Secara Umum, Ekspektasi Pemulihan Pasar Modal Indonesia Lebih Optimistis: Ashmore
Sunday, July 12, 2020       13:38 WIB

Ipotnews - Bursa saham Indonesia mengakhiri pekan ini (Jumat,10/9), dengan melemah 0,43% ke level 5/031, namun secara mingguan meningkat dibanding akhir pekan sebelumnya di posisi 4.973. Investor asing tetap mencatatkan aliran keluar modal dari bursa ekuita, senilai USD16 juta sepanjang pekan, dan menarik dana dari pasar obligasi senilai USD29 juta (hingga Rabu lalu).
PT Ashmore Asset Management Indonesia mencatat, beberapa peristiwa penting yang mempengaruhi pergerakan modal di pasar di dalam dan luar negeri, antara lain;
  • Pembaruan kasus virus korona; AS masih berada di puncak kasus infeksi terbanyak dengan 3,1 juta penederita Covid-19, diikuti Brazil dengan 1,7 juta. Sejumlah negara yang sudah membuka perekonomiannya memasang kembali sejumlah pembatas demi mencegah wabah gelombang kedua.
  • Rilis data PMI Non-Manufaktur ISM AS melonjak menjadi 57,1 pada Juni 2020 dari 45,4 pada bulan sebelumnya, mengalahkan perkiraan sebesar 50,1.
  • Sektor ritel Uni Eropa pada Mei 2020  rebound  dengan mencatatkan rekor kenaikan 17,8% dari bulan sebelumnya, pulih dari rekor penurunan dua bulan berturut-turut, lebih besar dari ekspektasi kenaikan 15%.
  • Tingkat inflasi tahunan Cina naik menjadi 2,5% pada Juni 2020 dari level terendah 14-bulan 2,4% pada bulan sebelumnya.
  • Cadangan Devisa Indonesia pada Juni lalu meningkat menjadi USD131,7 miliar dari US130,5 miliar pada Mei 2020.

Dengan memperhatikan sejumlah peristiwa tersebut, berikut ini beberapa hal yang perlu dipertimbangkan menurut Ashmore dalam  Weekly Commentary  (Jumat, 10/7);
Pembukaan kembali vs kepercayaan industri.
Berdasarkan data mobilitas terbaru yang disediakan oleh Google, Ashmore melihat adanya tren kenaikan di seluruh area non-perumahan. Di Jakarta, mobilitas tempat kerja yang 80% berada di bawah garis dasar dua bulan lalu, telah naik hingga 17% di bawah garis dasar. Ritel dan rekreasi juga naik dari sekitar 60% di bawah garis dasar, hingga 33% di bawah garis dasar.
"Semuanya menunjukkan bahwa ada kemungkinan akan menjadi peningkatan lebih lanjut dalam beberapa aktivitas ekonomi. Tetapi apakah pemilik bisnis memiliki kepercayaan yang sama?" tulis Ashmore.
Ashmore mengutip hasil survei CIMB CGS pada 43 perusahaan yang terdaftar di berbagai industri, tentang dampak Covid19 terhadap perusahaan mereka.
Berikut ini adalah temuan utamanya:
  • Sebanyak 44% perusahaan melihat dampak Covid19 lebih buruk daripada yang diperkirakan, 44% perusahaan berpikir dampak Covid19 seperti yang diekspektasikan, dan hanya 12% yang menunjukkan bahwa dampak negatif Covid19 tidak seburuk yang diperkirakan sebelumnya.
  • Dua sektor yang paling terpukul adalah otomotif dan komoditas. Pukulan pada sektor otomotif pada dasarnya terjadi pada periode penguncian dan karena mobilitas yang rendah. Sedangkan pada sektor komoditas sebagian besar disebabkan oleh penurunan dalam manufaktur dan perdagangan global. Sementara itu, dua sektor yang secara mengejutkan tidak seburuk ekspektasi awal adalah transportasi dan retribusi. Keduanya memiliki pandangan yang sangat pesimistik pada Covid19, namun secara mengejutkan mencatatkan data aktual yang lebih tinggi dari target yang telah disesuaikan.
  • Kapan pemulihan akan terjadi pada perusahaan? 40% perusahaan berpikir pemulihan akan terjadi pada paruh pertama 2021 (1H21). Angka yang sama yang berpikir bahwa pemulihan akan lebih cepat dan sekitar 18% berpikir pemulihan akan lebih lambat dari 1H21.
  • Dua industri yang berpikir pemulihan akan terjadi lebih lambat adalah sektor multifinance serta barang dan jasa industri. Sementara sektor konsumer dan ritel adalah dua yang memperkirakan pemulihan akan terjadi lebih cepat.

"Secara keseluruhan kami percaya ekspektasi pemulihan secara umum telah mendorong pasar modal Indonesia untuk lebih optimis, terutama di pasar ekuitas. Kami terus merekomendasikan untuk mengambil pendekatan yang lebih seimbang dalam portofolio yang tidak terlalu berat pada surat utang, karena pemulihan biasanya akan tercermin dalam investasi ekuitas daripada pada investasi hutang." (Ashmore)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM


Berita Terbaru

Tuesday, Aug 11, 2020 - 13:53 WIB
Financial Statements 1Q 2020 of UNSP
Tuesday, Aug 11, 2020 - 13:52 WIB
Apexindo Pratama Duta (APEX) khawatirkan rendahnya harga migas
Tuesday, Aug 11, 2020 - 13:52 WIB
NIKL Pangkas Target Kinerja Tahun Ini
Tuesday, Aug 11, 2020 - 13:48 WIB
Financial Statements 1Q 2020 of PURE
Tuesday, Aug 11, 2020 - 13:43 WIB
Financial Statements Full Year 2019 of POLI
Tuesday, Aug 11, 2020 - 13:39 WIB
LPPF Pangkas Modal Disetor Menjadi Rp280,460 Miliar
Tuesday, Aug 11, 2020 - 13:37 WIB
Financial Statements Full Year 2019 of POLL
Tuesday, Aug 11, 2020 - 13:34 WIB
Financial Statements Full Year 2019 of TRIL
Tuesday, Aug 11, 2020 - 13:32 WIB
Begini strategi Ever Shine Tex (ESTI) bertahan di tengah pandemi Covid-19
Tuesday, Aug 11, 2020 - 13:29 WIB
Financial Statements Full Year 2019 of TIRA