Permintaan Diprediksi Melonjak, Nikel Melesat ke Level Tertinggi 11 Bulan
Tuesday, October 20, 2020       04:03 WIB

Ipotnews - Harga nikel meroket ke level tertinggi 11-bulan, Senin, karena ekspektasi permintaan yang kuat dari pabrik  stainless steel  mendorong pembelian, sementara logam industri secara keseluruhan didukung depresiasi dolar dan pertumbuhan yang sehat di konsumen terbesar, China.
Harga patokan nikel di London Metal Exchange naik 0,2% menjadi USD15.685 per ton pada pukul 23.01 WIB, setelah USD15.815 per ton di awal sesi, level tertinggi sejak November tahun lalu, demikian laporan  Reuters,  di London, Senin (19/10).
"Beberapa kalangan mengantisipasi pemulihan yang luar biasa dalam produksi  stainless steel  China dan Indonesia, terutama  grade  nikel seri-300," kata analis Macquarie, Jim Lennon.
"Peninjauan awal untuk Oktober menunjukkan produksi akan tetap solid di dekat level rekor tertinggi, dengan produksi Indonesia naik ke rekor tertinggi baru."
Juga, di balik harga yang lebih tinggi itu, adalah penundaan rencana perluasan kapasitas produksi di Indonesia hingga tahun depan.
"Setelah surplus awal tahun ini, bisa jadi ada penyempitan di kuartal saat ini dan bahkan defisit kecil pada kuartal pertama tahun depan. Setelah itu surplus akan muncul kembali," kata Lennon.
Permintaan nikel global diperkirakan 2,52 juta ton pada 2021 dari 2,32 juta ton tahun ini, kata International Nickel Study Group ( INSG ) pekan lalu.
Dikatakan bahwa ekspektasi surplus 117.000 ton tahun ini dan surplus 68.000 ton pada 2021.
Spekulasi pada harga yang lebih tinggi dapat dilihat pada  open interest  yang lebih tinggi untuk kontrak nikel LME.
Logam dasar didukung oleh pertumbuhan produk domestik bruto China sebesar 4,9%  (year-on-year)  pada kuartal Juli hingga September, di bawah konsensus pasar, tetapi di atas 3,2% pada kuartal kedua.
Output industri, kunci untuk permintaan logam naik 6,9% (y-o-y) pada September dari 5,6% di bulan sebelumnya.
Pula mendorong pasar adalah pelemahan dolar, yang ketika jatuh membuat logam dalam denominasi  greenback  itu lebih murah bagi pemegang mata uang lain, yang dapat mendongkrak permintaan dan harga.
Logam dasar lainnya di kompleks LME sebagian besar juga menguat. Tembaga naik 0,6% menjadi USD6.779 per ton, seng melambung 2,1% menjadi USD2.487 per ton, timbal bertambah 0,3% menjadi USD1.758 per ton dan timah melesat 1,8% menjadi USD18.650 per ton, sedangkan aluminium turun 1% menjadi USD1.852 per ton. (ef)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM