OPEC Isyaratkan Perpanjang Pemangkasan Pasokan, Minyak Variatif
Tuesday, May 21, 2019       04:42 WIB

Ipotnews - Harga minyak melesat ke tertinggi multi-pekan sebelum menyusut di akhir sesi, Senin, setelah OPEC mengindikasikan kemungkinan untuk mempertahankan pemangkasan produksi yang telah membantu mendorong harga tahun ini, sementara meningkatnya ketegangan di Timur Tengah memberikan dukungan lebih lanjut.
Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate, patokan Amerika Serikat, naik 34 sen menjadi ditutup pada posisi USD63,10 per barel, setelah menembus USD63,81 per barel, harga tertinggi sejak 1 Mei, demikian laporan  Reuters , di New York, Senin (20/5) atau Selasa (21/5) pagi WIB.
Sementara itu, patokan internasional, minyak mentah berjangka Brent, turun 24 sen menjadi USD71,97 per barel, setelah sebelumnya menyentuh USD73,40 per barel, level tertinggi sejak 26 April.
Menteri Energi Arab Saudi, Khalid al-Falih, Minggu, mengatakan ada konsensus di antara anggota Organisasi Negara Eksportir Minyak ( OPEC ) dan produsen minyak sekutu untuk menurunkan persediaan minyak mentah "dengan lembut" tetapi dia akan tetap responsif terhadap kebutuhan yang disebutnya pasar yang rapuh.
Komentar tersebut memberikan dorongan awal untuk harga minyak pada perdagangan Senin, tetapi minyak berjangka memangkas kenaikan sepanjang sesi itu.
OPEC , Rusia dan produsen non-anggota lainnya, aliansi yang dikenal sebagai OPEC +, sepakat untuk memangkas produksi sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) mulai 1 Januari selama enam bulan untuk mencegah lonjakan persediaan dan pelemahan harga.
Pertemuan Komite Pemantauan Bersama Tingkat Menteri ( JMMC ) di Arab Saudi selama akhir pekan lalu tidak membuat rekomendasi yang solid.
OPEC dan sekutunya akan bertemu di Wina, 25-26 Juni, untuk pertemuan kebijakan minyak berikutnya. Namun, kartel tersebut mempertimbangkan untuk memindahkan tanggalnya menjadi 3-4 Juli, kata narasumber OPEC , Senin. Perubahan tanggal tersebut belum dikonfirmasi secara resmi, kata narasumber itu.
Menteri Energi Uni Emirat Arab, Suhail al-Mazrouei, sebelumnya mengatakan kepada wartawan bahwa produsen mampu mengisi setiap celah pasar dan merileksasi kebijakan pemotongan pasokan bukanlah keputusan yang tepat.
Data OPEC menunjukkan persediaan minyak di negara maju naik 3,3 juta barel per bulan pada periode Maret, dan 22,8 juta barel di atas rata-rata lima tahun.
Menambah sentimen  bullish  adalah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Presiden Donald Trump mengancam Teheran, Minggu, men- tweet  bahwa konflik akan menjadi "akhir yang resmi" dari Iran, sementara Arab Saudi mengatakan siap untuk merespons dengan "semua kekuatan" dan terserah Iran untuk menghindari perang.
Retorika itu mengikuti serangan minggu lalu terhadap aset minyak Saudi dan penembakan roket, Minggu, ke "Zona Hijau" di Baghdad yang meledak di dekat kedutaan AS.
Inggris mengatakan kepada Iran, Senin, untuk tidak meremehkan tekad Amerika Serikat, memperingatkan jika kepentingan AS diserang, pemerintahan Trump akan membalas. (ef)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM