Perencanaan Pensiun itu Sederhana, Tapi…..
Thursday, November 17, 2022       18:57 WIB

Pada tiga artikel sebelumnya, kita telah membahas bagaimana menetapkan asumsi-asumsi dalam perencanaan pensiun ( retirement planning ). Pertama, asumsi usia pensiun dan asumsi usia harapan hidup. Kedua, asumsi tingkat pengembalian ( return ) portofolio dan asumsi tingkat inflasi. Ketiga, asumsi ukuran portofolio yang harus dicapai (untuk dapat pensiun dengan nyaman) dan asumsi biaya-biaya dalam masa pensiun.
Semua asumsi ini tetap harus kita buat dalam perencanaan pensiun, walau pun kita tidak dapat membuat perhitungan perencanaan pensiun kita menjadi jauh lebih akurat dengan adanya asumsi-asumsi tersebut. Sesungguhnya, akurasi dalam perencanaan pensiun bukanlah hal yang penting di mana kita harus menghabiskan banyak waktu untuk menghitungnya. Bagaimana pun juga, sekali pun ingin membuat perhitungan yang lebih akurat, kita tidak dapat menghitung dengan pasti kapan akan meninggal, atau berapa besarnya tingkat pengembalian ( return ) portofolio dana pensiun, atau berapa besar inflasi yang akan terjadi tahun depan (apa lagi tiga puluh tahun dari sekarang).
Kita juga tidak akan dapat menghitung dengan tepat besaran portofolio pada waktu kita pensiun (termasuk besarnya dana pensiun yang dapat ditarik dengan aman dari portofolio), atau berapa besar biaya-biaya yang harus kita keluarkan selama masa pensiun.
Dalam perencanaan pensiun, salah satu asumsi yang paling sulit, tetapi juga paling penting, untuk ditaksir dengan akurat adalah tingkat inflasi. Bahkan seorang ekonom bergelar PhD (philosophical doctor), yang setiap hari berkutat dengan data-data ekonomi yang mutakhir, tidak akan dapat memperkirakan dengan tepat besarnya angka inflasi untuk satu tahun ke depan (apa lagi memperkirakan tingkat inflasi untuk tiga puluh tahun sejak pensiun).
Lalu, apakah seorang yang awam di bidang keuangan akan mampu memperkirakan tingkat inflasi itu?
Anda mungkin lalu berpikir, karena orang awam tidak mungkin akan mampu membuat perkiraan tingkat inflasi dengan cukup akurat, maka kita harus menyerahkan pekerjaan perencanaan pensiun ini ( retirement planning ) kepada seorang perencana keuangan professional yang bergelar CFP ( Certified Financial Planner ) atau CFA ( Chartered Financial Analyst ).
Benarkah demikian? Menurut hemat kami, pekerjaan perencanaan keuangan tidaklah terlalu sulit dan seharusnya mampu ditangani oleh setiap orang. Lagi pula, tidak ada orang yang dapat atau mampu membuat perkiraan yang akurat dalam perencanaan pensiun, termasuk para perencana keuangan ( financial planner ). Semuanya hanya diasumsikan. Lalu untuk apa membayar mahal para perencana keuangan untuk pekerjaan yang kita sama-sama tahu bahwa perencana keuangan juga tidak tahu?
Saya tidak hendak mengecilkan arti profesi perencana keuangan ( financial planner ). Saya sendiri adalah seorang professional bergelar CFA ( Chartered Financial Analyst ) yang lulus ujian CFA (tanpa pernah sekali pun mengulang) hampir dua puluh tahun yang lalu. Saya juga memiliki gelar profesi sebagai CFP ( Certified Financial Planner ) dan bahkan pernah menjadi dosen ( lecturer ) selama sekitar lima tahun untuk program CFP di salah satu universitas swasta.
Saya hanya ingin mengatakan bahwa perencanaan keuangan bukanlah ilmu eksakta yang selalu dapat dihitung dengan akurat. Misalnya, tidak ada yang tahu persis mengenai jumlah dana pensiun yang harus dimiliki untuk dapat pensiun dengan nyaman. Atau, mengenai besarnya dana pensiun yang dapat ditarik (diambil) dengan aman (artinya, penarikan dana pensiun itu tidak akan mengurangi daya beli atau  purchasing power  dari portofolio).
Semua hanya dihitung berdasarkan asumsi (atas suatu faktor yang tidak diketahui). Hasil  perencanaan keuangan yang kita buat hanya sebaik asumsi  yang kita buat sebelumnya. Untuk dapat membuat asumsi yang baik, maka kita membutuhkan edukasi finansial yang memadai.
Para pembaca IPOTNEWS yang tertarik untuk membahas masalah ini mungkin ingin membaca sekali lagi artikel kami sebelumnya yang berjudul  'Perencanaan Keuangan: Menggunakan Jasa Perencana Keuangan atau Do It Yourself?' .
Dengan melakukan sendiri perencanaan keuangan untuk diri kita, maka di samping menghemat uang untuk pembayaran imbal jasa ( fee ) perencana keuangan, kita juga akan melatih kemampuan keuangan kita menjadi lebih tajam. Dengan kata lain, dengan membuat sendiri perencanaan keuangan, kita sudah memberikan edukasi finansial ( financial education ) pada diri kita.
Dengan edukasi finansial yang memadai, diharapkan bahwa di kemudian hari, kita akan mampu membuat keputusan-keputusan finansial yang lebih baik, tanpa bergantung pada orang lain. Para pembaca IPOTNEWS yang tertarik untuk membahas masalah ini mungkin ingin membaca sekali lagi artikel kami sebelumnya yang berjudul  'Mengapa Edukasi Finansial Merupakan Edukasi Terbaik Bagi Diri Anda?'. 
Kembali ke masalah asumsi tingkat inflasi yang sangat penting dalam perencanaan pensiun (tapi tidak dapat diperkirakan dengan akurat dengan cara apa pun saat ini). Cara yang paling mudah dan kami anjurkan untuk dilakukan oleh pembaca Ipotnews yang hendak membuat perencanaan keuangan secara  Do It Yourself  adalah mengkaitkan tingkat inflasi itu dengan angka indikator lain yang ingin kita perkirakan tapi juga tidak dapat dihitung secara akurat.
Jadi, misalnya memperkirakan tingkat pengembalian ( return ) portofolio itu juga sangat sulit untuk ditaksir dengan akurat. Tapi, kita dapat memperkirakan besaran angka untuk  tingkat pengembalian portofolio di atas tingkat inflasi . Dengan cara ini, angka tingkat pengembalian ( return ) portofolio dapat ditaksir secara lebih akurat.
Demikian pula, kita tidak dapat memperkirakan dengan tepat besarnya peningkatan biaya-biaya perawatan kesehatan per tahun dalam masa pensiun, tetapi kita masih bisa membuat asumsi (yang lebih akurat) tentang besarnya angka persentase peningkatan biaya perawatan kesehatan di atas kenaikan tingkat inflasi.
Tujuan kita membuat asumsi-asumsi dalam perencanaan pensiun ini, seperti asumsi usia pensiun dan usia harapan hidup, asumsi tingkat pengembalian ( return ) dan asumsi tingkat inflasi, kemudian asumsi ukuran portofolio dan asumsi biaya-biaya selama masa pensiun, adalah untuk menghitung besarnya dana pensiun yang akan dimiliki pada waktu pensiun. Dana pensiun ini harus memadai supaya kita dapat mencapai kebebasan finansial (pensiun yang nyaman).
Pada intinya, kita ingin mengetahui apakah kita akan sampai pada satu titik, pada saat pensiun nanti,  dimana passive income lebih besar atau setidaknya sama dengan biaya-biaya selama masa pensiun . Jika titik itu telah dicapai pada saat atau sebelum masa pensiun, maka kita telah dapat pensiun dengan nyaman.
Jika pada saat pensiun nanti, ternyata penghasilan pasifnya ( passive income ) masih lebih kecil daripada biaya-biaya yang akan harus dikeluarkan selama masa pensiun, maka berarti kita belum siap untuk pensiun. Dalam hal ini, sebagian penghasilan kita masih harus diperoleh dari penghasilan aktif ( active income ) atau dengan cara bekerja.
 Oleh: Fredy Sumendap, CFA 

Sumber : IPS

powered by: IPOTNEWS.COM


Berita Terbaru

Wednesday, Nov 30, 2022 - 19:31 WIB
Financial Statements 3Q 2022 of MEDC
Wednesday, Nov 30, 2022 - 19:26 WIB
Financial Statements 3Q 2022 of ICBP
Wednesday, Nov 30, 2022 - 19:23 WIB
Financial Statements 3Q 2022 of INDF
Wednesday, Nov 30, 2022 - 18:48 WIB
Perubahan Kepemilikan Saham PEHA
Wednesday, Nov 30, 2022 - 18:46 WIB
Perubahan Kepemilikan Saham SRTG
Wednesday, Nov 30, 2022 - 18:44 WIB
Kinerja Keuangan BOSS 3Q 2022
Wednesday, Nov 30, 2022 - 18:42 WIB
Kinerja Keuangan UFOE 3Q 2022
Wednesday, Nov 30, 2022 - 18:38 WIB
Perubahan Kepemilikan Saham BBYB
Wednesday, Nov 30, 2022 - 18:36 WIB
Kinerja Keuangan DMND 3Q 2022
Wednesday, Nov 30, 2022 - 18:34 WIB
Kinerja Keuangan ERTX 3Q 2022