Seberapa Penting Alokasi Aset Bagi Pemodal?
Wednesday, April 20, 2022       16:11 WIB

Dari hasil riset yang Panjang atas kinerja reksadana di AS (lihat misalnya riset Beebower, Hood and Brinson, 1986: "The Determinants of Portfolio Performance"), diketahui bahwa kinerja portofolio 88% ditentukan oleh alokasi aset dalam portofolio tersebut.
Jadi, kinerja portofolio pertama-tama ditentukan oleh jenis-jenis aset (efek) yang ada dalam portofolio, dan bukan oleh saham-saham atau obligasi-obligasi tertentu yang ada dalam portofolio.
Artinya, sebelum memulai membangun portofolio, kita harus terlebih dahulu memulai dari gambaran (garis besar) portofolio yang ingin kita bentuk. Artinya, kita harus memulai membangun portofolio berdasarkan alokasi aset.
Jangan dibalik!
Kita tidak bisa membentuk portofolio yang dimulai dari efek-efek individual yang kita kumpulkan dalam portofolio. Kasarnya, biarpun kita memiliki Manajer Investasi yang super hebat, yang dapat memilih saham-saham atau obligasi-obligasi terbaik bagi kita, tetapi kalau kondisi pasar saham (atau pasar obligasi) sedang tidak menguntungkan, maka kinerja portofolio juga tidak akan baik.
Perlu diingat di sini, berdasarkan peraturan OJK yang berlaku saat ini tentang reksadana, bahwa suatu reksadana hanya disebut sebagai reksadana ekuitas jika 80% portfolio-nya diinvestasikan dalam instrumen ekuitas, dan reksadana disebut sebagai reksadana pendapatan tetap hanya jika 80% dari portofolionya diinvestasikan dalam efek-efek pendapatan tetap.
Dalam menyusun portofolio investasi, supaya portofolio kita terdiversifikasi dengan baik, maka dianjurkan untuk tidak berinvestasi pada efek-efek individual, tetapi pada reksadana konvensional atau reksadana bursa yang ada.
Jadi, berdasarkan alokasi asetnya, portofolio kita disarankan untuk terdiri dari aset-aset (efek-efek) ekuitas, pendapatan tetap, dan pasar uang. Aset-aset ekuitas diperoleh dari kepemilikan unit penyertaan reksadana ekuitas (konvensional) atau reksadana bursa (ETF) yang mengikuti indeks saham.
Aset-aset pendapatan tetap diperoleh dari kepemilikan unit penyertaan reksadana pendapatan tetap (konvensional) atau reksadana bursa (ETF) yang mengikuti indeks obligasi, dan aset-aset pasar uang diperoleh dari kepemilikan unit penyertaan reksadana pasar uang.
Unit penyertaan reksadana merupakan satuan kepemilikan yang tidak terbagi-bagi dalam portofolio reksadana.
Bagaimana campuran yang tepat dari bermacam aset dapat menurunkan resiko investasi?
Alokasi aset keuangan dalam portofolio terdiri dari campuran efek-efek ekuitas, efek-efek pendapatan tetap, dan efek-efek pasar uang. Pada setiap kondisi pasar, ketiga macam efek-efek ini akan bereaksi berbeda.
Efek ekuitas (saham-saham) akan bergerak lincah, harganya naik dan turun dalam sekejap akibat berita ekonomi, kinerja perusahaan, bencana alam, dll.
Efek pendapatan tetap (obligasi) lebih stabil harganya dibanding harga dari efek ekuitas. Harga obligasi umumnya ditentukan oleh faktor inflasi, suku bunga,  term to maturity , serta peringkat (rating) obligasi.
Kemudian, ada efek pasar uang seperti SBI dan deposito yang harganya paling stabil di antara ketiga efek ini. Tentu saja, makin stabil harga suatu efek (makin rendah volatilitasnya) maka makin rendah pula imbal hasil ( return ) dari efek tersebut.
Menggabungkan efek-efek ekuitas, pendapatan tetap, dan efek pasar uang tidak akan menghilangkan resiko investasi. Tetapi resiko investasi (volatilitas harga) dapat dikurangi dengan berinvestasi pada bermacam efek-efek yang berbeda. Pada saat yang sama, imbal hasil portofolio juga akan lebih baik dibanding berinvestasi seluruhnya pada efek pasar uang saja.
Campuran yang tepat dari ketiga macam efek ini akan membuat resiko portofolio (volatilitas harganya) tidak setinggi portofolio yang seluruhnya terdiri atas saham-saham saja, tetapi juga imbal hasil ( return ) portofolio akan lebih tinggi dibanding imbal hasil efek pasar uang.
Menentukan bauran aset yang tepat
Menentukan bauran aset ( asset allocation atau asset mix ) yang tepat bagi seorang pemodal tentu tidak sama dengan menentukan bauran aset untuk pemodal lainnya. Di sini tidak berlaku prinsip satu ukuran untuk semua ( one size fits all ).
Bauran aset ( asset mix ) atau alokasi aset buat seorang pemodal terutama dipengaruhi oleh dua hal. Pertama adalah jangka waktu investasi, dan kedua adalah toleransi resiko (dan kapasitas resiko) dari pemodal itu sendiri.
Jangka waktu investasi ditentukan oleh tujuan investasi ( goal ) yang hendak dicapai oleh pemodal. Ada tujuan jangka pendek (satu tahun atau kurang), ada tujuan jangka menengah (satu tahun sampai lima tahun), dan ada tujuan jangka panjang (lebih dari lima tahun).
Untuk tujuan investasi jangka pendek, pemodal tidak boleh mengambil resiko apa pun, dan bauran aset sebaiknya hanya pada instrumen pasar uang. Untuk tujuan investasi jangka menengah, pemodal dapat menginvestasikan uangnya pada instrumen yang lebih beresiko dibandingkan efek pasar uang.
Misalnya pemodal dapat membeli reksadana pendapatan tetap yang portofolionya berinvestasi pada obligasi-obligasi perusahaan besar atau BUMN . Untuk tujuan investasi jangka panjang, pemodal lebih bebas berinvestasi pada aset beresiko seperti efek-efek ekuitas.
Toleransi resiko adalah keinginan ( willingness ) atau kesediaan untuk menanggung resiko. Toleransi resiko seorang pemodal harus diukur bersamaan dengan kapasitas resiko yang dimiliki pemodal itu. Kapasitas resiko seorang pemodal adalah kemampuan aktual dari pemodal untuk menanggung resiko yang terjadi.
Toleransi resiko ditentukan oleh faktor-faktor kepercayaan ( belief ), kepribadian ( personality ), dan pengalaman berinvestasi ( experience ) yang dimiliki seseorang. Tujuan mengetahui toleransi resiko adalah memastikan bahwa pemodal dapat tetap tidur nyenyak sekalipun investasinya mengalami penurunan harga untuk sementara.
Sedangkan tujuan mengetahui kapasitas resiko seorang pemodal adalah untuk mengetahui apakah seorang pemodal memiliki kemampuan (kapasitas) aktual untuk menanggung resiko yang terjadi bardasarkan jumlah investasi dan harta (aset) yang dimiliki saat ini serta arus kas yang akan datang.
 Oleh: Fredi Sumnedap, CFA 

Sumber : IPS

powered by: IPOTNEWS.COM