Trump Isyaratkan Tunda Kesepakatan Dagang, Wall Street Terjerembab
Wednesday, December 04, 2019       04:48 WIB

Ipotnews - Saham Wall Street merosot, Selasa, setelah Presiden Donald Trump menyebutkan dia mungkin ingin menunda kesepakatan perdagangan dengan China sampai setelah pemilihan presiden November 2020.
Dow Jones Industrial Average anjlok 280,23 poin, atau 1,01% menjadi 27.502,81, demikian laporan   CNBC  , di New York, Selasa (3/12) atau Rabu (4/12) pagi WIB. Indeks  blue chips  itu terbebani kejatuhan saham Apple, Caterpillar dan Boeing yang rentan terhadap sentimen perdagangan.
Sementara itu, indeks berbasis luas S&P 500 turun 0,66% atau 20,67 poin menjadi 3.093,20 di tengah pelemahan saham  chip  seperti Nvidia, Micron dan Advanced Micro Devices, sedangkan Nasdaq Composite Index kehilangan sekitar 0,55% atau 47,34 poin untuk mengakhiri sesi di posisi 8.520,64.
Pada posisi terendah hari itu, Dow merosot 457,91 poin, atau 1,7%. S&P 500 turun sebanyak 1,7% sementara Nasdaq diperdagangkan lebih rendah sebanyak 1,6%.
Saham mencapai titik terendah setelah  Fox News  melaporkan Gedung Putih masih berencana untuk terus maju dengan tarif yang dijadwalkan pada 15 Desember untuk barang-barang China, terlepas dari upaya baru-baru ini dengan "gencatan" perdagangan "fase pertama". Pelemahan Selasa menambah penurunan tajam dari sesi sebelumnya dan menyebabkan kejatuhan ketiga berturut-turut untuk Dow.
"Dalam beberapa hal, saya menyukai gagasan menunggu sampai setelah pemilu untuk kesepakatan China, tetapi mereka ingin membuat kesepakatan sekarang dan kita akan melihat apakah kesepakatan itu benar terjadi," kata Trump kepada wartawan, Selasa.
Ketika ditanya apakah dia memiliki tenggat waktu kesepakatan, Trump menambahkan: "Saya tidak punya batas waktu, tidak...Dalam beberapa hal, saya pikir lebih baik menunggu sampai setelah pilpres jika Anda ingin mengetahui kebenarannya."
Beberapa saham perusahaan dengan eksposur penjualan luar negeri yang lebih tinggi dari rata-rata mengalami tekanan hebat: Caterpillar turun 2%, Intel anjlok 2,8% dan Apple kehilangan 1,8%. VanEck Vectors Semiconductor ETF, yang melacak kinerja produsen  chip  Amerika, turun 1,4%.
Presiden kemudian menambahkan bahwa kejatuhan Selasa merupakan " peanuts " dibandingkan seberapa banyak pasar sudah melonjak sejak dia terpilih dan pentingnya mencapai kesepakatan perdagangan yang menguntungkan dengan China. Meski menggambarkan pergerakan pasar saham Selasa, Trump mengatakan dia tidak memperhatikan kinerja ekuitas harian.
"Tujuan Presiden selalu untuk mendapatkan kesepakatan yang tepat secara independen. Jadi, tujuannya tidak berubah dan jika kita tidak memiliki kesepakatan, dia sangat senang untuk melanjutkan dengan tarif," kata Menteri Perdagangan Wilbur Ross, Selasa.
"Saya pikir juga penting bagi Presiden untuk menjelaskan bahwa dia tidak punya waktu untuk menyelesaikannya," kata Ross. "Karena kalau tidak, ada kecenderungan bagi pihak lain untuk mengatakan [Trump] membutuhkannya karena alasan politik sehingga kami akan memberikannya kesepakatan yang buruk.' Dia tidak akan melakukan permainan itu."
Dia memperkirakan perundingan tingkat staf dengan China akan terus dilanjutkan, tetapi tidak ada pembicaraan tingkat tinggi yang dijadwalkan.
Tidak ada kesepakatan "akan menjadi kejutan yang cukup besar. Pasar benar-benar terpukul jika ini terjadi. Tetapi itu benar-benar tergantung pada bagaimana kegagalan tersebut terjadi," kata Ethan Harris, Kepala Riset Ekonomi Global Bank of America Merrill Lynch.
Washington dan Beijing melakukan tawar-menawar atas kesepakatan perdagangan "fase pertama" selama beberapa minggu terakhir, upaya yang dilihat oleh banyak investor sebagai "gencatan" sampai dua ekonomi terbesar di dunia itu dapat menyepakati hubungan jangka panjang.
Kedua belah pihak memperkenalkan tarif impor bernilai miliaran dolar karena ketidaksepakatan meningkat selama setahun terakhir; tarif tambahan AS akan mulai berlaku pada 15 Desember. (ef)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM