Pasar Cermati Prospek Kesepakatan Stimulus Amerika, Dolar "Melempem"
Tuesday, October 20, 2020       05:35 WIB

Ipotnews - Dolar melemah, Senin, karena investor mencermati prospek kesepakatan paket stimulus fiskal dapat dicapai menjelang pemilu Amerika 3 November, dan vaksin virus korona akan siap pada akhir tahun.
Indeks Dolar (Indeks DXY), yang mengukur  greenback  terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, turun 0,26 persen menjadi 93,44, demikian laporan  Reuters  dan  Xinhua,  di New York, Senin (19/10) atau Selasa (20/10) pagi WIB.
Indeks tersebut mengembalikan sebagian kenaikan 0,7% dari pekan lalu ketika lonjakan global dalam kasus virus korona dan kebuntuan atas paket stimulus memicu kehati-hatian.
Pelemahan  safe-haven  dolar terjadi setelah Ketua DPR Amerika Serikat, Nancy Pelosi, mengatakan keyakinannya undang-undang stimulus dapat didorong sebelum pemilu, sementara mengakui kesepakatan harus dicapai pada Selasa untuk mewujudkannya.
"Ada peningkatan optimisme bahwa akan ada upaya terakhir untuk mendapatkan kesepakatan stimulus," kata Edward Moya, analis Oanda di New York.
Pasar "tidak menahan napas, tetapi ada harapan bahwa setelah kita melewati pemilu, sesuatu akan dapat diselesaikan sehingga kita tidak perlu menunggu sampai Februari, yang akan terlalu lama bagi banyak UKM dan keluarga."
Indeks Dolar diperdagangkan dalam kisaran ketat 93,207 hingga 93,767, dan dari perspektif teknikal, kemungkinan akan tetap  range-bound  pekan ini, kata Marc Chandler, Kepala Strategi Pasar Bannockburn Global Forex.
Mendongkrak sentimen pasar secara keseluruhan, pabrikan obat Pfizer Inc, Jumat, mengatakan bahwa mereka berpotensi memiliki vaksin virus korona yang siap di Amerika Serikat pada akhir tahun.
Di tempat lain, poundsterling naik 0,22% versus dolar menjadi USD1,2952 karena tumbuhnya harapan negosiator Inggris dan Eropa mungkin dapat menyelamatkan perundingan perdagangan pasca-Brexit.
"Bisa jadi kesepakatan akan dicapai pada satu jam terakhir, karena pasar tampaknya memperkirakan, tetapi minimnya kemajuan yang terlihat baru-baru ini menyoroti kemungkinan berbeda bahwa tidak ada kesepakatan yang dicapai," kata ANZ Research.
Euro/dolar naik 0,44% menjadi USD1,1770, sedangkan dolar/yen turun 0,03% menjadi 105,38.
Mata uang Asia yang terpapar perdagangan menguat pada sesi Senin karena data menunjukkan pemulihan ekonomi China dari pandemi berakselerasi pada kuartal ketiga, dengan yuan melonjak ke level tertinggi satu setengah tahun yang baru terhadap dolar.
Produk domestik bruto China tumbuh 4,9% pada periode yang berakhir 30 September dari tahun sebelumnya, lebih lambat dari perkiraan analis, tetapi lebih cepat dari kuartal kedua dan dibantu oleh kenaikan kuat dalam output industri serta peningkatan penjualan ritel.
Yuan menyentuh 6,6737 terhadap dolar AS di pasar  offshore,  tingkat terkuat sejak Maret 2019, sebelum turun kembali 0,29%.
Yuan diuntungkan dalam beberapa bulan terakhir dari harapan bahwa kandidat Partai Demokrat, Joe Biden, akan memenangkan pemilihan presiden Amerika, karena dia dianggap tidak terlalu mengancam hubungan AS-China ketimbang Donald Trump.
Lee Hardman, analis mata uang di MUFG , mengatakan "renminbi, mata uang Asia dan mata uang terkait komoditas lainnya bakal terus diuntungkan," mencatat bahwa penyebaran Covid-19 di Asia tetap lebih terkendali daripada di seluruh dunia.
Dolar Australia merosot 0,18% menjadi USD0,7066, sedangkan dolar Selandia Baru menguat 0,08% menjadi USD0,6609.
Pada akhir perdagangan di New York,  greenback  turun menjadi 0,9100 franc Swiss dari 0,9150 franc Swiss, dan naik ke posisi 1,3181 dolar Kanada dari 1,3180 dolar Kanada. (ef)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM