Perlambatan Global Berdampak pada Ekspor dan Harga Komoditas … Krisis Energi Untungkan Indonesia - Ashmore
Sunday, November 27, 2022       10:21 WIB

Ipotnews - Bursa saham Indonesia mengakhiri sesi perdagangan pekan keempat November, Jumat (25/11), dengan mencatatkan penurunan IHSG sebesar 0,39% menjadi 7.053, juga lebih rendah dari sesi penutupan akhir pekan sebelumnya di posisi 7.082. Investor asing membukukan arus masuk ekuitas sebesar USD126 juta dalam sepekan terakhir.
PT Ashmore Asset Management Indonesia mencatat beberapa peristiwa yang mempengaruhi pergerakan dana di pasar modal dalam dam luar negeri, antara lain;
o Penjualan rumah baru di AS yang disesuaikan secara musiman naik 7,5% (yoy) sebesar 632 ribu pada Oktober 2022, mengalahkan ekpektasi penjualan sebesar 570 ribu, dan berlawanan dengan penurunan permintaan perumahan baru-baru ini karena The Fed secara agresif memperketat kebijakan moneter.
o Indikator awal keyakinan konsumen zona euro naik 3,6 poin menjadi -23,9 pada November 2022, mengalahkan ekspektasi sebesar -26.
o PDB Jerman meningkat 1,3% pada kuartal III 2022 dibandingkan 3Q21, mengalahkan perkiraan kenaikan 1,2%.
o Produksi industri Rusia turun 2,6% yoy pada Oktober 2022, menyusul penurunan 3,1% di September, lebih baik dibandingkan ekspektasi penurunan 3,8%. Ini adalah penurunan aktivitas industri selama tujuh bulan berturut-turut.
o Bank sentral Afrika Selatan menaikkan  benchmark repo rate  sebesar 75 bps menjadi 7% pada rapat November 2022, seuai ekspektasi, kenaikan suku bunga ketujuh berturut-turut sejak normalisasi kebijakan dimulai pada November 2021.
o Bank of Korea menaikkan suku bunga dasarnya sebesar 25bps menjadi 3,25% dalam rapat November, sesuai konsensus, mendorong biaya pinjaman ke level tertinggi sejak Juni 2012, setelah dua kenaikan setengah poin tahun ini. BoK berusaha mengimbangi The Fed dan mencegah kejatuhan mata uang lokal.
o Tingkat inflasi tahunan Singapura turun menjadi 6,7% pada Oktober 2022 dari level tertinggi 14 tahun sebesar 7,5% dalam 2 bulan sebelumnya, di bawah konsensus pasar sebesar 7,1%.
o Jumlah Uang Beredar M2 di Indonesia meningkat menjadi Rp 8.222.200 miliar di Oktober dari Rp 7.962.700 miliar di September 2022
Mencermati perkembangan selama sepekan terakhir, berikut pandangan Ashmore dalam  Weekly Commentary , Jumat (25/11);
Bagaimana masa depan inflasi dan kebijakan moneter di Asia?
Mendekati penghujung November, kita perlu mencerna berbagai guncangan yang dialami sepanjang tahun. Apa yang bisa kita harapkan tentang tren dalam waktu dekat? Menurut Ashmore, sejauh ini, inflasi telah menjadi tantangan bagi sebagian besar ekonomi Asia meskipun ada tanda-tanda puncak inflasi akhir-akhir ini.
"Meskipun  sticky inflation  dapat bertahan dalam jangka pendek, inflasi dapat menurun lebih signifikan pada tahun 2023, dengan rata-rata inflasi IHK semakin melambat di tahun berikutnya," tuis Ashmore.
Para ekonom memperkirakan bahwa kebijakan moneter dalam bentuk kenaikan suku bunga acuan kemungkinan akan melambat. Namun, kita bisa memperkirakan beberapa kenaikan suku bunga lagi sebelum beralih ke pelonggaran suku bunga pada tahun 2023.
Menurut Ashmore, beberapa risiko termasuk inflasi mencapai tingkat yang lebih tinggi dari ekpektasi, yang sebagai akibatnya, dapat mendorong kenaikan suku bunga lebih lanjut serta penundaan penurunan suku bunga.
Jika China membuka kembali ekonominya lebih lambat dari yang diharapkan, hal itu dapat menyebabkan ekspektasi pertumbuhan yang lebih rendah pada perekonomian lainnya di Asia.
"Faktor risiko lainnya, termasuk guncangan permintaan yang menyebabkan pertumbuhan yang lebih lemah di Asia secara keseluruhan," ungkap Ashmore.
Apa saja tren yang mungkin dihadapi Indonesia?
Ashmore berpendapat, pertumbuhan Indonesia akan paling terpengaruh oleh perlambatan global, terutama melalui ekspor dan harga komoditas yang lebih rendah. Dibandingkan dengan negara lain di Asia, porsi ekspor Indonesia relatif kecil, dengan kontribusi sekitar 20% dari PDB pada tahun 2021.
"Harga komoditas yang lebih rendah dapat melemahkan sektor-sektor yang terkait dengan kelapa sawit dan minyak mentah. Namun, investasi terkait industri EV mungkin baik-baik saja, mengingat tren EV global saat ini," papar Asmore.
Sementara itu, sebagai pengekspor batu bara terbesar dunia, Indonesia sangat diuntungkan oleh krisis energi. Namun, pada saat yang sama, Indonesia memajukan agenda hijaunya dengan membawa target nol bersih ke tahun 2060, membuat rencana kawasan industri hijau, dan beralih ke ekosistem EV dan baterai.
"Kami mempertahankan pandangan kami tentang ekuitas sebagai lindung nilai inflasi sambil tetap mengawasi obligasi karena suku bunga global dapat mencapai puncaknya." (Ashmore)

Sumber : admin

powered by: IPOTNEWS.COM