Tiga Alasan Utama Mengapa Perlu Menjadikan Edukasi Finansial sebagai Investasi Terbaik
Wednesday, May 11, 2022       18:01 WIB

Pada artikel sebelumnya tentang merencanakan keuangan pribadi, telah disebutkan bahwa dalam merencanakan keuangan kita selalu dihadapkan pada tiga pilihan: (1) menggunakan jasa perencana keuangan profesional, (2) bertanya kepada teman atau keluarga yang sukses mengelola keuangannya, atau (3) mengerjakan sendiri ( do it yourself ).
Menggunakan jasa perencana keuangan profesional tentu paling mudah, tetapi juga paling mahal karena harus membayar tenaga perencana keuangan yang bergelar CFP (Certified Financial Planner) atau CFA (Chartered Financial Analyst).
Kalau kita beruntung memiliki teman atau keluarga yang sukses secara ekonomi, kita mungkin dapat bertanya kiat-kiat suksesnya, termasuk dalam hal perencanaan keuangan.
Terakhir, kalau kita kita tidak mau mengeluarkan uang untuk membayar perencana keuangan (dan memang tidak perlu karena perencanaan keuangan memang dapat dikerjakan sendiri oleh setiap orang), dan kita tidak memiliki keluarga atau teman yang dapat ditanya tentang perencanaan keuangan ini, kita dapat memilih untuk melakukan perencanaan keuangan secara Do It Yourself (DIY).
Untuk dapat mengerjakan sendiri perencanaan keuangan itu secara DIY, tidaklah sulit, tetapi kita perlu memiliki pengetahuan keuangan yang memadai. Pada artikel kali ini kita akan membahas tiga alasan utama mengapa kita perlu menjadikan edukasi finansial sebagai investasi terbaik bagi diri kita.
1. Nasihat Keuangan Umumnya Sulit Dipahami oleh Orang Awam
Bagi pembaca yang berpendidikan di bawah sarjana strata satu (S1), atau bergelar sarjana tetapi bukan di bidang ekonomi, tentu saja memahami nasihat keuangan merupakan tantangan tersendiri. Orang awam bahkan sulit membedakan neraca ( balance sheet ) dengan laporan rugi-laba ( income statement ).
Apalagi masalah pajak penghasilan ( income tax ), pajak pertambahan nilai ( value added tax ), dan masalah hukum perkawinan ( marital law ) masih sangat asing bagi mereka.
Nasihat keuangan mungkin hal sederhana saja bagi advisor, tetapi karena sering dimunculkan sesuai istilah resminya dalam bahasa asing, menjadi sulit dimengerti oleh orang awam.
Misalnya istilah  passive portfolio management in exchange traded fund . Padahal, yang dimaksud dengan istilah itu adalah manajemen portofolio tanpa memberikan Manajer Investasi kewenangan untuk memilih saham atau obligasi dalam portofolio yang dikelola, seperti dalam reksadana bursa yang pasif.
Atau, sebagai bagian dari perencanaan keuangan yang dibuatnya, seorang penasihat keuangan (advisor) mungkin akan menganjurkan nasabahnya untuk melunasi utang-utangnya. Dimulai dari utang-utang jangka pendek yang tidak dijamin tapi berbunga tinggi, dengan alasan bahwa semua utang itu buruk dalam mencapai kebebasan finansial.
Tetapi, di lain pihak, ada pula advisor lain yang justru menganjurkan mengambil utang-utang, dengan alasan bahwa ada utang yang baik ( good debt ) untuk memberikan  leverage  dan membuat pemodal lebih cepat mencapai sasaran keuangan ( goal ) yang ingin dicapainya.
Nasihat mana yang harus dituruti pemodal? Mengapa untuk masalah yang sama (utang) bisa ada dua nasihat yang sangat bertolak belakang dari penasihat-penasihat keuangan yang berbeda?
Untuk dapat memahami nasihat keuangan yang diberikan, kita harus selalu meningkatkan kecerdasan finansial kita. Caranya adalah dengan meningkatkan edukasi finansial sehingga kita tidak awam terhadap jargon-jargon keuangan di sekitar kita, sehingga kita dapat mengambil keputusan keuangan yang tepat sesuai dengan kondisi keuangan kita.
2. Kebanyakan Nasihat Keuangan Mengandung Benturan Kepentingan
Pernahkah Anda menemukan seorang advisor yang kartu namanya mencantumkan bidang pekerjaannya sebagai ' financial advisor ' tetapi kemudian Anda tahu bahwa pekerjaan sesungguhnya adalah agen asuransi jiwa, atau agen penjual reksadana, atau mungkin dia adalah seorang perencana keuangan yang belum lulus ujian profesi CFP ?
Seorang agen asuransi jiwa yang profesional idealnya harus memiliki lisensi AAIJ (Ahli Asuransi Indonesia sektor Jiwa), atau berada di bawah bimbingan  team leader  yang berlisensi AAIJ .
Dahulu waktu penulis masih bekerja di satu perusahaan asuransi jiwa dan mengambil ujian AAIJ itu (di luar negeri namanya ujian FLMI ), ada 10 modul yang harus dilalui, di mana modul terakhir adalah membuat skripsi tentang asuransi jiwa.
