Rupiah Akan Mengungguli Mata Uang Asia di Akhir Tahun, Namun Iklim Risiko Masih Hadapi Tantangan Besar
Wednesday, September 16, 2020       23:09 WIB

Ipotnews - Rupiah berpotensi mengungguli semua mata uang Asia lainnya di bulan-bulan terakhir tahun 2020 berdasarkan perkiraan konsensus, meski bulls memperingatkan bahwa proxy risiko dapat menghadapi hambatan yang signifikan.
Pemulihan ekonomi dan imbal hasil tinggi obligasi pemerintah Indonesia dapat mengangkat rupiah sekitar 1,3% dari level saat ini pada akhir Desember, menurut analis yang disurvei oleh Bloomberg. Rupiah sudah tertekan 6,7% sejak Januari, terbesar di kawasan hingga September ini, sehingga sejumlah permainan catch-up bisa terjadi.
Tetapi ada beberapa peringatan besar bagi investor yang bersedia mengambil risiko, dengan lonjakan kasus virus corona baru dan tanda tanya atas independensi Bank Indonesia. Westpac Banking Corp, Australia & New Zealand Banking Group Ltd, dan Malayan Banking Bhd Termasuk di antara yang memproyeksikan kenaikan rupiah setelah beberapa fluktuasi jangka pendek.

"Saya memperkirakan rupiah akan pulih menjelang akhir tahun, tetapi ini bergantung pada beberapa hambatan negatif yang tengah mereda," kata Khoon Goh, kepala riset Asia di ANZ. "Jika kasus Covid-19 baru di Indonesia dapat diturunkan, dan usulan revisi UU BI yang dikhawatirkan mengganggu independensi bank sentral dibatalkan, tentu itu akan mengubah sentimen terhadap rupiah, memungkinkannya untuk mengungguli (mata uang Asia lain)."
Goh memperkirakan rupiah akan menyentuh 14.300 per dolar pada akhir tahun, dibandingkan posisi 14.860 pada hari ini, Rabu (16/9).
Frances Cheung, kepala strategi makro Asia di Westpac di Singapura, memperkirakan rupiah akan berada pada 14.400 akhir tahun ini. MayBank lebih bullish, dengan perkiraan 14.200, tetapi memprediksi kenaikan belum akan dimulai.
"Kita kemungkinan akan membutuhkan menyingkirkan delu 'debu" dari pemilihan presiden AS (3 November), atau melihat uji coba vaksin yang lebih berhasil diselesaikan, sebelum pasar lebih nyaman kembali ke aset berisiko rupiah," kata Yanxi Tan, ahli strategi valuta asing di Maybank.
Proyeksi median kuartal keempat yang dihimpun Bloomberg rupiah berada di 14.657.

Indikator teknis mulai dari rata-rata pergerakan 50, 100, dan 200 hari hingga stochastic dan pengukur kekuatan relatif juga menunjukkan rebound untuk rupiah.
Sementara itu, Bank Indonesia mengintensifkan intervensinya di pasar uang untuk menahan pelemahan rupiah. Pada hari Kamis (17/9) besok, BI diperkirakan akan mempertahankan suku bunga utamanya tidak berubah di 4% dalam tinjauan kebijakan, sementara para pejabat bank sentral diharapkan untuk mengeliminasi kekhawatiran yang masih ada atas independensi mereka.
Risiko penurunan suku bunga
Namun, Kunal Kundu dari Societe Generale SA melihat potensi penurunan suku bunga membebani rupiah dan memprakirakan rupiah tetap berada di posisi terbawah tabel liga Asia untuk paruh kedua tahun ini.
Mizuho Bank Ltd. memperkirakan rupiah dapat melemah hingga 15.300 pada akhir tahun, di tengah kekhawatiran virus dan monetisasi utang.
"Kebangkitan Covid sulit untuk ditahan di Indonesia, yang tidak menguntungkan rupiah," kata Wisnu Varathan, kepala ekonomi dan strategi Mizuho.(Bloomberg)

Sumber : admin

powered by: IPOTNEWS.COM