Tembaga London Melonjak, Terkatrol Depresiasi Dolar dan Penurunan Stok
Tuesday, May 24, 2022       04:04 WIB

Ipotnews - Harga tembaga melesat ke level tertinggi dalam lebih dari dua pekan, Senin, didukung penurunan stok dan depresiasi dolar AS, meski kenaikannya dibatasi oleh kerusakan permintaan dari penguncian virus korona di konsumen utama China.
Harga patokan tembaga di London Metal Exchange (LME) melonjak 1,3% menjadi USD9.546 per ton pada pukul 23.02 WIB, demikian laporan  Reuters,  di London, Senin (23/5). Harga logam yang digunakan dalam industri kelistrikan dan konstruksi itu sebelumnya menyentuh USD9.558, level tertinggi sejak 5 Mei.
"Sejumlah trauma utama menjadi faktor dalam pasar logam, yang mulai tenang," kata analis Liberum, Tom Price, merujuk lonjakan permintaan setelah pencabutan penguncian, perang di Ukraina dan kenaikan suku bunga Amerika Serikat.
Bahkan jika China melonggarkan kontrol penguncian dan mencoba merangsang pertumbuhan, periode terkuat untuk permintaan logam - biasanya kuartal kedua - telah berlalu, tutur Price.
"Stimulus di China sekarang benar-benar sebuah cerita untuk tahun 2023."
Persediaan tembaga di gudang yang terdaftar di LME turun 3.525 ton menjadi 171.075 ton.
Waran yang dibatalkan - logam yang diperuntukkan bagi pengiriman - mencapai 46% dari total persediaan, menunjukkan bahwa lebih banyak logam akan keluar dari gudang LME dalam beberapa hari mendatang.
Dengan satu perusahaan memegang waran dalam jumlah besar, ini memicu kekhawatiran tentang ketersediaan tembaga di pasar LME.
Depresiasi dolar AS membuat komoditas yang dihargakan dalam  greenback  lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya, yang dapat meningkatkan permintaan.
Stok aluminium dalam sistem LME berada pada titik terendah sejak akhir 2005, yakni 497.250 ton, sementara waran yang dibatalkan mencapai 60%.
Trader mengatakan sebagian besar aluminium ini akan menuju Eropa, di mana rekor harga listrik yang tinggi menyebabkan pengurangan produksi dan kekurangan pasokan.
Harga patokan aluminium naik 0,4% menjadi USD2.958 per ton, setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak 5 Mei di USD2.998.
Stok timbal berada di 38.850 ton, level terendah sejak 2007, mendongkrak logam tersebut. Terakhir, timbal melonjak 1,1% menjadi USD2.185 per ton, mundur dari tertinggi dua minggu di USD2.195.
Logam dasar lainnya, seng melambung 2,1% menjadi USD3.786 per ton, timah turun 0,2% menjadi USD34.595 dan nikel menyusut 1% menjadi USD27.700. (ef)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM