Wall Street Ceria Merespons Risalah The Fed, S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Tertinggi
Thursday, July 08, 2021       05:18 WIB

Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street menghijau, Rabu, dengan S&P 500 dan Nasdaq mencatat rekor penutupan tertinggi setelah risalah dari pertemuan terakhir Federal Reserve mengindikasikan para pejabat mungkin belum siap untuk melakukan pengetatan kebijakan.
S&P 500 ditutup menguat 0,34% atau 14,59 poin ke level tertinggi sepanjang masa di 4.358,13, setelah indeks berbasis luas itu mengakhiri kenaikan beruntun tujuh hari di sesi sebelumnya, demikian laporan  Reuters  dan   CNBC ,  di New York, Rabu (7/7) atau Kamis (8/7) pagi WIB.
Dow Jones Industrial Average meningkat 104,42 poin atau 0,3% menjadi 34.681,79. Nasdaq Composite Index ditutup naik tipis 1,42 poin atau 0,01% menjadi 14.665,06 meski mencatat rekor  intraday  baru tak lama setelah pembukaan.
Menurut risalah pertemuan kebijakan bank sentral Amerika pada Juni, pejabat The Fed merasakan kemajuan substansial lebih lanjut pada pemulihan ekonomi "umumnya dipandang belum terpenuhi," tetapi sepakat bahwa mereka harus siap untuk bertindak jika inflasi atau risiko lain terwujud.
"Saya membaca ini sebagai kumpulan catatan  dovish  yang efektif hanya karena mereka tidak merasa sebagai kelompok bahwa mereka memiliki cukup kepastian tentang situasi tersebut untuk membuat perubahan," kata Brad McMillan, Chief Investment Officer Commonwealth Financial Network, di Waltham, Massachusetts.
Imbal hasil US Treasury bergerak lebih rendah setelah risalah The Fed tersebut, sementara saham sebagian besar menguat.
Risalah tersebut mencerminkan The Fed yang terpecah bergulat dengan risiko inflasi yang baru, tetapi pengangguran masih relatif tinggi.
Setelah pertemuan dan pernyataan bulan lalu, investor mulai mengantisipasi The Fed akan bergerak lebih cepat untuk melakukan pengetatan dari yang diperkirakan sebelumnya.
Wall Street mengkhawatirkan inflasi, dengan investor bergerak di antara saham  value  terkait ekonomi dan saham  growth  dalam beberapa sesi terakhir.
Saham  growth  dan  value  menguat pada sesi Rabu, sementara industri dan material memimpin kenaikan sektor S&P 500.
"Seperti yang terjadi selama beberapa waktu, arah imbal hasil obligasi dan saham teknologi telah bergabung," Jim Paulsen, Chief Investment Strategist di Leuthold Group. "Pedagang akan mengawasi saat indeks teknologi S&P 500 bergerak lebih dekat ke harga relatif tingginya yang ditetapkan September lalu. Penembusan di atas level itu tentu akan memperkuat siklus kepemimpinan berkelanjutan bagi teknologi."
Regulator pasar China mendenda sejumlah perusahaan internet, termasuk Didi Global, Tencent dan Alibaba, karena gagal melaporkan kesepakatan merger dan akuisisi sebelumnya untuk disetujui.
Saham Didi yang tercatat di bursa Wall Street anjlok 4,6%, menambah kejatuhan hampir 20% pada sesi Selasa.
Saham energi berada di zona merah karena penurunan harga minyak. Minyak mentah WTI sempat menyentuh level tertinggi enam tahun, Selasa, sebelum mundur. Minyak mentah turun lagi pada sesi Rabu. Occidental Petroleum merosot hampir 3,4% dan APA Corp serta Pioneer Natural Resources melorot sekitar 2,3%.
Saham perbankan termasuk Goldman Sachs dan Bank of America melanjutkan penurunan pada Rabu, karena imbal hasil obligasi jangka panjang merosot lebih jauh, merusak prospek profitabilitas industri tersebut. (ef)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM