Mencari Perencana Keuangan yang Dapat Dipercaya (3) ...
Friday, July 29, 2022       15:11 WIB

Syarat #3: Ketahui Bagaimana Perencana Keuangan itu Mendapatkan Kompensasi
Banyak pekerja di industri keuangan yang juga memberikan nasehat keuangan ( financial advice ), tetapi mereka sesungguhnya bukan perencana keuangan.
Misalnya, sering kita temui agen asuransi, atau agen penjual efek reksadana, atau pialang (broker) saham, atau pialang obligasi, yang juga memberikan nasehat keuangan kepada kliennya. Nasehat keuangan yang diberikan umumnya menyangkut pembelian atau penjualan produk investasi atau saham-saham, yang sesungguhnya hanya merupakan perencanaan investasi ( investment planning ) saja, sebagai bagian dari perencanaan keuangan ( financial planning ).
Perencanaan keuangan sejatinya merupakan profesi yang sarat dengan benturan kepentingan. Apalagi ketika perencanaa keuangan diberikan oleh pihak-pihak yang bukan merupakan ahli di bidang perencanaan keuangan itu sendiri.
Misalnya, seorang agen asuransi, yang kartu namanya mencantumkan bidang pekerjaannya sebagai  financial consultant . Tapi jika ia tidak mencantumkan apa pun tentang kualifikasi pendidikannya sebagai, katakanlah CFP (Certified Financial Planner) atau CFA (Chartered Financial Analyst), seharusnya membuat kita meragukan kualifikasinya sebagai perencana keuangan.
Memang, di dalam salah satu modul pendidikan CFP, ada satu modul yang membahas tentang asuransi (asuransi jiwa dan asuransi kerugian), tetapi perencanaan keuangan itu sendiri sebenarnya lebih luas dari perencanaan asuransi.
Dapat dipastikan, nasehat keuangan yang diberikan oleh  financial consultant  yang juga merupakan agen asuransi itu mengandung benturan kepentingan. Ia tentu akan menganjurkan untuk membeli produk asuransi yang dijualnya, walaupun mungkin produk asuransi yang dijualnya itu bukan merupakan solusi terbaik atas persoalan yang dihadapi oleh kliennya.
Contoh lainnya, seorang agen penjual efek reksadana, yang kartu namanya mencantumkan bidang pekerjaannya sebagai  financial advisor . Sesungguhnya ia adalah  sales  atau penjual efek reksadana, sesuai dengan lisensi yang diberikan oleh OJK kepadanya. Nasehat keuangan ( financial advice ) yang diberikan oleh agen penjual efek reksadana ini tentu akan mengandung benturan kepentingan karena ia hanya akan merekomendasikan produk reksadana yang diterbitkan oleh perusahaan tempatnya bekerja, walaupun produk itu mungkin tidak cocok dengan kebutuhan kliennya.\\
Profesi lain yang sering dijumpai memberikan nasehat keuangan, tetapi sesungguhnya mereka bukanlah perencana keuangan, adalah pialang (broker) saham. Pialang saham memiliki kualifikasi WPPE (Wakil Perantara Pedagang Efek) merupakan pialang atau pedagang perantara efek-efek dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan).
Sebagai pedagang perantara efek (broker), nasehat yang diberikan oleh pialang (broker) akan mengandung benturan kepentingan karena ia pasti akan merekomendasikan agar semua transaksi pembelian atau penjualan saham dilakukan melalui perusahaan sekuritas tempatnya bekerja, walaupun hal itu mungkin bertantangan dengan keinginan kliennya.
Misalnya, meski biaya eksekusi pembelian atau penjualan saham-saham lewat sekuritas lain dapat lebih murah, pialang ini akan tetap merekomendasikan pembelian atau penjualan saham-saham melalui perusahaan tempanya bekerja.
Sesungguhnya, hampir semua profesi di bidang keuangan yang mencantumkan bidang pekerjaan ( title ) yang terdengar keren atau 'wah' itu, baik  financial consultant , atau  financial advisor , atau pun perencana keuangan (yang tidak dapat membuktikan kualifikasi yang dimilikinya dengan lisensi CFP atau CFA), hanyalah cara lain yang memperhalus ( eufemisme ) jenis pekerjaan sesungguhnya sebagai penjual produk keuangan.
Tentu saja, ada banyak agen asuransi atau agen penjual efek reksadana, atau pialang yang baik dan berintegritas di luar sana. Tugas kita sebagai calon klien perencana keuangan adalah mencari perencana keuangan yang benar-benar dapat dipercaya.
Ada pepatah lama yang mengatakan bahwa: kita baru akan benar-banar memahami alasan diberikannya suatu nasehat keuangan setelah kita mengetahui bagaimana penasehat keuangan (perencana keuangan) itu mendapatkan kompensasinya.
Secara umum, ada empat cara penasehat keuangan (perencana keuangan) menerima kompensasi sehubungan dengan nasehat keuangan yang diberikan kepada para kliennya:
1. Komisi Penjualan
Komisi penjualan adalah kompensasi yang dibayarkan kepada perencana keuangan atas setiap transaksi penjualan produk keuangan yang berhasil dilakukannya. Komisi penjualan merupakan insentif bagi perencana keuangan untuk menjual lebih banyak, walaupun mungkin tidak memberikan solusi bagi permasalahan keuangan yang dihadapi klien.
2. Persentase dari Aset Dalam Pengelolaan
Dalam skema kompensasi ini, perencana keuangan mendapatkan imbal jasa berupa persentase dari aset dalam pengelolaan. Skema ini mirip dengan imbal jasa ( fee ) yang diterima oleh Manajer Investasi reksadana. Dalam hal mengurangi benturan kepentingan antara klien dengan perencana keuangan, skema kompensasi berupa persentase dari aset dalam pengelolaan dianggap lebih unggul daripada skema komisi penjualan.
3.  Profit Incentive Fees 
Pada skema imbal jasa berdasarkan insentif keuntungan ini,  fee  hanya akan diberikan kepada perencana keuangan apabila portofolio klien membukukan keuntungan. Sepintas terlihat bahwa skema ini cukup adil, dalam arti klien tidak perlu membayar imbal jasa ( fee ) apa pun apabila portofolionya tidak memperoleh keuntungan akibat nasehat investasi yang diterima dari perencana keuangan.
Tetapi, jika kita memperhatikan benturan kepentingan yang mungkin terjadi antara klien dan perencana keuangan, kita tahu bahwa perencana keuangan dapat 'tergoda' untuk mengambil resiko yang lebih besar dari yang seharusnya diambil oleh klien. Mengapa? Karena perencana keuangan akan mendapat bagian dari keuntungan portofolio, tetapi perencana keuangan tidak ikut menanggung kerugian portofolio.
4.  Fee only Advice 
Dalam skema ini, imbal jasa perencana keuangan diberikan hanya berdasarkan jumlah waktu yang dihabiskan oleh perencana keuangan itu dalam memberikan nasehat keuangannya. Jadi, perencana keuangan tidak menerima kompensasi lain apapun, komisi penjualan, atau pun pembagian keuntungan lain dari portofolio selain imbal jasa sesuai dengan jumlah waktu yang dikeluarkan untuk memberikan nasehat keuangan itu.
Imbal jasa berdasarkan nasehat yang diberikan ini mungkin dapat menjadi skema kompensasi yang mengandung benturan kepentingan paling kecil antara klien dan perencana keuangan. Skema kompensasi ini, walaupun demikian, tetap mempunyai kelemahan, yaitu klien tetap harus membayar nasehat keuangan yang diberikan sekali pun kualitas nasehat keuangan itu meragukan atau buruk.
 Oleh: Fredy Sumendap, CFA 

Sumber : IPS

powered by: IPOTNEWS.COM