Tanpa lisensi yang memadai, untuk memperoleh nasabah seorang agen asuransi hanya mengandalkan keahliannya membujuk nasabah atau bahkan menakut-nakuti nasabah yang tidak memiliki suransi jiwa, dan bukan menawarkan solusi atas masalah yang dihadapi nasabah.
Bahkan dengan lisensi yang ada, sebenarnya seorang agen asuransi bukanlah perencana keuangan, walaupun dalam kurikulum perencana keuangan (CFP) ada modul tentang asuransi jiwa.
Demikian juga dengan seorang finansial advisor yang merupakan agen penjual efek reksadana. Seorang finansial advisor yang telah lulus ujian agen penjual efek reksadana memiliki kualifikasi minimal untuk menjual efek reksadana (dari OJK), tetapi ia bukanlah seorang perencana keuangan walaupun dalam kurikulum perencanaan keuangan (CFP) ada modul yang khusus membahas tentang investasi.
Seorang finansial advisor yang bukan perencana keuangan, atau bahkan seorang perencana keuangan profesional, seringkali menghadapi benturan kepentingan, antara kepentingan nasabahnya atau kepentingan pribadi advisor/institusi yang diwakili oleh advisor itu. Perlu dicatat bahwa sejauh menyangkut masalah keuangan, satu-satunya pihak yang tidak memiliki benturan kepentingan adalah diri kita sendiri.
Sesungguhnya, seseorang yang masih tergantung kepada orang lain untuk membuat keputusan keuangan bagi dirinya, tidak peduli berapa pun banyaknya uang yang dimilikinya, bukanlah orang yang merdeka secara finansial.
Seorang pemodal besar bisa saja mendelegasikan keputusan keuangannya, untuk dilakukan oleh seorang perencana keuangan, tetapi pemodal ini tidak bisa mendelegasikan tanggung jawabnya atas keputusan keuangan yang diambil oleh orang lain tersebut.
Seorang pemodal tetap harus mengerti dan merasa nyaman dengan setiap keputusan keuangan yang diambil oleh perencana keuangan, karena pada akhirnya pemodal inilah yang akan bertanggung jawab atas setiap keputusan keuangan tersebut.
Untuk bisa mengambil keputusan keuangan yang tepat, dan tidak bergantung kepada orang lain, maka edukasi finansial adalah hal yang tidak dapat ditawar-tawar lagi.
Seorang advisor hanya akan memberi rekomendasi keuangan berdasarkan apa yang menguntungkan bagi dirinya atau institusi yang diwakilinya, tetapi seorang pemodal yang telah menabung edukasi finansial dalam dirinya akan selalu mengambil keputusan yang terbaik, bebas dari benturan kepentingan apapun.
3. Inteligensi Finansial Menentukan Masa Depan Keuangan Kita
Inteligensi finansial kita akan menentukan masa depan keuangan kita. Maka penting sekali untuk menjaga pertumbuhan kecerdasan finansial kita sehingga selalu sama atau lebih besar daripada pertumbuhan aset dalam portofolio kita. Kecerdasan finansial kita ibaratnya adalah batas atas dari masa depan keuangan kita.
Kita tidak dapat memiliki harta yang banyak tetapi kecerdasan finansial yang rendah. Hal yang paling berbahaya akan terjadi jika seseorang mengambil keputusan keuangan bernilai sepuluh milyar dengan kecerdasan finansial yang hanya bernilai seratus juta rupiah saja.
Saya mengambil contoh kesalahan finansial yang saya buat lebih dari dua puluh tahun lalu supaya menjadi pelajaran bagi kita semua. Waktu itu saya baru pertama kali membeli rumah. Saya bekerja sebagai manajer di satu perusahaan investasi asing dengan gaji di atas rata-rata, sehingga saya berani mengambil KPR (Kredit Pemilikan Rumah) berjangka waktu tujuh tahun dengan bunga kredit mengambang.
Namun apa yang terjadi kemudian, krisis moneter melanda Indonesia. Suku bunga kredit yang tidak  fixed  terbukti sangat merugikan nasabah. Dalam tiga bulan saja, bunga kredit yang semula hanya 18% p.a, naik menjadi 24% p.a., lalu 36% p.a., dan 50% p.a.
Saya juga tidak memiliki aset lainnya yang dapat dijual untuk melunasi utang saya. Mobil yang saya pakai adalah mobil kantor. Bahkan pekerjaan saya pada waktu itu, yang saya anggap cukup aman dan mudah mendapatkan pengganti jika saya terkena PHK, ternyata tidak aman sama sekali. Saya kena PHK dan semua lowongan pekerjaan di industri keuangan pada waktu itu (kecuali industri asuransi jiwa) mendadak tertutup.
Keputusan finansial saya dahulu adalah salah karena: (1). Mengambil kredit jangka menengah dengan suku bunga mengambang, (2). Tidak memiliki aset lain yang dapat diuangkan untuk melunasi kredit jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, dan (3). Tidak memiliki pekerjaan yang aman dari resiko PHK. Sehingga keputusan untuk mengambil kredit KPR pada waktu itu merupakan keputusan yang salah. Kesalahan semacam itu hanya dapat dihindarkan kalau saya memiliki edukasi finansial yang memadai pada saat itu.
 Oleh: Fredy Sumendap, CFA 

Sumber : IPS

powered by: IPOTNEWS.COM