Smart Beta ETF ... Apakah Itu?
Tuesday, September 25, 2018       19:28 WIB

Smart Beta ETF merupakan jenis investasi Reksa Dana terbaru yang diperkenalkan kepada Pemodal. Jenis Reksa Dana ini merupakan bentuk inovasi dari jenis-jenis Reksa Dana yang sudah ada sebelumnya yang diharapkan mampu memberikanreturn (hasil) secara optimal.
Jenis Reksa Dana pertama adalah Reksa Dana tertutup berbadan hukum perseroan terbatas (PT). Dengan adanya investasi berbentuk Reksa Dana, Pemodal kecil dapat secara bersama-sama memiliki efek-efek yang ada dalam portofolio Reksa Dana. Sebelum ada Reksa Dana, Pemodal ritel tidak dapat memiliki bermacam saham (apa lagi Obligasi) untuk diversifikasi resiko. Di Indonesia pernah ada Reksa Dana tertutup, tetapi saat ini telah dilikuidasi karena Pemodal lebih tertarik pada jenis Reksa Dana terbuka yang muncul berikutnya.
Jenis Reksa Dana kedua adalah Reksa Dana terbuka berbentuk KIK (Kontrak Investasi Kolektif). Reksa Dana terbuka disebut demikian karena Pemodal dapat leluasa untuk masuk atau keluar setiap saat. Kalau pada jenis Reksa Dana tertutup, badan hukum Reksa Dana adalah berbentuk Perseroan Terbatas (PT), maka bentuk hukum Reksa Dana terbuka adalah Kontrak Investasi Kolektif (KIK). Reksa Dana terbuka adalah jenis Reksa Dana terbesar (sampai saat ini) dan sangat popular di mata pemodal.
Jenis Reksa Dana ketiga adalah Reksa Dana Bursa (Exchange Traded Fund). Reksa Dana Bursa (ETF) ini mirip dengan Reksa Dana terbuka lainnya, tetapi Unit Penyertaan Reksa Dana Bursa diperdagangkan di Bursa seperti saham-saham biasa. Kalau pada Reksa Dana biasa Nilai Aktiva Bersih Unit Penyertaan hanya dihitung satu kali sehari, maka pada Reksa Dana Bursa, Nilai Aktiva Bersih dihitung secara berkala oleh Dealer Partisipan (disebut indikasi Nilai Aktiva Bersih atau iNAB). Dengan demikian, Unit Penyertaan Reksa Dana Bursa dapat diperdagangkan terus menerus selama jam perdagangan Bursa.
Jenis Reksa Dana berikutnya adalah Smart Beta ETF. Smart Beta ETF dari namanya bisa diduga adalah Exchange Traded Fund. Di Indonesia jenis Reksa Dana ini masih relatif baru. Bahkan di Amerika Serikat, Reksa Dana Smart Beta ETF ini juga masih baru sekali. Tetapi kita perlu membahas Smart Beta ETF karena Reksa Dana ini sudah diperkenalkan di Indonesia dan perkembangannya sangat pesat di Amerika Serikat.
Lalu apakah yang dimaksud dengan Smart Beta ETF? Dari ilmu finansial dasar, kita tahu bahwa istilah Beta merujuk pada korelasi return (hasil) antara suatu saham dengan return pasar. Return pasar adalah satu koma nol. Return saham yang berada di bawah return pasar, betanya di bawah satu. Sebaliknya, jika return suatu saham lebih besar dari return pasar, maka dikatakan bahwa beta saham tersebut di atas satu.
Smart Beta ETF berupaya untuk menggabungkan manfaat investasi aktif dan investasi pasif, yaitu berupaya untuk mendapatkan return (hasil) yang lebih baik daripada return pasar, tetapi dengan biaya yang mendekati atau sama dengan biaya indeksasi.
Walaupun belum terlalu populer buat Pemodal ritel, Smart Beta ETF telah cukup banyak menarik minat Pemodal institusi (di Amerika Serikat). Tujuan Smart Beta ETF adalah mencari saham-saham yang memiliki profil resiko-hasil yang lebih baik dari pada profil resiko-return pasar (yaitu, saham-saham yang memiliki beta lebih besar dari satu) tetapi dengan biaya yang rendah seperti melakukan Indeksasi.
Cara paling sederhana adalah menyusun Indeks dengan cara pembobotan yang berbeda dari pada pembobotan berdasarkan kapitalisasi pasar yang telah umum dilakukan (banyak Pemodal menganggap bahwa pembobotan berdasarkan kapitalisasi pasar bukanlah cara pembobotan terbaik yang dapat dilakukan). Misalnya, saham-saham dalam indeks dapat disusun secara 'equal weighting', yaitu saham perusahaan yang besar bobotnya dianggap sama dengan saham perusahaan kecil.
Dengan cara ini, pengaruh jatuhnya harga dari suatu saham tidaklah sebesar jika pembobotan saham dilakukan secara kapitalisasi pasar. Atau bobot saham-saham dapat disusun secara 'fundamental weighting' berdasarkan faktor-faktor fundamental seperti dividen, earnings, revenue, arus kas dan lain lain.
Perlu diperhatikan di sini bahwa, sama seperti strategi investasi aktif pada umumnya, tidak semua Smart Beta ETF akan menghasilkan return yang lebih baik daripada return pasar. Atau menghasilkan return yang secara konsisten lebih baik dari return pasar dari tahun ke tahun.
Strategi yang dipakai Smart Beta ETFseperti volatilitas yang rendah, beta yang tinggi, atau momentum, kadang-kadang hanya berhasil pada situasi pasar tertentu saja (dan market timing bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan oleh Pemodal atau bahkan siapa pun).
Terakhir, menyangkut istilah Smart Beta ETF. Kalau produk ETF ini disebut Smart, apakah ETF yang lain itu 'not smart' (tidak cerdas) atau bahkan 'dumb' (dungu)? Ini hanyalah nama yang dipilih oleh Manajer Investasi dan bukan jaminan bahwa mereka yang memiliki nama yang cerdas (smart) akan menghasilkan return yang cerdas (smart) pula.
Oleh: Fredy Sumendap, CFA

Sumber : IPOT

powered by: IPOTNEWS.COM