Sejumlah Mata Uang Asia Ditutup Menguat Terhadap Dolar AS
Friday, July 31, 2020       19:02 WIB

Ipotnews - Sejumlah mata uang Asia menguat terhadap dolar AS pada final perdagangan hari Jumat (31/7).
Penguatan sejumlah mata uang Asia terhadap dolar AS sepanjang bulan Juli merupakan yang terbesar dalam beberapa bulan terakhir. Kejatuhan dolar AS karena investor merasa jatuh khawatir akan prospek pemulihan ekonomi AS yang diperkirakan terhambat oleh gelombang kedua wabah virus corona.
Beberapa pasar valas Asia tutup untuk libur Hari Raya Idul Adha. Namun beberapa mata uang Asia seperti Korea Selatan, Taiwan, Thailand dan Cina tetap diperdagangkan dan semuanya menguat.
Meskipun terus terjadi peningkatan infeksi virus corona di India, rupee juga siap untuk mengakhiri bulan Juli dengan penguatan hampir 1% pada dolar AS. Ini merupakan penguatan bulanan terbaik dalam lebih dari setahun terakhir.
Dolar Singapura telah naik sekitar 1,7% sepanjang bulan ini. Penguatan ini meruapakan yang terbesar sejak Januari 2018. "Dalam waktu dekat, gelombang besar likuiditas bank sentral global dan pasokan dolar AS yang cukup secara global akan berarti bahwa goncangan naik secara kuat dolar AS secara siklikal tampak rentan," kata Tim Analis ANZ seperti dikutip Reuters.
"Likuiditas dunia yang meningkat akan kondusif bagi mata uang Asia dan ini adalah dimana Kami berpikir pelemahan dolar AS ke depan memperlihatkan kelemahannya sendiri," tambah Tim Analis tersebut.
Melonjaknya kasus virus corona di sejumlah negara bagian AS dalam dua minggu terakhir telah mengganggu pemulihan ekonomi. Kondisi ini juga melemahkan daya tarik enam mata uang utama greenback sebagai tempat berinvestasi yang aman di saat-saat tertekan. Kondisi ini juga menempatkan indeks dolar berada dalam penurunan bulanan terbesar dalam 10 tahun.
Mata uang Taiwan dan baht Thailand meraih kenaikan 0,7% pada hari Jumat. Sementara won mencapai level tertinggi terhadap dolar AS dalam empat bulan terakhir.
Pasar saham Asia sebagian besar relatif stabil meskipun bursa saham Wall Street mengalami tekanan. Ini akibat RUU perpanjangan stimulus fiskal tunjangan pengangguran yang ditunggu warga AS tetap macet di Kongres. Padahal data menunjukkan bahwa jumlah klaim untuk tunjangan pengangguran terus meningkat.
Pasar saham China adalah satu-satunya yang mengalami penguatan setelah data menunjukkan sejumlah pabrik China mulai meningkatkan aktivitasnya pada bulan Juli. Peningkatan terjadi selama lima bulan berturut-turut karena membaiknya prospek produksi barang-barang listrik dan farmasi. Ini membantu mempertahankan pemulihan yang lebih luas di pasar saham.
Yuan melonjak 0,4% dan berada di jalur penguatan bulanan terbaiknya sejak Oktober 2019. Investor akan melihat data ekspor Juli pada minggu depan dari China, Korea Selatan dan Taiwan untuk mengukur perkembangan kondisi permintaan global. Produk manufaktur dari banyak negara juga diharapkan.
Mengutip data CNBC hari ini pukul 15.40 WIB, kurs yuan mencapai 6,9767 per dolar AS. Posisi ini menguat 0,0313 poin atau 0,4466% dibanding penutupan terakhir. Kurs yen mencapai 104,69 per dolar AS. Posisi ini menguat 0,03 poin atau 0,0286% dibanding penutupan terakhir.
Kurs dolar Singapura mencapai 1,3709 per dolar AS. Posisi ini menguat 0,0009 poin atau 0,0656% dibanding penutupan terakhir. Kurs dolar Australia mencapai 0,7189 per dolar AS. Posisi ini menguat 0,0004 poin atau 0,0556% dibanding penutupan terakhir.
(Adhitya)

Sumber : admin

powered by: IPOTNEWS.COM