Pasar Merespons Komentar Bos The Fed, "Greenback" Tergelincir
Friday, January 15, 2021       04:19 WIB

Ipotnews - Dolar melayang lebih rendah, Kamis, dalam perdagangan yang bergelombang, setelah Chairman Federal Reserve Jerome Powell memberikan nada yang  dovish,  mengatakan pihaknya tidak menaikkan suku bunga segera dan menolak saran bahwa bank sentral mungkin mulai mengurangi pembelian obligasi dalam waktu dekat.
Program pembelian aset The Fed untuk mendukung pasar keuangan selama pandemi telah membebani dolar, karena meningkatkan pasokan mata uang tersebut dan mengurangi nilainya, demikian laporan  Reuters  dan  Xinhua,  di New York, Kamis (14/1) atau Jumat (15/1) pagi WIB.
Dolar, bagaimanapun, diperdagangkan lebih tinggi untuk sebagian besar sesi Kamis, sejalan dengan kenaikan imbal hasil US Treasury, di tengah ekspektasi optimistis tentang stimulus fiskal Presiden terpilih Joe Biden. Tetapi dolar berubah arah saat Powell berbicara.
Powell mengatakan ekonomi masih jauh dari tujuan The Fed dan dia tidak melihat alasan untuk mengubah sikapnya yang sangat akomodatif "sampai pekerjaannya sangat baik dan benar-benar selesai." Chairman The Fed itu sedang wawancara langsung dengan seorang profesor Universitas Princeton.
"Kita mendapatkan banyak sekali kepingan pernyataan yang  dovish  seperti ekspektasi," kata Erik Bregar, Kepala Strategi FX, di Exchange Bank of Canada, Toronto.
Pada perdagangan petang, Indeks Dolar (Indeks DXY), yang mengukur  greenback  terhadap sekeranjang enam mata uang utama, sedikit berubah menjadi turun tipis di 90,24. Investor juga menunggu detail rencana bantuan pandemi Biden.
Sejak menembus level terendah tiga tahun pekan lalu, dolar melesat sekitar 1,2%, karena prospek lebih banyak stimulus telah membebani obligasi pemerintah Amerika, mengirimkan imbal hasil patokan US Treasury 10-tahun di atas 1% untuk pertama kalinya sejak Maret.
Imbal hasil US Treasury 10-tahun tetap lebih tinggi pada hari itu, karena Biden diperkirakan mengungkap proposal paket stimulus yang dirancang untuk memulai ekonomi selama pandemi virus korona melampaui USD1,5 triliun dan membantu komunitas minoritas.
Sejak awal bulan,  yield  US Treasury 10-tahun melonjak lebih dari 20 basis poin.
"Pada akhirnya, pasar mengantisipasi bahwa kita akan melihat lebih banyak stimulus daripada yang diprediksi dalam 100 hari pertama pemerintahan Biden," ujar Edward Moya, analis OANDA di New York.
Ekspektasi sangat tinggi untuk stimulus tersebut, tetapi banyak analis meyakini dorongan pengeluaran tersebut telah diperhitungkan.
Euro turun 0,1% menjadi USD1,2151, meski ada berita positif dari ekonomi terbesar di blok tersebut.
Ekonomi Jerman menyusut 5% pada 2020, kurang dari ekspektasi dan kontraksi yang lebih kecil daripada selama krisis keuangan global.
Euro, bagaimanapun, dibebani oleh ekspektasi bahwa Bank Sentral Eropa akan memantau nilai tukar lebih dekat. Euro melonjak sekitar 6,3% selama enam bulan terakhir.
Penyusun kebijakan ECB, Francois Villeroy de Galhau, Rabu, mengatakan ECB mencermati perkembangan nilai tukar dan dampak negatifnya terhadap inflasi.
Dolar turun 0,1% versus yen menjadi 103,75.
Pada akhir perdagangan di New York, poundsterling menguat jadi USD1,3681 dari USD1,3630 di sesi sebelumnya. Dolar Australia naik ke posisi USD0,7783 dari USD0,7743.
Sementara  greenback  melemah ke level 0,8877 franc Swiss dari 0,8879 franc Swiss, dan turun menjadi 1,2637 dolar Kanada dari 1,2697 dolar Kanada. (ef)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM