilai Aktiva Bersih) karena hal-hal selain penurunan harga indeks.
Kedua, indeks yang dipakai oleh reksadana haruslah indeks harga saham yang berlaku secara umum, bukan sektoral. Reksadana bursa (ETF) pasif yang mengikuti indeks saham yang bukan indeks sektoral misalnya adalahyang mengikuti indeks LQ45 yang dihitung dan dipublikasikan oleh BEI.
Tujuan kita memilih indeks saham yang bukan indeks sektoral adalah karena tujuan kita hanya membagi-bagi portofolio ke dalam kelas aset yang berbeda-beda (saham, obligasi, dan pasar uang) untuk mendapatkan alokasi aset ( asset mix ) yang sesuai dengan tingkat toleransi resiko (dan kapasitas resiko) pemodal. Kita tidak mencari aset dari suatu sektor tertentu dengan tujuan untuk mendapatkan kinerja yang lebih tinggi dari kinerja indeks saham secara umum.
Ketiga, perhatikan juga biaya atau  fee  yang dikenakan oleh Manajer Investasi.  Fee  yang dikenakan Manajer Investasi reksadana indeks (konvensional) umumnya lebih besar dibandingkan  fee  yang dikenakan Manajer Investasi reksadana bursa (ETF). Juga, minimum investasi untuk reksadana indeks (konvensional) umumnya juga lebih besar dari pada minimum investasi reksadana bursa (ETF) yang hanya sebesar 1 lot (100 unit penyertaan).
 Menambahkan Efek-Efek Individual ke dalam portofolio 
Membeli reksadana indeks (konvensional) atau reksadana bursa (ETF) kadang-kadang tidak dapat dilakukan untuk kondisi reksadana indeks (konvensional) atau reksadana bursa (ETF) di Indonesia saat ini. Misalnya saat ini hanya ada beberapa reksadana indeks (konvensional) berdasarkan indeks saham saja tapi tidak ada reksadana indeks (konvensional) berdasarkan indeks obligasi.
Dalam hal ini, membeli unit penyertaan reksadana saham atau reksadana pendapatan tetap yang dikelola secara aktif dapat dilakukan sebagai pengganti reksadana indeks (konvensional) atau reksadana bursa (ETF).
Kendala terbesar untuk membeli efek-efek individual adalah jumlah investasi yang sangat besar untuk mencapai target diversifikasi yang memadai, terutama untuk pembelian obligasi. Sedangkan reksadana bursa (ETF) berdasarkan indeks obligasi yang ada saat ini masih menggunakan indeks yang tidak biasa (familiar) bagi sebagian besar pemodal di Indonesia, misalnya Asian Bond Fund Index.
 Oleh: Fredy Sumendap, CFA 

Sumber : IPS

powered by: IPOTNEWS.COM

1,090
0.0 %
0 %

0

BidLot

0

OffLot