Tarik-ulur Stimulus Hantui Sentimen, Wall Street Terbenam di Zona Merah
Tuesday, October 20, 2020       04:46 WIB

Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street merosot, Senin, menjelang tenggat waktu yang ditetapkan Ketua DPR Amerika, Nancy Pelosi, untuk mencapai kesepakatan tentang stimulus virus korona sebelum pemilu, sementara kasus Covid-19 meningkat.
Dow Jones Industrial Average ditutup menyusut 410,89 atau 1,44%, menjadi 28.195,42, demikian laporan   CNBC   dan  AFP,  di New York, Senin (19/10) atau Selasa (20/10) pagi WIB. Di awal sesi, indeks 30 saham unggulan itu menguat lebih dari 100 poin.
Sementara itu, indeks berbasis luas S&P 500 merosot 1,63% atau 56,89 poin menjadi 3.426,92 sedangkan Nasdaq Composite Index melorot 1,65% atau 192,67 poin menjadi 11.478,88.
Dow dan S&P 500 sama-sama mengalami hari terburuk sejak 23 September. Nasdaq membukukan kerugian satu hari terbesar sejak 2 Oktober. Wall Street juga mencatat penurunan lima hari berturut-turut yang pertama sejak Agustus 2019.
Saham Big Tech berkontribusi terhadap penurunan tersebut. Alphabet, Microsoft, Apple dan Amazon semuanya anjlok setidaknya 2%. Facebook merosot 1,7%. Energi dan teknologi adalah sektor S&P 500 dengan kinerja terburuk, masing-masing jeblok 2,1% dan 1,9%.
Raksasa migas ConocoPhillips turun 3,2 persen setelah sebelum pembukaan mengumumkan akan mengakuisisi saingannya, Concho Resources, dalam transaksi senilai USD9,7 miliar. Saham Concho kehilangan 2,8 persen.
IBM ditutup 0,3 persen lebih rendah, dan setelah penutupan melaporkan gagal memenuhi ekspektasi laba triwulanan ketiga berturut-turut.
Pelosi memberikan waktu 48 jam kepada pemerintahan Donald Trump untuk mencapai kesepakatan bantuan sebelum pemilu 3 November. Pelosi dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin juga dijadwalkan untuk berbicara Senin petang waktu setempat.
Namun,  The Washington Post  melaporkan, mengutip narasumber, bahwa kesepakatan antara Pelosi dan pemerintah "kedengarannya tidak dalam waktu dekat". Berita tersebut langsung mendorong indeks utama ke posisi terendah sesi Senin.
Presiden Donald Trump, yang tertinggal jauh di belakang penantangnya Joe Biden dalam jajak pendapat, mengusulkan paket bantuan senilai USD1,8 triliun dan mengindikasikan akan menaikkannya, sementara Demokrat menyetujui paket USD2,2 triliun.
Namun, Pemimpin Mayoritas Senat Mitch McConnell berulang kali mengisyaratkan tidak akan mendukung paket yang besar.
"Kita akan terus menjadi sangat sensitif terhadap perundingan apa pun yang berkaitan dengan stimulus," kata Scott Wren, analis Wells Fargo Investment Institute. "Cara kita reli [dari posisi terendah Maret] adalah dengan memperkirakan berita siklikal yang lebih baik dalam hal vaksin, Federal Reserve menjadi sangat longgar dan stimulus [fiskal]."
"Saya pikir ketiganya sangat penting dan kita memiliki satu kaki yang ditarik atau, setidaknya, goyah," papar Wren.
Partai Demokrat dan Republik berupaya selama berminggu-minggu untuk menyepakati paket bantuan yang baru. Tetapi perbedaan mengenai berapa banyak stimulus yang dibutuhkan dan seberapa luas RUU tersebut telah mempersulit negosiasi.
Tom Block, analis kebijakan Washington di Fundstrat Global Advisors, berpendapat ada kemungkinan kesepakatan antara pemerintahan Trump dan Pelosi dapat dicapai.
"Kedua belah pihak tampaknya memiliki insentif untuk menyelesaikan kesepakatan," kata Block. Dia juga menambahkan "dinamika  lame duck  bisa menjadi racun jika Trump kalah, atau Partai Republik kehilangan kendali atas Senat. Tindakan yang lebih aman tampaknya mengesahkan RUU sekarang, dan jika ada gelombang biru bakal lebih banyak stimulus di awal 2021."
Kasus virus korona global mencapai 40 juta, Senin, yang juga meredam sentimen pasar.
Data Universitas Johns Hopkins menunjukkan kasus Covid-19 meningkat 5% atau lebih di 38 negara bagian Amerika, Jumat. Secara nasional, rata-rata kasus harian melonjak lebih dari 16% (pada basis  week-over-week ) menjadi hampir 55.000. Infeksi virus korona di Eropa meningkat sekitar 97.000 per hari, naik 44% dari pekan sebelumnya.
Saham keluar dari aksi perdagangan berombak selama seminggu. S&P 500 dan Dow turun selama tiga hari berturut-turut pekan lalu sebelum ditutup sedikit lebih tinggi pada sesi Jumat.
Menurut Sherif Hamid, analis Jefferies, banyak konflik yang dikhawatirkan investor dalam beberapa pekan terakhir masih membayangi pasar. "Pemilu AS sudah dekat, stimulus fiskal tetap menjadi katalis potensial jangka pendek utama, dan perkembangan virus tetap penting untuk prospek jangka panjang," kata dia.
"Banyak yang sangat mungkin terjadi dalam beberapa pekan ke depan, dan gambaran makro yang lebih luas dengan demikian dapat berubah tergantung pada perkembangan di semua bidang tersebut." (ef)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM