Mencari Perencana Keuangan yang Dapat Dipercaya
Thursday, July 21, 2022       16:32 WIB

Syarat #1: Apakah Perencana Keuangan itu telah melakukan semua hal yang dinasehatkannya?
Mencari perencana keuangan yang dapat dipercaya itu sulit sekali. Mengapa? Pada artikel sebelumnya yang berjudul "Merencanakan Keuangan Pribadi: Menggunakan Jasa Finacial Planner atau Do It Yourself?", kami telah menjelaskan bahwa profesi perencana keuangan di Indonesia masih tergolong baru, dan banyak perencana keuangan yang tidak memiliki kualifikasi memadai untuk memberikan nasehat keuangan yang baik kepada kliennya.
Untuk menjadi perencana keuangan yang baik, seseorang harus telah memiliki kualifikasi setidaknya telah lulus ujian CFP (Certified Financial Planner) yang terdiri atas empat modul, atau ujian CFA (Chartered Financial Analyst) yang terdiri atas 3 level dan pengalaman kerja yang memenuhi persyaratan selama minimal empat tahun.
Pemegang gelar CFP di Indonesia masih tergolong langka, dan pemegang gelar CFA lebih langka lagi. Juga, dalam banyak kasus, pemegang gelar CFA lebih suka bekerja sebagai analis saham pada perusahaan sekuritas, dibandingkan bekerja sebagai perencana keuangan pada firma perencana keuangan yang ada.
Dalam banyak kasus, seseorang yang baru memulai karirnya sebagai perencana keuangan, umumnya belum memiliki gelar CFP maupun CFA. Lalu, bagaimana bisa mereka memberikan nasehat keuangan yang baik kepada kliennya?
Penulis teringat waktu pertama kali bekerja di suatu Bank komersial swasta besar, sewaktu baru lulus kuliah Teknik sipil di Institut Teknologi Bandung. Untuk memasarkan produk perbankan komersial saja, pihak bank merasa harus memberikan  training  di kelas selama enam bulan sebelum melepas para pegawai baru ( officer ) menemui kliennya.
Sekarang, pada firma-firma perencanaan keuangan keluarga, yang umumnya merupakan perusahaan yang jauh lebih kecil daripada bank komersial, penulis yakin bahwa  training  yang diberikan kepada pegawai-pegawai baru mereka pastilah tidak akan se-intensif  training  bank komersial selama enam bulan - kalaupun ada training yang diberikan untuk pegawai -pegawai baru itu.
Lalu, dengan kualitas training yang seadanya tersebut, dapatkah kita mempercayai saran-saran keuangan yang diberikan perencana keuangan tersebut?
Untuk dapat menerima nasehat keuangan dari orang lain, kita harus yakin lebih dahulu bahwa orang yang memberikan nasehat itu lebih berhasil secara keuangan dibanding diri kita sendiri. Hal ini sangat sulit terjadi, karena klien yang diincar oleh firma perencana keuangan, sebagai target pasarnya, pada umumnya adalah klien yang telah sukses mengumpulkan banyak uang, yang umumnya telah sukses berbisnis selama puluhan tahun.
Lalu, bagaimana mungkin seseorang yang baru lulus kuliah, dengan training seadanya tentang perencanaan keuangan pribadi bisa memiliki pengetahuan nyata yang lebih baik dibandingkan kliennya?
Sebelum menerima suatu nasehat keuangan dari perencana keuangan, ada hal yang penting untuk Anda ketahui, yaitu apakah perencana keuangan itu memiliki rekam jejak yang bagus dalam memberikan nasehat keuangan.
Dalam hal ini, perlu Anda pehatikan apakah perencana keuangan itu benar-benar mempraktekkan apa yang dinasehatkan kepada kliennya, ataukah perencana keuangan itu hanya berbicara tentang nasehat keuangan (atau nasehat investasi) karena ingin menjual produk keuangan lain (saham, obligasi, asuransi, atau reksadana) kepada Anda?
Dalam hal nasehat investasi yang diberikan perencana keuangan, terlebih dahulu Anda harus memastikan bahwa Anda tidak:
(1) Menerima nasehat investasi dari seseorang yang mengumpulkan kekayaannya dari hasil komisi penjualan produk investasi dan bukan hasil dari tindakan berinvestasi itu sendiri.
(2) Menerima nasehat investasi dari seseorang yang tugas utamanya adalah menjual produk investasi lain, misalnya saham-saham, obligasi, asuransi, atau pun reksadana, karena nasehat investasi dari perencana keuangan ini pastilah mengandung benturan kepentingan.
(3) Menerima nasehat investasi dari akademisi yang hanya pandai berteori muluk-muluk tetapi tidak ada relevansinya dalam kehidupan nyata.
(4) Menerima nasehat investasi dari pengarang buku-buku (atau artikel-artikel) tentang investasi, karena keahlian mereka adalah mengarang buku, bukanlah berinvestasi.
(5) Berhati-hati dalam menerima nasehat investasi dalam saham-saham dari pebisnis sektor properti ( real estate ) atau pebisnis sektor riil lainnya, karena sukses dalam sektor riil tidak otomatis berarti juga akan sukses dalam investasi pada  paper assets . Demikian pula sebaliknya, klien yang mengelola bisnis pada sektor riil harus berhati-hati dalam menerima nasehat investasi dari orang yang hanya ahli mengelola investasi pada saham-saham atau  paper assets  lainnya.
(6).Menerima nasehat keuangan dari seseorang yang tidak dapat membuktikan bahwa dirinya telah sukses secara keuangan. Nasehat keuangan yang baik adalah nasehat keuangan yang telah terbukti hasilnya, bukan nasehat keuangan berdasarkan teori semata.
 Oleh: Fredy Sumnedap, CFA 

Sumber : IPS

powered by: IPOTNEWS.COM